Hei … liburan sudah dekat! Pasti banyak yang lagi bingung mikirin liburan anak-anak. Atau “don’t care” soalnya waktu kecil liburan ya libur aja di rumah.
Kalo aku termasuk golongan yang pertama: yang sibuk mikirin liburan anak-anak dan tentu saja liburan bagi diri sendiri. Alasannya:
-Mengganti suasana
Aku pasti ingin keluar dari rumah karna selama musim dingin sudah hibernasi alias dekem di rumah terus jika tidak ada yang perlu dikerjakan di luar. Aku tak mau juga anakku bosan tinggal di rumah terus. Hati-hati liburan di Eropa tidak seperti di Indonesia. Di sini liburan sangat panjang sekali: 2 bulan penuh.
- Mengakrabkan hubungan antar aggota keluarga
Berapa jam sehari kita bisa bertemu anak-anak? Walaupun aku bukan ibu yang bekerja, hanya bertemu dengan Ines, anakku 6 jam sehari. 6 jam ini bukan sepenuhnya untuk dia, masih disambi kiri-kanan loh. Apalagi sejak aku mengerjakan aktifitas sosial maupun pribadi, waktu untuk Vicky pun mulai berkurang.
Oleh sebab itu liburan itu sangat penting. Di mana kita bisa komunikasi dengan anak, tanpa ada gangguan telpon yg berdering, teman yang ikut nimbrung …
- Melatih anak lebih mandiri
Sekarang Inès sudah menyiapkan barang-barangnya sendiri jika kami mo bepergian. Walaupun masih berumur 2th4bln, Vicky sudah membawa tas perbekalannya masuk ke mobil. Oups … semuanya harus bekerja sama.
Untuk liburan aku memang sudah menyisihkan budget khusus setiap bulan, plus setiap tahun aku mendapat dari pemerintah cek liburan.
- Menambah ilmu dan pengalaman
Jangan beranggapan berlibur itu hanya enak-enak saja dan tidur-tiduran aja di hotel! Kalo mau tidur … ya lebih baik tinggal di rumah aja. Tak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk tidur.
Biasanya aku memplanning paling tidak 1x kunjungan ke museum, mengelilingi kota yang aku kunjungi bisa dengan bersepeda atau berjalan kaki+transport umum, mengunjungi tempat-tempat yang menarik di kota itu, seperti Aquarium di Barcelona, pabrik permen traditional di Pesenas, mengunjungi park naturel/cagar alam, … dan tidak lupa mencicipi makanan lokal di tempat itu. Ya tentu saja … harus makan di restoran/café lokal. Ngak bakalan aku minum kopi di Cafe Starbuck di Napoli atau di Jakarta atau makan pizza di Senegal.
- Menurunkan bakat
Karna bakatku keluyuran, maka anak-anakku juga harus memiliki bakat yang sama. Pokonya aku tidak mau pada suatu saat anakku menelponku,” Mama, aku tidak tahu bagaimana harus pergi ke Toulous dari Bordeaux…”
Sangat bahagia rasanya jika anakku nanti membuat suatu photo yang sangat indah sekali dengan sepucuk surat,” Aku harus buru-buru ke luar dari hutan, karna aku teringat padamu, Maman. Kemarin aku motret elang, sehingga hari ini aku harus kirim foto itu untukmu!”
- Demokrasi
Sehari-hari karna rutinitas dan wajib sekolah, sering anak-anak melakukan hampir semua kegiatan dengan “WAJIB”. Lain halnya saat liburan, semua kegiatan biasanya direncanakan bersama
- Rileks
Bagiku rutinitas sangat menyebalkan. Aku bukan termasuk orang yang bisa dengan mudah mengikutinya. Bisa dibayangkan dengan anak-anakku. Mungkin bagi mereka, hal ini sangat menyebalkan sekali: bangun tidur, persiapan, pergi ke sekolah, makan siang, kembali ke sekolah, sore hari persiapan buat esok hari, makan malam, persiapan utk tidur, tidur dan esok masih sama … plus harus buru-buru …
Semua aktifitas selama liburan sudah aku rencanakan dengan matang. Tetapi pelaksanaannya tetap dengan tenang dan rileks. Misalnya: hari ini kita harus mengunjungi reserve naturel, maka kita harus berangkat agak pagi sekitar jam 5-6 pagi dan keesokan harinya kegiatan bisa dimulai jam 10-11 pagi. Jika hari ini harus banyak jalan kaki, maka keesokan harinya kita hanya tiduran di pantai laut/danau.
- dan masih banyak lagi manfaat liburan
Bagai mana dengan anda?