AKU

  •  

    November 2009
    M T W T F S S
    « Oct    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • Blog Stats

    • 117,452 hits
  • Top Posts

  • a

  • Spam Blocked

Baca komik koq dilarang? (Mengubah pola pikir kita)

Posted by juliach on October 23, 2009

Setelah sekian bulan bergumul dengan Facebook hingga blogku tersingkirkan, aku merasa geli dan merasa aneh. Aneh bukan main … entalah apakah kalian yang di Indonesia sudah berubah banyak … ataukah akunya yang berubah banyak …

Yang aku banyak lihat di situ : mendapatkan gelar “Master” itu menjadi standar yang baru untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Makanya, rata-rata orang tua mendorong-dorong anak-anak mereka untuk belajar-belajar dan belajar terus lebih giat lagi. Sayang sekali, mereka lupa siapa dirinya, anak-anaknya, bagaimana dirinya dan anak-anak mereka pula.

Jika aku melihat diriku sendiri, aku sudah malas belajar dengan duduk manis di kampus. Padahal aku ini termasuk orang yang jauh dari standar debil … tetapi aku sekarang lagi belajar kehidupan sehari-hari. Aku belajar membaca cerita berbahasa Perancis dengan intonasi yang benar seperti guru TK ataupun pembaca buku bacaan anak-anak di Perpustakaan Daerah di kotaku Le Creusot … mumpung mempunyai anak balita … Kapan lagi sih aku bisa mendengar dan membaca seperti mereka?

Aku belajar photography … yang sensenya lain dari orang-orang Indonesia kebanyakan … jadi sekarang aku sering mengunjungi museum/istana/gedung tua untuk belajar motret seperti gaya-gaya orang Eropa (=tidak ada orang yang mejeng). Aku lebih rajin mencoba beberapa foto art nude/telanjang , yang ternyata susahnya setengah mati. Objek foto telanjang dari semua bentuk orang dewasa … aku harus main cahaya, ekspresi, … belum lagi judulnya. Pekerjaan yang tidak gampang!

Aku juga belajar bergaul seperti orang-orang Eropa. Supaya tidak berkesan, kalo ketemu saat butuh saja.

Yang paling penting, aku belajar memasak. Ini kebutuhan utama: mengenai hidup dan mati. Aku pun belajar bergaya hidup seperti orang Eropa, mis: mencari bahan makanan yang hidup secara liar. Ini sangat mengasyikan, kami keluar berjalan-jalan bersama beberapa orang ke hutan atau ladang untuk memetik bahan makanan itu. Ya sedikit olah raga, sosialisasi, dan kita makan gratis. Bahan makanan gratis itu: seperti salade, buah-buahan (cherry, arbai, murbai), biji-bijian, jamur. Hati-hati yang aku sebut terakhir itu: memang harus belajar benar-benar, sebab ada jamur yang bisa dimakan, ada pula yang beracun dan ada pula yang mematikan. Yang ini perlu buku panduan atau pergi bersama orang yang mengetahui secara pasti. Atau hasil yg sudah kita petik, kita bawa ke apotik utk ditanyakan.

Untuk kembali ke kampus seperti yang diinginkan oleh kedua ortuku itu jauuuuhhhh sekali dengan kenyataan hidupku sekarang ini. Di samping banyak sekali pekerjaan-pekerjaan sepele menurut kalian, seperti menunggu Inès melakukan aktifitasnya setiap hari Rabu, seperti: piano, berenang … terlebih lagi photography … belum lagi jika dia libur sekolah: kami bertiga termasuk Vicky: memasak, bersih-bersih rumah, jalan … ataupun berkebun bersama. Ini semua, bagi kalian yang hidup di Jakarta, pekerjaan ini sudah dilimpahkan semuanya kepada asisten. Tentu saja tidak semua orang, tapi hampir semuanya.

Minggu lalu, setelah mengikuti club berenangnya, Inès menghampiriku dengan terjun masih dengan gaya “bebek buruk” nya menghampiriku … lalu memelukku, sambil menciumiku … Aku kaget sekali … hingga hampir tenggelam bersama di kolam renang yg dalamnya 2,5m. Setelah aku ajak ke pinggir, Inès pun masih menciumiku dengan tertawa gembira dan katanya bahwa aku ini termasuk ibu yang strick dan menjengkelkan, tetapi aku punya alasan yang kuat. Dia sangat gembira, sekarang ini dia sudah bisa berenang 25m + terjun ke air … Apakah liburan panjang tahun depan kami bisa menyelam bersama dan memotret, lanjutnya. Ok … tak menjadi masalah sayangku … tinggal kita hidup berhemat lagi. Sekarang ini finansial harus di setting ulang. Otak dan kemampuannya sudah ok_lah ya.

Sudah beberapa hari ini, Vicky memintaku mengambar “un rat” alias “tikus werok” yang berlari sangat cepat, … yang bercerita, … yang bikin ribut, … Nah tuh! Maka pekerjaanku sekarang ini mengambar “Tikus Werok” terus … berharap aja dia bosan … ternyata tidak … jika dia keceduk meja, dulu-dulu bisa langsung diam jika aku kasih minum “Coca…” sekarang tidak. Dia baru bisa diam cepppp … jika aku tawarkan utk mengambar “Tikus Werok keceduk meja” … hahahaha … imaginasiku sekarang sudah seperti anak balita saja.

Aku pikir jika hal-hal ini aku serahkan kepada asisten, apakah banyak asisten yang super kreatif? So pasti ada, tetapi tarifnya super mahal sekali. Aku pun harus bekerja keras untuk bisa menghidupi diriku dan membayar asisten itu … tentu saja asisten itu gajinya +/- 1 200€ brut/bulan dengan jam kerja 35jam/minggu … overtime ya harus ++. Tidak hanya itu saja … yang jelas aku kehilangan kesempatan emas utk mengetahui perkembangan anakku secara detail.

Yang membikin aku sangat geli sekali, ketika dia memintaku mengambar tikus werok. Ya … sudah aku tawarkan gambar bebek aja … kelinci saja …. atau apa saja yang lucu-lucu … tetapi Vicky malah berteriak dan ngambek … maunya tikus werok. Gara-gara itu, aku harus mencari-cari idea utk mengambar tikus yang lucu. Terkadang aku mengajak Si Vicky ke Perpustakaan … utk baca-baca … dan mengambar mencontek dari buku bacaan yang ada. Masih pula membeli buku-buku bacaan anak … dari yang harganya murah di NOZ (tapi barang itu sebenarnya mahal, karna sudah kadaluarsa …. hahahaha … buku ada yg kadaluarsa ya …), buku-buku bekas di pasar loak (karna buku-buku ini sudah tidak terbit lagi, atau barang koleksi seperti komik Tintin, Asteric, …) hingga yang harganya lumayan mahal buatku: buku keluaran baru … yang aku sendiri tertarik membelinya. Super lucu sih! Jadi harga 6€ untuk buku yang super kecil … hingga 30€ utk buku berukuran 25cmx25cm 20 halaman maksi …

Sejak kelas CP (=kleas 1 SD) Inès sudah diwajibkan membaca minim 1 komik dan 1 roman setiap tahunnya. Sebagai bukti bahwa dia telah membaca kedua buku itu, maka dia harus membuat ekspo dengan mengambar, theatre ataupun rangkuman. Aku sempat kaget waktu itu … hampir tidak setuju … tapi dia menerangkan bahwa ini wajib dibaca 2 halaman/hari … kalo bisa 2x sehari … kalo bisa ditirukan percakapannya … hahahaha … lucu juga caranya mengajar di sini ya? Semua ini mengubahku dan ternyata belajar dengan sesuatu yang menarik … lebih gampang diserap dan diterapkan.

Lain lagi dengan sepupuku di Indonesia, dia masih kelas 2 SMP. Sewaktu kecil, aku tahu anak ini termasuk gendut, super aktif dan super nakal. Nilainya di sekolah hanya pas-pasan untuk naik kelas, itu pun sudah dibantu dengan les tambahan. Sering kali kedua orang tuanya tobat setelah tak berkuasa/tak punya ide lagi untuk marah-marah, tapi tetep juga marah-marah setiap hari. Sekarang ini dia sudah agak kaleman … tapi hobinya yang masih bikin semua orang pusing kepala: membaca komik.

Suatu saat dia berteriak di statusnya di Fb: “Tolong kasih tahu kalo ada komik onlen!” … terbelalaklah aku saat membaca komentar-komentar yang ada … ada yang nyindir:”Apa dengan membaca komik terus, dia bisa berhasil jadi orang?”… ada yang minta untuk berhenti membaca komik … ada yang mengingatkan harus belajar … dan sedabreg lagi deh yang bikin aku tertawa ngakak.

Aku pikir betapa cupetnya pemikiran orang-orang ini. Apakah dengan mendapatkan raport bernilai baik rata-rata 7, seorang anak bisa sukses menjalankan kehidupannya kelak? Apakah dengan nilai raport yang hanya rata-rata 5, seorang anak akan mendapatkan kehidupan yang pas-pasan saja?

Di sini aku harus membuka mata hati dan mata pikiran kita semua: bahwa dalam kehidupan sehari-hari tidak semua orang yang mendapat nilai rata-rata 10 selalu sukses dan kaya raya. Tidak juga anak yang tadinya tidak bisa berhitung, bakal menjadi orang yang miskin.

Aku mempunyai teman (dari saudara bekas istrinya bekas suamiku). Namanya Jerome Bruandet. Dia tidak pernah mempunyai ijasah SMA, berhitung aja: 9X5 harus memakai kalkulator, tetapi dia tidak pernah hidup di kolong jembatan. Orangnnya sangat sederhana sekali, cool habis. Jika ke Indonesia, banyak orang yang mengkatagorikan turis kere. Tetapi kita semua salah terka. Dia itu pengarang/pembuat/konseptor buku cerita anak-anak dari 1th (6bulan) hingga 5th. Bukunya lucu-lucu, jangankan anak-anakku, aku pun suka membacanya dan bermain dengan buku-bukunya itu. Setiap kali ke Indonesia dia selalu menginap di hotel kecil dan tipik masyarkat Indonesia, kalo bisa menginap di rumah penduduk. Dari situ dia bisa kontak langsung dengan masyarakat kita. Ini menambah wawasannya utk mengarang cerita. Sekarang ini dia mempunyai pabrik percetakan di Thailand dan Cina. So dia sangat menikmati perjalanannya dengan duduk di klas bisnis jika di udara dan klas apa saja jika di darat. Bersamanya, kami sering balapan becak di Solo pada jam 4am, yang mana kami yang mancal becak, dan sopir becaknya yang numpang sambil berteriak-teriak.

Prestasinya yang lain: dia mendapat penghargaan I dalam festival international buku anak di Milano (kalo ngak salah tahun 1999), begitu juga di Franfurt … dia pernah mendapatkan kontrak utk membuat maket peugeot sport. Bukunya tersebar di penjuru dunia bahkan di Arab … sayang untuk Indonesia dia menghindar karna banyak pembajak.

Kembali membahas komik, tak ada salahnya anak-anak itu membaca komik. Sebaiknya kita temani dalam membaca komik. Jika bisa, setelah mengerjakan PR, dia berhak membaca beberapa halaman komik. Percakapan dalam komik bisa juga kita peragakan. Aku pikir ini sangat menarik sekali. Setelah membaca berulang kali sebuah komik, kita bisa membuat ringkasan dengan beberapa baris rangkaian kata-kata atau pula dengan melukis. Kita bisa juga membuat komik kita sendiri di buku tulis/gambar atau membuat film sederhana dgn menggerakan gambar komik itu.

Tentu saja semuanya yang di atas harus didampingi oleh orang tua. Hal ini anak-anak akan sangat senang sekali. Kita juga tidak perlu kawatir dengan masa depan anak-anak kita, karna banyak pekerjaan di masa depan yang sudah menunggu, seperti: penulis/pengarang/pelukis/konseptor buku, animator film kartun, …

Sudahkah kita semua meluangkan waktu untuk membaca komik/buku cerita bersama anak-anak kita?

Posted in Uncategorized | 15 Comments »

I’m an alonesome “Call Girl”

Posted by juliach on October 21, 2009

Hati-hati bila berhadapan denganku … karna aku tidak suka sama orang-orang penjilat pantat … pantat bos, president … apalagi pantatnya Tuhan … Dengan orang-orang semacam ini aku biasanya bicara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Aku tahu ini tidak diplomatik sekali. Apa boleh buat daripada aku muntah di mukanya … hahahaha … ini lebih parah!

Ada teman lama yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak bertemu. Dia terheran-heran ketika mengetahui bahwa aku mempunyai 2 orang anak yang sangat lucu dan imut-imut. Kenapa? Apa aku ini sangat jelek/buruknya sehingga ngak ada laki yang tergila-gila dgnku? Bukan begitu, tapi aku ini sangat eksplosif … boum … kayak bom aja deh.

Ah … dia tidak tahu kalo aku ini cantik dan seksi sekali. Dia tidak tahu jika aku ini pecinta yang sangat besar … hatiku sangat besar … segini … segini … segini … Aku rasa dia tak mau mendekapku karna dia ini takut jika tidak berseragam seperti yang lainnya. Dia takut diolok-olok oleh teman-temannya. Dia takut … dia takut … dia takut …

Ada teman … aku pikir banyak teman yang mengatakan kalo aku ini orang gila.

Aku tak menyangkal itu … memang aku ini orang gila. Orang waras kalo menggantikanku menjalani liku-liku kehidupanku sudah tidak lagi menjadi gila … tapi mati bunuh diri. Lebih baik disebut “orang gila” ya? Gila! Gila! Memang gila aku masih bisa berdiri dengan kakiku sendiri…Aku tahu tak ada orang yang rela meminjamkan kakiknya supaya aku dapat berdiri lagi …

Orang tidak memandangku karna aku tidak beride, berpakain, … berperilaku sama seperti yang lainnya. Mereka hanya mampu mengenali seseorang hanya dari pakaiannya saja …

Tetapi aku mampu mencintai semua orang bukan anjing yang hanya bisa menggonggong dan menggigit. Aku mampu memberikan hatiku Aku akan melakukan apa saja untuk orang-orang yang aku cintai … aku akan melakukan apa saja terhadap sesamaku manusia … bagi para kunyuk, babi, anjing … tolong jangan dekat-dekat aku! Aku tahu mereka akan berakhir di tungku api.

Mungkinkah aku bodoh? Haruskah aku belajar berhitung lagi? Apakah 1+1=2?

Tidak … tidak … aku sangat bahagia jika aku dapat membahagiakan seseorang … selayaknya seorang call girl yang sangat bahagia setelah menservis kliennya … tapi aku bukan pelacur karna aku tidak menerima sepeser pun. Bodohkah aku?

If you need me, just call on me and I’ll be there! If you arrive in Le Creusot, you just call on me and I’ll be in TGV station to pick you up. If you need a place to sleep, just call on me … I’ll arrange for you… I’ll make the best for you … I’ll make you smilling … I’ll make you happy …

Sayang beberapa hari satu-persatu orang pergi meninggalkanku … tak seorang pun berani memperjuangkanku … so I had to take a walk alone … and alone again … Oh … I’m a poor call girl … ups cow girl …

Malgré tous ça (karna itu semua)… I was very happy that I could stop in KFC Dijon to take a big box for my little lovers … I let them all the day in Le Creusot…

Posted in Uncategorized | 4 Comments »

Saling belajar & mengajar (mengubah opini bangsa)

Posted by juliach on October 8, 2009

Apa yang sangat khas di kalangan orang Indonesia?

- Jawab: Jenjang

Jenjang?

Yak betul sekali, jenjang sosial/ekonomi, jenjang karir, jenjang pendidikan, dan sebagainya dan sebagainya. Pokoknya semua bertingkat … semakin tinggi tingkatan kita, semakin kita diperbolehkan bertepuk dada …”Oiyaaaa …Iyoooo … ” seperti Tarzan … ataupun “Kowarrrrrrr …” seperti si Kingkong di atas puncak Empire State Building.

Oleh sebab itu, sejak bayi kita … malah sejak janin … sudah diajak memasuki lingkaran kehidupan itu … iya dong. Coba kita tengok ke belakang dikit, saat kita (kaum perempuan) atau istri kita hamil, konsultasinya aja harus sama dokter yang top … gak sembarang dokter loh yang menanganinya … Kemudian, ketika anak udah berumur 3th, buru-buru kita memasukan anak ke sekolah … playgroup lah … dengan harapan anak kita nanti lebih matang, lebih bersosialisasi, … sampai-sampai ada yg membuatku geli: supaya pinter! Halah … belajar keplok aja harus keluar duit banyak … hahahahaha … kalo ibunya berkarier, kayaknya radi-radi dimaklumi walo ngak terlalu tepat … sebab anak Indonesia sudah didik sejak dini patuh terhadap orang tua … artinya orang tua mo apa, anak harus “inggih” alias “iya” saja. Tak boleh anak protes atau ngajari orang tua, kata orang tua “Itu anak Durhaka!”. Namun jika ibu ada di rumah … koq terlihat aneh!

Dan seterusnya … hingga jenjang itu bertambah tinggi … dan tinggi sekali … sebab akan bertambah lebih baik dan jauuuuhhhh lebih baik … sedemikianlah maka kita dapat berkoar-koar memberi: aba-aba, perintah, saran … semakin tinggi kita berdiri, semakin banyak orang mendengar kita … yang membuat kita susah mendengar orang lain …

Waktu aku masih remaja dan waktu itu tinggal dengan nenek, aku sering disuruh-suruh. Aku tidak bisa berpendapat apa-apa … atau susah untuk pergi bermain atau keluyuran yang dianggap itu tidak berguna sama sekali. Tugas yang paling tidak aku sukai adalah memindahkan nasi dari rice cooker ke cething (tempat nasi). Lalu aku usul,”Bagaimana jika nasi ini diaduk aja lalu ditaruh langsung ke atas meja?” Spontan deh si Eyang itu ngamuk. Sehingga aku mengurungkan niat baikku itu dan aku langsung tuang nasi dari kuali rice cooker ke cething, baru aku aduk-aduk nasi di cething … biar kelihatan seperti biasa. Pekerjaan ini aku lakukan tiap kali sampai suatu hari Eyangku tahu cara kerjaku yang sangat effective dan effisien itu … menurutku. Meledaklah amarah Eyangku … yang membuatku sangat eksplosif juga “Ya udah eyang kerjain aja sendiri … aku mah ngak sanggup lagi …” Aku pun pergi mengambil sepeda … dan pergi jauh … jauh …

Itu pula dengan metode mencuci piring dan baju … menurutnya piring/baju supaya bersih harus menggunakan banyak sabun dan air … padahal itu tidak benar sama sekali! Menurutku, harus dgn air panas + sabun + jeruk nipis (yang waktu itu banyak di kebun) dan dibilas dalam air bersih sekali aja.

Rupa-rupanya tak seorang pun mampu mendengar pendapatku yang sangat genial itu. Karna budaya bangsa Indonesia mengatakan bahwa “anak harus patuh dan mendengar kata-kata orang tua dan sebaliknya orang tua harus membimbing dan memberi nasehat ke pada anak-anaknya” TITIK.

Lain lagi di mana aku tinggal sekarang, bahwa anak berhak berbicara dan protes … makanya “Perancis itu negara nomer I dibidang protes dan mogok kerja di dunia” hahahaha … Mungkin untuk kebanyakan orang tua di Indonesia … kehidupan di sini agak aneh … tetapi menurutku tidak. Sekarang Inès, anakku sudah agak besar … yang sejak di TK aku banyak bertanya khususnya mengenai bahasa Perancis … yang lumayan susah. Akhir-akhir ini dia rupanya mengikuti hobby ibunya, keluyuran dan foto …yang membuatku sangat kaget sekali, dia itu mempunyai sense of art … yang membuatku sering berdiskusi bersama. Pastilah aku ngak juthek lagi mikirin ide-ide yang kadang menghilang begitu saja.

Di sini kita bisa liat bahwa anak-anak pun bisa memberi masukan dan menambah inspirasi kita. Tak salah jika kitapun belajar dari anak-anak, orang-orang yang berlevel rendah. Memang sih kalo sudah di atas itu susah membongkokan badan apalagi turun tangga 1 level saja … tetapi tak ada salahnya jika kita bisa … percayalah sangat mengasyikan sekali.

Siapa mau coba?

Posted in Catatan harian, Demokrasi, belajar, budaya, manusiawi | 15 Comments »

Hasil Ekspo Foto Digital Inès

Posted by juliach on August 10, 2009

Kursus fotografi Digital di Photo Club, 03-07 Agustus 2009.

Lokasi hunting foto : Parc des Combes

Hasil foto terbaik diekspo selesai kursus dan di Expo Foto Le Creusot bulan November 2009 nanti.

Bourdon

“Bourdon” (Lebah)

Sauterelle“Sautrelle” (Belalang)

Train en marche 2“Le Train entrain marché” (Kereta sedang melaju)

la plonge1“Plongé” (Terjun ke air)

Aku sangat bangga Inèsku sayang.

Posted in Uncategorized | 41 Comments »

Grojogan ora adoh soko pancuran

Posted by juliach on July 23, 2009

Peringatan:

- Ini merupakan pengalaman pribadiku saja dan tidak untuk pamer.

Hihihi … nah siapa nih pakar bahasa Jawa yg bisa ngartiin. Grojogan=air terjun/air yg jatuh, ora=tidak, adoh=jauh, soko=dari, pancuran=media (mungkin dari bambu/batu) utk dilalui air supaya keluar turun, ya sekarang bisa dibilang kran deh. “Grojogan ora adoh soko pancuran” kalo diterjemahkan saklek air yg mengalir turun tak jauh dari krannya. Sekarang ini anak mudah lebih gampang mengerti dengan istilah “Like father like son” yang intinya sama saja, yaitu sifat anak tak jauh dr ortunya.

Apa benar ya? Tak pada keluarga kalian, tetapi pada keluarga kecilku ini pasti lah ya. Contohnya saja Inès.

Di Perancis, liburan akhir tahun anak sekolah itu panjang sekali: 2 bulan. Sedangkan orang tua hanya mempunyai cuti musim panas hanya 3-4 minggu. Jika ada ortu yg mempunyai tabungan liburan, maka mereka pun bisa pergi berlibur 2 bulan penuh bersama anak-anaknya. Jika tidak, ya terpaksa anak-anak harus tinggal di rumah atau dititipkan ke keluarga lainnya/kakek-nenek/teman-teman.

Tapi jangan takut, di Perancis banyak kegiatan-kegiatan ekstra untuk anak-anak dari harga yang mahal hingga yang murah meriah. Biasanya setiap walikota mengadakan kegiatan ekstra yang bisa terjangkau untuk siapa saja. Rata-rata setiap tahunnya kegiatan itu hampir sama, kadang kala ada 1 atau 2 aktivitas baru. Harganyapun tidak terlalu mahal: 15 € – 35 €/aktivitas/minggu (5 haris). Aktifitas itu dari sport, seperti: berenang, sepak bola, rugby, kayak, panahan, … kesenian: menari, art plastik, musik, … aktifitas lainnya seperti : camping, fotografi, …

Sejak bulan april lalu, Inès sudah memilih kegiatannya untuk mengisi liburan, yaitu : fotografi. Aku pikir “not so bad” … lagi pula setiap saat dia selalu ingin coba kamera refleksku. Aku tak bisa melarangnya,”Awas nanti jatuh … itu kamera mahal sekali!” … aku pikir ini tidak adil baginya dan mungkin aku hanya bisa membunuh kreatifitasnya. Selain itu setiap kali dia panen uang saat ulang tahun atau natalan, aku selalu ajarkan utk tidak membeli sesuatu yg tidak penting seperti mainan consol Wii, nitendo, … tapi rajin menabung supaya bisa membeli sesuatu yg lebih penting. Jika masih kekurangan, aku berjanji untuk nombok.

Kali ini aku harus konsekwen terhadap ucapanku. Sayang pada pertengahan bulan mei, selebaran pun datang. Ketika kami baca bersama, kegiatan fotografi itu untuk anak-anak berumur 11-18th. Duh … betapa kecewanya dia sebab dia masih berumur 9th. Tak tahu mengapa dia langsung lari ke kamarnya. Tak seberapa lama … dia keluar dan bilang,”Mama aku punya ide …”

“Ok, aku mau dengar kau …” sahutku

“Begini, jika kau mau beli mobil, tapi uangmu tak cukup … pasti kamu pergi ke bank mencari kredit …”

“Yak, lalu apa hubungannya dengan aktivitasmu? Apa kau harus cari kredit ke bank? Ini masalah umur, mana bisa cari kredit umur?” aku jadi tertawa geli … teringat waktu kecil dulu, akupun punya pemikiran yang hampir sama … sayang sekali ortuku terlalu strik sehingga aku tak pernah mewujudkan semua ide yg ada di otak jarang menjadi kenyataan … kesel deh!

“Bukan begitu, aku kan sudah berumur 9th … 11th itu berarti 2th lagi … kamu kan negosiator terbaik, mama. Tolong kau bilang sama pengurusnya jika aku harus ambil kursus itu bulan juli/agustus tahun ini. Ini keadaan mendesak … nanti jika aku berumur 11th, aku tak perlu ambil kursus itu.”

Duh ngomongnya berbelit amat utk bilang bahwa dia minta pengecualian. Ok … ok ! Hingga tiba saatnya pendaftaran, aku harus datang pagi-pagi benar. Sebelum mereka mengelar formulir di meja-meja, aku sudah berdiri di depan pintu … begitu pintu dibuka aku langsung menjadi pendaftar I. Aku langsung kemukakan masalahnya dan alasan Inès untuk mengikuti kursus itu. Bapak itu juga ngak mudah dikibuli, dia berpikir aku hanya ingin menyingkirkan anakku sehingga aku bisa tenang-tenang di rumah. Untuk itu, dia menyuruhku mengajak Inès utk wawancara kecil.

Walah-walah … repot benar.

Langsung aku menelpon Inès utk siap-siap, jika aku datang nanti dia sudah standby di tempat parkir.

Begitu berhadapan dengan Inès, bapak itu menyuruhku menyingkir supaya dia bisa berbicara langsung dengan anakku tanpa intervesi ibunya. Tak lama kemudian dia memanggilku dan menyetujui kursus foto argentique & numerique (digital) untuk gadis kecilku ini. Si Inès meloncat kegirangan dan langsung memelukku.

Akhir-akhir ini Inès semakin repot dan sering melamun. Aku sudah was-was jika dia kepengin ketemu dengan bapaknya. Wah kalo gini bakal gawat … pasti polahnya macam-macam seperti 2th yg lalu. Ternyata … tidak! Dia hanya memikirkan bagaimana dia bisa memiliki kamera foto … refleks. Dia hitung terus duitnya … dan dia catat!

Paling parahnya, setelah pulang liburan awal juli lalu + setelah kita shopping utk perlengkapan (baju/sepatu) saat diskonan untuk musim panas tahun ini & depan, dia masih mengeklaim uangnya. Buju busyet dah!

Dia mulai berpikir lagi. Lalu dia memberiku proposal untuk menarik uang dari accountnya sebesar 100€ dan aku harus membeli kamera Nikon D90 seperti yang aku rencanakan … tapi kameraku yang sekarang menjadi hak miliknya. Hah! Aku bener-bener terkejut melihat cara berpikirnya.

Kemarin sore, berarti hari ketiga dia mengikuti kursus, dia memperlihatkan bebarapa hasil fotonya yang telah dia cetak sendiri. Foto bunga hitam putih. Bagus sekali! Aku sangat bangga padanya … tapi … dia mengajukan usulnya semula untuk membeli kamera fotoku dengan harga murah meriah. Ok … aku pun tak mau kalah … bukannya aku tak mau menjualnya (lagian uang di tabungannya sebagian besar dari aku juga). Tapi dia masih agak slebor. Maka aku minta dia untuk mengatur kamarnya dulu.

Selesai mengerjakan tugasnya, aku mengajaknya bicara … tentu saja dia tak perlu membeli kamera dan pasti aku bakal meminjaminya. Rencana membeli kamera dan lensa lagi itu perlu sekali. Sewaktu-waktu salah satu kamera macet, kita masih punya kamera cadangan. Tentu saja, kamera argentique masih berguna pula, sehingga kita perlu merawatnya dengan baik-baik. Selain itu jika dia bisa memiliki kamera foto sendiri, sedangkan adiknya tidak, maka akan terjadi kecemburuan di suatu saat.

Jadi semua di rumahku, akulah pemiliknya. Semua anggota keluarga berhak meminjam dan menggunakannya. Mereka wajib merawatnya seperti miliknya sendiri. Share atau berbagilah.

Kesimpulan dari cerita ini, ternyata Inès merupakan refleks dari diriku: bagaimana dia mempunyai ide, cara mendapatkannya … pokoknya hampir semua cara berpikirnya bagaikan copy-paste ibunya. Bedanya aku dulu ngak seberuntung si Inès. Untuk belajar fotografi aja aku harus menunggu sampai aku bekerja dan mendapat uang. Sekarang aku biarkan saja dia belajar fotografi … mungkin kelak dia bisa mencari pendapatan (job tetap/sampingan) dari fotografi. Paling tidak yah buat sekedar hobi … dengan foto kita bisa mempunyai kenangan manis.

20090716_624

Foto ini hasil jepretan Inès. Lokasi: Volendam, Holland, liburan musim panas 2009. Bikin surprise aku … hiks … dia bakalan jadi saingan beratku!

Posted in Bekerja, Catatan harian, Pendidikan, belajar, foto, psykologi | 20 Comments »

What is “Mahal is MAHAL”?

Posted by juliach on June 26, 2009

Mahal? Expensive? Chère? itu semua satu kata yang artinya larang (bhs Jawa) alias mahal alias sesuatu hal yang tidak dapat kita penuhi. Jangan dicampur adukin sama “Taj Mahal” yé!

Terkadang dengan berguman “mahal” merupakan suatu solusi bahwa kita tidak bisa mendapatkannya … terkadang juga membuat seseorang kecewa hingga putus asa.

Contoh:

Seorang anak kepengen belajar main piano. Melihat harga jual piano di toko, maka si ibu berguman “MAHAL” , sehingga anak itu kecewa dan membatalkan niatnya. Padahal niatnya waktu itu sangat mengebu-ngebu.

Bisa jadi dengan kata “MAHAL” membuat cambuk bagi kita untuk memperolehnya. Read the rest of this entry »

Posted in Bekerja, Catatan harian, Curhat, Obrolan, Pendidikan, Sosial, Survive/bertahan untuk hidup, belajar, budaya, management rumah tangga, serba-serbi, tradisi | 28 Comments »

Berlibur? Mau apa? Ke mana?

Posted by juliach on June 23, 2009

“Tulisan ini sangat panjang sekali.

20090504_294Mencari bunga di hutan merupakan salah satu aktivitas saat liburan yang murah, meriah dan sehat

Cihui liburan sudah tiba! Tapi mau ngapain ya? Mau ke mana ya? Ujung-ujungnya: “tak tahu lah…karna…bla…bla…bla …”

Yeah itu lah kalau liburan tidak pernah dihiraukan. Bukannya hari libur itu sangat didambakan oleh anak-anak? Jangankan anak-anak, aku aja yang sudah setua ini berharap banget hari-hari cepat berlalu … dan tibalah hari libur. Oleh sebab itu sudah aku warnai di kalender semua hari libur anak sekolah. Di Perancis liburan sekolah sudah ditentukan oleh Mentri Pendidikan Nasional, jadi hari libur anak sekolah sudah fix. Semua sekolah tutup bersamaan menurut zone/areanya: A, B atau C. Ini biar tempat berlibur dan jalan rayanya tidak sesak padat . Hanya saja liburan besar musim panas liburannya bebarengan.

Kesuksesan dalam pelaksanaan aktivitas liburan itu hanyalah di perencanaan saja. Aku pikir sama pentingnya seperti kita memilih sekolah anak ataupun kegiatan ekstra sekolahnya.

Mahalkah liburan itu?

Ini semua tergantung dengan kantong kita. Tapi ingat sukses berlibur bukan hanya bagi mereka yang berkantong tebal. Sukses berlibur sama dengan tercapainya tujuan dari perencanaan kita dan kebahagian yang terwujud dari liburan tersebut. Read the rest of this entry »

Posted in Adventure, Bekerja, Catatan harian, Demokrasi, Obrolan, Pendidikan, Sosial, Survive/bertahan untuk hidup, belajar, budaya, ekonomi, liburan, management rumah tangga, manusiawi, pariwisata, psykologi, sekolah, serba-serbi, tradisi | 16 Comments »

Makanya jangan gangguin anakku!!!

Posted by juliach on June 13, 2009

Kali ini yang diajak pergi ke rumah nenek: Si Nif-nif … sesampainya di sana, seperti biasa Vicky main lempar aja boneka kesangannya entah si Nif-nif atau Croq-Croq. Lalu langsung dia nangkring di kursi makan dan menyantap hidangan nenek.

Selesai santap siang dan minum kopi, Vicky mengisap jari sambil memungut bonekanya … tiba-tiba dia berteriak,”Maman …serpent!!!” (Mama… ular!!!).

“Maman … allez vite photo serpent!” (Maman … ayo cepat photo ular!) dia berteriak berkali-kali, menghampiriku serta menarik tanganku …

Hueh ada ular di appartement … tentu saja aku mendekatinya … ternyata bukan ular tapi ulat kecil sekali …

“Allez vite photo serpent! … Moi peur de serpent …” (Ayo cepat foto ular … aku takut sama ular) katanya lagi sambil sembunyi dibelakangku dan mendorong pantatku. Lucu amat sih … ini anak! Bukannya disuruh pukul ular tapi suruh motret.

“Iya … tunggu mami ambil kamera dulu. Itu bukan ular tapi ulat. Walaupun begitu … jangan kau pegang … nanti gatal…”

Ines menyangkal,”Elle n’a pas des poils … Maman!” (Dia ngak punya bulu …mama)

“Heuh … qui dit ça? Attends … tu va voir!” (heuh … siapa bilang begitu? Tunggu … kau akan lihat!)

20090601_7

20090601_14

“Ah …oui…tu as raison, maman. Elle a pleins de petits poils!” (Ah iya … kau bener mama. Dia penuh bulu kecil-kecil)

“Ceci … elle est comme une sainte!” (Yang ini ulatnya kayak santo)

20090601_24

Yang ini kayak kereta api yang tiba di stasiun.

20090601_51“Wow… yang ini sungguh indah sekali! Mama jika kau pengen pinggangmu ramping, taruh aja 2 ulat di pinggang kiri-kananmu …” celoteh Ines … dia teringat iklan XXS pelangsing dan pengecil perut di télévision. Ah bener juga ide si Inès.

20090601_72

Kalo yang ini aku sebut “Ulat Express” kesannya dia melaju secepat TGV Paris-Lyon.

20090601_55

Siluet ulat yang lagi bekerja keras ngrikiti daun.

20090601_77“Coba Inès … tolong pegang daun ini dan jangan bernafas” setelah beberapa jepretan,”Hei … c’est comme l’automne!” (hei … seperti musim gugur!)

20090601_83Liriklah aku!

Capek dah mataku ngincer-ngincer lobang kamera yang kecil … lagian saking kecilnya ulet bulu … & susahnya mengambil sudut yang bagus… & si ulet lambat banget di suruh eiksyennya…

Kali yang jadi ulet juga kapok! Kali nyesel juga, gara-gara nempel di boneka Vicky, maka dia terpaksa harus jadi model foto sama maknya Vicky.

Posted in Obrolan, belajar, foto, joke, lelucon, telanjang | 26 Comments »

Berlibur? Pentingkah?

Posted by juliach on June 11, 2009

Hei … liburan sudah dekat! Pasti banyak yang lagi bingung mikirin liburan anak-anak. Atau “don’t care” soalnya waktu kecil liburan ya libur aja di rumah.

Kalo aku termasuk golongan yang pertama: yang sibuk mikirin liburan anak-anak dan tentu saja liburan bagi diri sendiri. Alasannya:

-Mengganti suasana

Aku pasti ingin keluar dari rumah karna selama musim dingin sudah hibernasi alias dekem di rumah terus jika tidak ada yang perlu dikerjakan di luar. Aku tak mau juga anakku bosan tinggal di rumah terus. Hati-hati liburan di Eropa tidak seperti di Indonesia. Di sini liburan sangat panjang sekali: 2 bulan penuh.

- Mengakrabkan hubungan antar aggota keluarga

Berapa jam sehari kita bisa bertemu anak-anak? Walaupun aku bukan ibu yang bekerja, hanya bertemu dengan Ines, anakku 6 jam sehari. 6 jam ini bukan sepenuhnya untuk dia, masih disambi kiri-kanan loh. Apalagi sejak aku mengerjakan aktifitas sosial maupun pribadi, waktu untuk Vicky pun mulai berkurang.

Oleh sebab itu liburan itu sangat penting. Di mana kita bisa komunikasi dengan anak, tanpa ada gangguan telpon yg berdering, teman yang ikut nimbrung …

- Melatih anak lebih mandiri

Sekarang Inès sudah menyiapkan barang-barangnya sendiri jika kami mo bepergian. Walaupun masih berumur 2th4bln, Vicky sudah membawa tas perbekalannya masuk ke mobil. Oups … semuanya harus bekerja sama.

Untuk liburan aku memang sudah menyisihkan budget khusus setiap bulan, plus setiap tahun aku mendapat dari pemerintah cek liburan.

- Menambah ilmu dan pengalaman

Jangan beranggapan berlibur itu hanya enak-enak saja dan tidur-tiduran aja di hotel! Kalo mau tidur … ya lebih baik tinggal di rumah aja. Tak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk tidur.

Biasanya aku memplanning paling tidak 1x kunjungan ke museum, mengelilingi kota yang aku kunjungi bisa dengan bersepeda atau berjalan kaki+transport umum, mengunjungi tempat-tempat yang menarik di kota itu, seperti Aquarium di Barcelona, pabrik permen traditional di Pesenas, mengunjungi park naturel/cagar alam, … dan tidak lupa mencicipi makanan lokal di tempat itu. Ya tentu saja … harus makan di restoran/café lokal. Ngak bakalan aku minum kopi di Cafe Starbuck di Napoli atau di Jakarta atau makan pizza di Senegal.

- Menurunkan bakat

Karna bakatku keluyuran, maka anak-anakku juga harus memiliki bakat yang sama. Pokonya aku tidak mau pada suatu saat anakku menelponku,” Mama, aku tidak tahu bagaimana harus pergi ke Toulous dari Bordeaux…”

Sangat bahagia rasanya jika anakku nanti membuat suatu photo yang sangat indah sekali dengan sepucuk surat,” Aku harus buru-buru ke luar dari hutan, karna aku teringat padamu, Maman. Kemarin aku motret elang, sehingga hari ini aku harus kirim foto itu untukmu!”

- Demokrasi

Sehari-hari karna rutinitas dan wajib sekolah, sering anak-anak melakukan hampir semua kegiatan dengan “WAJIB”. Lain halnya saat liburan, semua kegiatan biasanya direncanakan bersama

- Rileks

Bagiku rutinitas sangat menyebalkan. Aku bukan termasuk orang yang bisa dengan mudah mengikutinya. Bisa dibayangkan dengan anak-anakku. Mungkin bagi mereka, hal ini sangat menyebalkan sekali: bangun tidur, persiapan, pergi ke sekolah, makan siang, kembali ke sekolah, sore hari persiapan buat esok hari, makan malam, persiapan utk tidur, tidur dan esok masih sama … plus harus buru-buru …

Semua aktifitas selama liburan sudah aku rencanakan dengan matang. Tetapi pelaksanaannya tetap dengan tenang dan rileks. Misalnya: hari ini kita harus mengunjungi reserve naturel, maka kita harus berangkat agak pagi sekitar jam 5-6 pagi dan keesokan harinya kegiatan bisa dimulai jam 10-11 pagi. Jika hari ini harus banyak jalan kaki, maka keesokan harinya kita hanya tiduran di pantai laut/danau.

- dan masih banyak lagi manfaat liburan

Bagai mana dengan anda?

Posted in Keluarga, Obrolan, Pendidikan, Sosial, tradisi | 25 Comments »

Kalo aku bisa terbang

Posted by juliach on June 6, 2009

20090531_147

Sewaktu aku kecil, aku sering berangan-angan. Berkhayal yang aneh-aneh, apalagi kalo sedang malas belajar, atau disuruh ini-itu sama mami. Betapa sengsaranya aku jadi anak waktu itu. Setiap hari aku harus bangun pagi-pagi benar, harus mandi dengan air dingin …brrrrrr…, mata masih mau merem lagi … kupingku mau budeg gara-gara Mami berteriak-teriak “Ayo makan cepat-cepat…” … mana perutku sering ngak mau diajak kompromi, rasa-rasanya yang ada di perutku mau lari keluar semua.

Pokoknya semua serba terburu-buru dan “harus” … tak bisa aku menolak dan menghindarinya … hingga aku berada di sekolah.

Ya, ampun kehidupan di kelas pun membuatku tak bahagia … semuanya tidak seperti yang aku inginkan … suatu pelajaran yang monoton …setiap hari mengerjakan itu-itu saja … yang aku tak mengerti manfaatnya hingga detik ini … yang membuatku hanya ingin tidur saja … yang semuanya sudah aku pernah dengar dan aku pun jauh lebih menguasai dari pada teman-temanku.

Itulah sebabnya aku segera mengerjakan semua tugasku supaya aku tidak kena hukum … lebih-lebih supaya aku bisa bisa cepat-cepat membawa pikiranku jauh melayang-layang ke awan. Maka aku selalu membayangkan diriku ingin jadi apa … yang dapat melakukan kegiatan yang menyenangkan … tak perlu sekolah … yang selalu bergembira …

Mulailah aku membayangkan diriku sebagai anak ayam. Ehm … sungguh lucu, berwarna kuning, berlarian ke sana ke mari, berloncat-loncat dan berciap-ciap. Duh betapa bahagianya aku sebagai anak ayam yang selalu riang gembira bermain sepanjang hari … tetapi … uuhhh aku tak mau makan cacing …mbaaaaa … menjijikan dan dia tak bersepatu … hidupku yang bahagia nanti tak berlangsung lama karna aku akan dipotong dan digoreng …eeekkk… Tak enak menjadi anak ayam!

Maka aku membayangkan diriku menjadi anak anjing … setelah aku pikir-pikir tak enak pula … sebab aku harus tidur di luar atau aku harus diikat setiap hari.

Tibalah suatu hari aku berpikiran menjadi burung elang, burung yang besar dan gagah perkasa. Sekali dua kali kepak, aku pun bisa meluncur jauh terbang tinggi menguasai dunia. Mataku yang sangat tajam … bisa menyambar targetku dengan sekali tikuk … lalu terbang tinggi dan tinggi sesuka hatiku…tinggi di awan yang biru … tinggi melebihi segumpal awan nan putih …

20090531_16520090531_166

Sangat mempesona … sangat menakjubkan … tak henti-hentinya aku berimajinasi … tak pernah aku berhenti mengaguminya…. entahlah apa yang dipikirkan orang lain. Ke mana kau terbang aku akan mengikutimu terbang tinggi dan tinggi … aku takkan takut menghadapi apa yang ada di bawahku karna akulah penguasa dunia …dan … aku bisa hinggap di mana aku suka.

20090531_175

Setiap kali aku melihat elang … hatiku berdetak kencang … mataku bersinar cerah … aku merasa sangat bahagia walau aku hanya memimpikan diriku bagaikan elang yang mampu terbang tinggi ke mana aku suka dan hinggap di kala aku lelah.

Posted in Adventure, Catatan harian, Percaya diri, Survive/bertahan untuk hidup, belajar, foto, foto sexy, psykologi | 15 Comments »