AKU

PARIWISATA NUDIS

Posted by juliach on March 20, 2008

Tahun 1997,  pertama tinggal di Perancis, aku pernah diajak untuk masuk ke kompleks pantai nudis oleh Denis, ex-suamiku dan Freddy, adiknya, tapi itu aku tolak. Bukannya aku tidak PD tapi seperti halnya TuanSufi, aku shock dengan tarif masuknya. Waktu itu tarifnya masih sekitar 20 Franc Français sekitar 60 000 IDR masuk saja seharian tanpa nginep. Kurang ajar banget Halah, ginian mah banyak di Indonesia, gratis lagi, umpatku kataku.

Waktu aku lagi bikin planning untuk menghabiskan liburan paskah nanti, Zo menawarkan juga kesempatan ini. Kali ini alasanku bulan april belum panas banget, entar sakit lagi. Zo tertawa ngakak karena dia sendiri tidak minat dan dia juga tahu kalau aku tidur pakai pijama panjang, sweater, kaos kaki lengkap dengan selimut tebal. Mana di Cap d’Agde ada angin kencang minim kecepatanya 70 km/jam.

Tiba-tiba aku teringat pacarku (krn bekas pacar tidak ada istilahnya dalam hukum RI) Mas Agus yang ngakak juga ketika mengungkapkan ideku setelah membaca majalah luar negeri berartikel Irian Jaya lengkap dengan foto-fotonya yang indah. Apa mereka enggak kedinginan, ya? Apa mereka enggak digigit nyamuk, ya? Apa mereka tidak malu, ya? Bagaimana mereka bercinta? Apa mereka bahagia? Mengapa pemerintah tidak memikirkan mereka? dsb

Tentu saja Mas Agus ngakak sengakak-ngaknya. Bagaimana tidak? Aku ini lulusan S1, masih naif dan botol bodoh & tolol banget. Ah, dibandingkan dia yg berumur 46 th dan lulusan S3, aku ini tidak ada apa-apanya. Aku tanya aja mengapa dia tertawa, tanpa menutup-nutupi ketidaktahuanku. Ngak apalah malu bertanya alias goblok sendiri nantinya.

Lalu dia menerangkan panjang lebar sambil melontarkan beberapa pertanyaan yang intinya: kitalah sebagai manusia modern yang membuat mereka menderita dan semakin menderita. Tentunya menderita itu tidak berbahagia bukan?

Sebenarnya orang-orang ini hidup dan berpikiran sangat sederhana. Saking sederhananya, mereka tidak perlu bekerja keras dan menabung seperti kita kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala karena semuanya sudah tersedia oleh alam. Setiap pagi mereka pergi ke hutan untuk berburu dan mencari sagu, siang memasak dan setelah itu berkumpul dengan keluarga dan teman. Sedangkan malam tinggal tidur saja bersama keluarga plus nyamuk.

Kemudian datang orang-orang dari luar negeri dan pulau yang mengaku lebih beradab namun biadab. Secara langsung ataupun tidak langsung, akupun terlibat dalam gerombolan orang-orang itu, karena aku sempat hidup di Indonesia Raya dan tercinta di jamannya Mbah Harto memerintah.

Mengapa? Lihatlah tanah mereka yang dikeruk hingga dapat mengubur 100x(atau bahkan lebih) penduduk asli Irian Jaya dengan dalih untuk menyejahterakan bangsa Indonesia tercinta. Mereka semua sebagian kecil diberi pakaian, disuruh sekolah dan disuruh mengikuti pelajaran agama, diajari tata krama  dan waktu itu ditambah P4 kali ye. Yang sudah pinter-pinter harus pergi ke kota untuk bersekolah di SMP lalu SMA lalu pigi ke Jawa. Juga untuk universitas yang mungkin hanya menjadi kayalan kebanyakan penduduk Irja.

“Ayo-ayo semua pigi ke kota, biar ini hutan untuk kita!” kata Mbah Harto beserta gerombolannya. Banyak di antaranya belum siap, walaupun begitu mereka juga pergi ke kota. Sebagian yang memang belum siap dan tidak mau pergi ke kota ya tetap tinggal di desa atau hutan. Sayang hidup mereka tak bisa tenang, karena suara gergaji mesin kian dekat saja, sehingga mereka harus sedikit demi sedikit menyingkir lebih jauh lagi ke dalam hutan menuju ke gunung dengan aba-aba dari kepala suku,”Ayo!!!!Kita menyingkir, kalo denger mesin meraung-raung terus aku tak bis tidur. Binatang-binatang pada lari semua bagaimana kita bisa makan celeng panggang?”

Ada lagi yang terdesak ke tepi pantai, tapi sayang mereka harus masuk kembali mencari hutan yang masih ada, karena di pantai-pantai sudah banyak jepang-jepang yang bekerja sama dengan orang-orang di Jakarta membuat peternakan mutiara. Mereka diusir untuk masuk ke hutan kembali. Ngusirnya ngak tanggung-tanggung pakai senapan pula. Aduh menyakitkan sekali bangsaku terusir bagai anjing geladak.

Untuk mencari ikan pun juga tak ada lagi, karena nalayan-nelayan asing pada masuk. Dengan jaringnya yang super panjang, super kuat dan renggannya super kecil serta kapalnya yang ultra modern, nelayan papua ini juga tergusur ke tengah laut yang dalam dan pulang membawa ikan yang busuk kepanasan.

Tak ada uang, maka pelaut-pelaut dan orang-orang asing (luar papua) menawarkan pekerjaan yang cepat mendapat uang: seks service. Tahu sendiri khan mereka ini lugu dan minim pedidikan (karena mereka belum siap tinggal di kota). Masing-masing pekerja seks ini mendapat hadiah penyakit seks. Tambah terperosoklah mereka yang artinya mereka harus menggali kuburan untuk diri mereka sendiri.

Kedatangan orang-orang asing (termasuk kita) bagi rakyat papua ini hanya membawa kemiskinan.

Waktu itu aku sudah berpikir dan sekarang pun juga masih terpikirkan, mungkin ke depan sudah telat karena tidak ada hutan lagi. Aku memikirkan pariwisata naturiste/nudis. Pemerintah harus menyisakan hektaran hutan asli beserta penghuninya dan mereka ini harus dijamin keamanannya, yang maksudnya tidak ada pencurian kayu ataupun binatang dll. Kalau perlu penebangan hutan asli sekarang ini sudah terlarang sama sekali. Kalau pengusaha hutan mo potong pohon, ya silahkan potong pohon yang mereka tanam sendiri, khan sudah cukup tinggi-tinggi.

Wisatawan yang masuk ke daerah ini harus menanggalkan pakaian mereka yang modern dan memakai pakaian tradisional atau telanjang sama sekali. Yang penting wisatawan ini harus beradaptasi dengan budaya lokal. Alat modern yang bisa masuk adalah kamera photo, video dan notebook (+baterei cadangannya).

Seperti halnya paket-paket hotel besar di Bali, di sini pun kita ada juga paketnya, mis :

hari ke-1 : berburu celeng sambil mencari buah kayak rambutan, aduh lupa namanya “Matoa” ya?; mbakar celeng a la papua, berenang, sorenya lihat sun set di atas rumah pohon sambil minum saguer dan makan pisang.

hari ke-2 : mencari sagu, memprosesnya, makan ulat sagu dan mencari ikan, siangnya berpartisipasi dalam menyiapkan makan siang, dan lunch bersama orang sekampung.

hari ke-3 : boogie jumping, kaki diikat dengan rotan. Sebetulnya kegiatan ini untuk pria, tourist wanita boleh mencoba.

hari ke-4 : belajar memanah dan membuat alat pemanahnya.

.

.

.

hari ke-13 : rafting pakai rakit bambu/batang pisang yang diikat pakai rotan, makan siang bakar buaya, lanjut rafting lagi sore makan malam bakar ikan hiu dan lobster. Bule/wisatawannya diajak cari lobster juga sambil photo-photo ikan dan terumbu karang.

hari ke-14 : upacara selamat tinggal dengan penghargaan dengan kalung gigi celeng, transfer ke aeroport.

Harga perpaket 1 500 Euros/orang, sudah termasuk tiket pesawat Eropa-Irian Jaya pp, transport lokal, akomodasi dan makan 3x sehari, akitvitas selama tinggal 14 hari. Bisa juga dibuat paket 3 minggu, 4 minggu atau 2 bulan, so pasti harganya lain-lain dong. Ini juga bisa dilakukan di daerah Sumatra seperti suku mentawai ataupun di Kalimantan.

Uang yang dihasilkan: selain untuk membayar guide, sumbangan ke pemda, sisanya masuk ke koperasi setempat. Uang ini bisa digunakan untuk membayar tim kesehatan, mengirim anak sekolah, dll.

Anak yang bersekolah di luar konservasi itu bisa menggunakan baju dan sepatu, seperti halnya kita, tetapi jika pulang ke kampung harus kembali seperti semula. Anak yang sudah bersekolah dan bisa berbahasa Indonesia dan asing (inggris, perancis, jerman dll) wajib menjadi guide (tentunya digaji dong biar senang). Ini penting sekali karena mereka langsung praktek.,

Aku pikir ini ide yang bagus yang tentu saja banyak penentangnya, karena telanjang itu yang di indonesia hal ini kita anggap pornography.

Kalau ide ini ada yang bisa mewujudkan, aku yakin deh bakal berhasil. Hasilnya top deh, selain melestarikan budaya dan lingkungan, kita juga bisa mensejahterakan masyarakat setempat dan kita sendiri tentunya. Juga para wisatawan pun akan pulang dengan senyum yang lebar. Mereka akan menceritakan pengalaman-pengalaman yang tak terlupakan ini.

Bagaimana pendapat kalian? Mari-mari beri komentar baik positif dan negatif!!! Aku enggak marah koq namanya aja ide!!!

64 Responses to “PARIWISATA NUDIS”

  1. tony said

    ide bagus, di kala kemerosotan kepercayaan melanda negeri ini

    Iya itu, banyak orang kerja siang-malam tapi tak bisa nutup bulanan. Jadinya stress. Malah di tahun kedepan bisa mati karena tidak bisa menghirup O2 murni, minum air non tercemar. Tak ada emas/minyak/tembaga/batubara/dll yg bisa dijual karena semuanya sudah dikirim ke LN.

    Kalo ide ini bisa terwujud secepatnya, saya jamin di tahun ke depan kita masih hidup, krn wisatawan itu pulang hanya bawa kenangan manis & photo-photo

  2. aLe said

    keren juga neh idenya ;)

    btw, yg kaya rambutan itu bener Matoa atau lebih tepatnya Matua

    Ini kita benar-benar pakai prinsip ekonomi dan lebih manusiawi.

  3. parbutaran said

    hello,….salam kenal

    Salam kenal juga

  4. Cabe Rawit said

    Setelahnya ane dilantik sebagey presiden RI, ane angkat Mpok jadi mentri pariwisata khusus nudis… :mrgreen:
    *nyoba baca lagi dari awal*

    Makasih banyak janji-janjinya

  5. theloebizz said

    hhmm..yaaa baguuss baguuuuss.. *sambil mikir kapan bisa direalisasikannya* ;)

    Realisasinya kalo masyarakat kita bisa menerima kondisi ini.

  6. popokbekas said

    ehm..
    tertarik juga saya mbak..

    Jadi apanya? wisatawannya atau guidenya? Btw guidenya juga harus berpakaian adat.

  7. tehaha said

    belajar mencintai alam tentu positif mbak.. :)

    Tentu saja, di sini kita bisa foto-foto alam sesuka kita. Alam tidak rusak khan. Binatangnya juga tidak stress di kandangin untuk bisa difoto.

  8. max said

    pesta nudis? ikutannn ahhhh, tp di kamar mandi aja *kabuuuuurrr*
    salam kenal mbak, tq dah singgah di blogku ;)

    Jika tidak berani, tidak perlu masuk. Latihan dulu mandi di kali di mana kau tinggal! Pariwisata ini sangat mahal untuk orang indonesia. Apalagi servisnya primitif gitu. hahahahaha

  9. Panda said

    wah, jadi iri baca ini. paris adalah kota impianku, tapi kapan ya aku bisa ke sana.

    Semoga saja impiannya terwujud. Ibuku selalu bialng aku ini “Gadis Pemimpi”, ternyata mimpiku hampir selalu menjadi kenyataan

  10. Anggie said

    waahh,, ide bagus tuh :)

    Makasih

  11. Singal said

    bagus juga, menyediakan tempat bagi yang suka….dengan bebas.
    Salam kenal.

    Koq enggak disebut malah diberi titik-titik? Salam kenal juga.

  12. danummurik said

    Makasih ya masuk weblogku, sebagai hadiahnya aku kasih bunga http://danummurik.wordpress.com/2008/02/06/bunga/

    Makasih kunjungannya dan kadonya.

  13. ridu said

    boogie jumping?? wew.. gimana rasanya yah?? ridu parno banget tuh, takut putus aja pas kita lagi meluncur

    Rasanya? Tinggal dari mana ketinggiannya. Jika kamu pernah terjun payung, ya begitu rasanya. Mereka sudah berpengalaman dari generasi ke generasi. Mereka tahu kekuatan rotan itu, berapa panjang yg diperlukan dan harus bagaimana mengikatnya. Menurutku mereka ini hebat, wong ngak pernah makan sekolahan bisa ya main kayak ginian. Aku sendiri juga heran, bagaimana caranya mereka ngitungnya.

  14. nesia said

    setelah tertatih-tatih mengejar modernitas, ternyata peradaban ketemu jalan buntu ya…

    siapa sebenernya yg berhasil menjalani hidup: mereka yg ngos-ngosan berkejaran dgn waktu, atau mereka yang hidup begitu saja, tak mau tahu apa itu ruang, apa itu waktu?

    Yeah begitulah manusia itu.

  15. tasmerah said

    he…he…
    aku tertarik ma bagian “kepala dijadikan kaki, kaki dijadikan sikil, dan sikil dijadikan kikil” he..he..

    kikil jadi oseng-oseng (buat orang jawa) ato jadi gule (buat orang padang) Waduh jadi ngiler nih!!!!

  16. titov said

    idenya unik & orisinil mbak :D
    btw, baru tau kalok ada bungee jumping ala papua :o

    Baru tahu, ya? Ini untuk mengajarkan keberanian pada laki-laki enggak pandang umur. Yang paling kecil yang pernah aku liat itu umur 2th. Ini sudah turun temurun dari generasi ke generasi, mungkin dari jaman primitif.

    Aku pikir boogee jumpingnya orang bule itu, original orang endonesia raya.

  17. Edi Psw said

    Wah, nggak pernah kepikiran untuk pergi ke tempat wisata seperti itu.

    Coba mulai dari sekarang dipikirkan. Bisa dicoba seminggu/2 minggu tinggal di sana dengan berpakaian lengkap dengan sepatu a la Timberland. Lalu coba 1 hari seperti mereka. Kau bisa merasa feel free, deh. Sepertinya hidup itu mudah. Kita pun bisa berburu sambil bernyanyi (biasa berburu itu harus tenang, tapi orang papua berburunya sambil bernyanyi dan menari, karena yang bener-bener bekerja itu anjing-anjing mereka. Mereka tinggal nunggu anjing2 pada menggonggong, nah mereka dapat buruannya).

    Ngak usah jauh-jauh pergi ke Irja, ingat ngak Depok (sekitar Gunadarma, UI, Pancasila) sebelum th. 2000. Istilah “Ketiban Duren” (artinya dapat rejeki) itu memang bener-bener ada. Sewaktu mo ujian semesteran ganjil, aku selalu ketiban duren…bener-bener duren…jadi belajar sambil lek-lekannya lebih mantap………..

    Sekarang mana ada po-on duren di Depok? Udah jadi barang langka! Bentar lagi liat di moseum!

  18. Bagaimana kalau kita kampanyekan Visit Indonesia Nudis 2008, biar lebih seru dan lebih rame turis yang dateng…daripada program pemerinatah yang nggak ada juntrungannya.. :)

    Aduh jadi malu nih. Sebaiknya jangan Visit Indonesia Nudis 2008, tapi Visit Indonesia Real/Original Culture 2009 yang mana dalam klip film-nya ada orang bule nari bersama-sama orang daerah asli dengan kostum asli (bukan penari papua pakai bermuda melainkan koteka), juga kampanye di majalah-majalah juga begitu.

    Bener deh setiap aku baca Kompas/Gatra/dll malah jadi pusing dan mual sendiri, seperti aku terkena stress saja. Coba banyangkan, sebagian besar rakyat Indonesia itu. Dan pemerintah semakin lamban bergerak (ato mungkin sudah stop sama sekali) menanganinya.

  19. Farid said

    Papua skarang dah maju lho Mbak..dah banyak kok skarang yang belajar ngeblog :) ngeblok dari puncak Jayawijaya :)

    Aku tahu…th. 1996 (ato 1997 ya, lupa) udah ada hotel bintang 5: Sheraton Timika, aku udah ke sana. Sayang kemajuan yang tak merata dan tak berimbang. Di satu sisi menjadi modern, di satu sisi mengalami kepunahan. Ada kepunahan hutan/flora/fauna, yang menyedikahan sekali ada kepunahan soal perikemanusiaan.

  20. kw said

    waduh menarik sekali. kalau ke sana aku pastikan deh ikutan paket 1. berburu celengnya absen, pengen berburu yang lain :)

    Berburu celengnya boleh pakai kamera koq. Mereka rata-rata makan celeng, ya kegiatan touristique diadaptasikan dengan kegiatan sehari-hari dalam kehidupan suku tersebut. Ngak perlu melenceng jauh-jauh dan diada-ada.

  21. prayogo said

    Sepertinya dulu saya pernah berkunjung ke blog ini, tapi kapan saya lupa. Tetapi tidak mengapa, saya mau ucapkan salam kenal….

    Memang iya, sayang sudah lama. aku refer dari komentar anda sendiri. Makasihnya berkunjung kembali. Sering-sering dong!!!

  22. ooyi said

    wah..ceritanya bagus nih.berarti sama2 suka alam dong.tinggal minta foto alamnya, dipampang dong :).makasih ya commentnya.silahkan link ke blog saya. kita sekarang jd sahabat alam dan manusia. setuju ?

    photo-photo asli punyaku tak banyak. Aku kembali ke Perancis krn rumah/tokoku diserbu sama penduduk akibat ulah ex-suami. hanya tinggal beberapa photo yg ada di notebookku yg saat itu ada di tanganku. Yg lain (cd/kunci usb) hilang. Sekarang belum sempat kembali ke indonesia. Menyetabilkan ekomoni dan emosional anakku, dia terkena trauma berat akibat serbuan itu krn dia ada di rumah saat itu.

  23. edratna said

    Terakhir ke Papua beberapa bulan lalu, salah seorang muridku yang kelahiran Wamena dan anaknya salah satu kepala suku, menyatakan kalau sekarang sebagian besar orang Wamena telah berpakaian, koteka hanya dipakai saat acara tertentu.

    Sepiluh tahun lalu, saat ke Wamena, turis asing malah banyak yang ikut tidur di Honai (rumah adat suku Lembah Baliem), sebelumnya badan diolesi dulu dengan minyak biar nggak kedinginan dan tak digigit tengu (binatang kecil-kecil). Mereka tak kedinginan karena badannya diolesi minyak babi, dan nggak mandi, jadi memang nyamuknya ga doyan atau nggak kuat menggigit.

    Btw, idenya bagus juga untuk diterapkan, pasti banyak deh turis asing yang berminat, terutama turis dari Eropa dan Jepang.

    Memang, ya yang begini yang saya ingin terapkan. kalau perlu turis domestik juga welcom kok. biar tahu rasanya tidak berpakaian dan digigit kutu (kalo mo praktek gini di jakarta kan enggak mungkin. bisa mereka malu. di kamung terpencil tak ada sanak saudara/rekan). Tidak hanya di Papua saja.

    Yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini : kesejahteraan di Indonesia ini tidak merata. Ada masyarakat yang berpengahsilan Rp. 0 dan Trillyunan Rupiah. Padahal masyarakat yg berpenghasilan 0 ini tanah/pulaunya sangat kaya raya, tapi habis diangkut ke LN. Orang LN tdk bisa angkut itu harta jika tdk ada accord dr orang Indonesia. Ya, ngak?

  24. Boleh juga, tapi masyarakat pelosok Papua harus tetap dikenalkan dengan “pakaian”. Jangan sampai ada image primitif. Kasian kan, makin ketauan bobroknya bangsa ini.

    Tentu saja semua orang punya pakaian modern lengkap dengan sepatu dari kulit buaya (Di sana banyak buaya yg terbunuh oleh oknum-oknum) dan perhiasan kalung/gelang/anting celeng dari emas (sudah bukan gigi celeng beneran lagi seperti sekarang, yang ini buat kado si bule aja, biar mereka senang)dan berlian. Ini di pakai kalo keluar dari kampung untuk pergi ke kota atau meeting sama Bupati/Gubernur/DPRD/Tour operator. Kalo mo ketemu sama sesama kepala suku ya pakai baju adat saja.

    Seperti sudah saya katakan, anak sekolah pakai baju lengkap, tetapi jika pulang sekolah harus kembali seperti semula.

    Memang yang kita jual image primitifnya. Itu yang dicari! Asal image primitif ini diimbangi dengan ditutupnya HPH (larangan penebangan hutan total dan ditutupnya Freeport). Pemilik HPH ini orang dari Jakarta semua, orang Papuanya hanya kuli saja. Hanya 1/2 org yg di atas. (Ini tidak omong kosong, karena aku dulu pernah kerja di SDM-nya KLI/Kayu Lapis Indonesia).

    Nationalisasi peternakan mutiara/lobster dan pelarangan nelayan asing masuk di wilayah ini. Biarkan orang Papua yang memilikinya, mereka akan bekerja dengan pakaian adatnya. Biar mereka yang berbisnis. Bukan orang Jakarta ataupun Jepang yang memiliki perternakan mutiara/lobster ini. Coba bayangkan 1 mutiara hitam dgn diameter 1 kelereng, harga di Perancis sampai 2000 Euros. So harga di Indonesia 2000/8= 250 x 14 000 IDR = 3 500 000,- IDR. Coba kalo pemiliknya kepala suku, dan dia bisa menggaji anak buahnya minim dgn 10 000 000,- IDR/orang/bulan. Kerjanya kagak perlu pakai dasi, apa tidak makmur itu. Ini bokan bobrok.

    Orang-orang ini harus tahu baca tulis dan berhitung. Mereka juga harus belajar berbisnis/kesehatan/dll.

    Kalaupun mau mereka pun bisa berbisnis dengan pakaian adat mereka, tak jadi masalah (kecuali kalo mereka naik pesawat, pakai sweater/jaket dari kulit, dingin mak). Karena itu adat mereka tak bisa kita hapus.

    Mereka punya fasilitas sekolah/kesehatan/transportasi lengkap. Tak ada kemiskinan/tak ada pelacuran.

    Kalau begini image mereka bukan orang miskin. Ini image orang kaya.

  25. Farid said

    Kadang2 kalo kita hanya berpatokan dari media asing..sulit untuk objektif..terkadang bertolak belakang dengan keadaan yang sesungguhnya..seperti yang diceritakan Edratna perkembangan terakhir di Wamena..setahu saya Wamena itu komunitas terakhir yang ditemukan keberadaannya di Papua..10 tahun yang lalu..yah begitulah kenyataannya..dulu bahkan Ibu2 di sono..masih suka nete’in anaknya berbarengan dengan nete’in anak baby..karena banyaknya jumlah baby menentukan kaya tidaknya orang disuku ini..tapi itu dulu..kebetulan saya sendiri pernah tinggal selama 6 tahun di Jayapura,jadi sedikitnya saya ngerti karakter masing-masing suku disana,saya gak ngerti sebetulnya siapa yang eksploitasi manusia dan alam disana..mungkin ada sebagian kecil oknum dipemerintahan kita tapi kalo diliat..lebih banyak ke LN tuh..

    Btw,ide pariwisata nudis bagus juga..tapi manusianya jangan dibiarkan primitif ya..seperti di Bali,alam dan adatnya dijaga keasliannya tapi Manusianya udah pada modern..

    Masalahnya siapa yg kasih ijin untuk angkut ke LN, ke mana uang itu? Oh iya, jika benar-benar rakyat Papua itu makmur dengan hasil pulaunya, tidak jadi masalah mereka berpakaian. Bagus itu. Tapi mereka juga harus berpendidikan, kesehatan terjamin 100%. Masalahnya masih ada yg buta huruf, mereka berpakaian, tapi mereka tidak ada uang. Jadi buat apa berpakaian?

    Kita tidak perlu lihat tanah Papua, lihat saja tanah Jawa, Sumatera, Kalimantan. Di Jawa, berapa hektar hutan kita dibanding luas pulaunya? Saya sering ke Riau hingga th. 1997, tidak ada hutan di sekitar kota Pekanbaru, gersang, tidak ada penghijauan kembali. Sama juga di Kalimantan, di S. Barito banyak kapal-kapal penuh dgn batu bara, kayu gelondongan, rotan. Klient saya pengen lihat pohon rotan saja harus berperahu 3 hari lamanya. Padahal saya mengikuti program pemerintah dengan menjual barang jadi. Ternyata banyak rotan mentah yg diekport begitu saja (hanya dikeringkan saja), begitu pula kayu-kayu balok. Di pabrik banyak anak-anak mulai umur 9 th. bekerja menghaluskan/mengupas rotan. th. 2004 mereka digaji Rp.300 000,-/orang/bulan.

    Hasil tambang dan minyak: mosok seh kita penghasil minyak, sering minyak tanah, gas, bensin langka?

    Sebetulnya devisa negara itu banyak sekali: naik haji, fiskal orang pergi ke luar negeri, visa turis, ijin tinggal orang asing. Di th. 2001- 2004, Saya bayar Rp. 300 000,-/orang/bulan supaya anak & suami saya bisa tinggal di Indonesia, setiap 6 bulan ke LN utk mencari visa lagi. Utk ijin kerja pajaknya USD. 2 000/orang.

    Berapa orang asing yg kerja di Indonesia? Namun masih ada berapa anak-anak yang tidak sekolah dan berada di jalanan? Berapa orang yang masih berada di bawah garis kemiskinan?

    Jika saja dokumen-dokumen saya masih ada, saya pajang di blog ini.

  26. antown said

    nggak ada nih hasil jepretan di lokasi nudis itu? hmmm…

    Aduh nih anak, udah aku kasih tahu : tdk boleh ceprat-cepret seenaknya sendiri tanpa ijin yg difoto!!! Lagi pula di Indonesia bisa dikatakan porno.

  27. dini said

    top abiss… tapijangan lupa utk jalan2 ke jogja

    Matur nuwun kunjunganipun. Aku dulu nyari makannya di Bantul, Klaten sampe ke Semin. Kalo lagi nunggu barang sebelum loading ke container aku suka mblusuk-mblusuk sampe ke kampung-kampung. Jadi Jawa Bali NT Kalimantan sudah tutup mata, wis kaya kirik (anak asu) opo anak kuceng, dibuang pun bali dewe.

  28. M.Al' Amin said

    waduw,trims

    Hemmm

  29. Idenya boleh juga mba. Keren… keren… tp pasti beda lah jika penduduk setempat melihat yg terawat nudis dan tidak terawat nudis. Bisa timbul efek sampingan yg lain.

  30. samirotto said

    Aku sangat prihatin sekali dengan pola pikir masyarakat indon yg jauh lebih primitif sekali, mudah diadu, mudah ditipu dan diperdayakan …..

  31. samirotto said

    bodoh n tolol sekalee

  32. juliach said

    @ Anastasia Rajagukguk
    Namanya saja alami ya begitulah

    @ Samirotto
    Lalu harus bagaimana?

  33. kabarihari said

    peradaban dan kapitalisme memang kejam. :(

  34. sawoenk said

    wahh… jadi tertarik nih pengen tuker pikiran dengan mbak…meskipun cewe tetapi syarat pengalaman kehidupan keras kayanya ( dulu maksudnya ). Kapan nih bisa tuker pikiran langsung lewat chatting barang kali, kalo mbak ada waktu dan pas lagi iseng kirim aja id YM mbak atau via email dah saya cantumkan, itu kalo mbak berkenan

  35. Advokatku said

    kyknya dulu mantan aktivis nih … bener gak ?

    aktifis apa?

  36. tintin said

    humm .. kalo hanya sekedar masuk dan melestarikan adn tidak merusak kenapa harus telanjang ..?? :)

    Kalo anda masih berpakaian, anda masih memberi jarak antara kita semua, mis : ini aku orang kota/berkultur (krn berpakaian) dan kalian itu orang pelosok (karena pakai koteka/telanjang). Walaupun anda tidak pernah punya pikiran begitu.

    Dan kita tdak pernah merasakan dengan benar-benar kultur mereka itu. Kalo kita ikutan telanjang, mereka akan merasa sungguh-sungguh dihargai, karena kita beradaptasi ke kultur mereka. dll.

    Selamat mencoba deh, pasti menjadi kenangan yang tak pernah terlupakan.

    Ingat, transportnya ke sana agak mahal. Jadi harus menabung banyak-banyak dari sekarang.

  37. heryazwan said

    Kalau yang di Perancis gimana sih, Mbak? Cerita dong, tadi kan belum kelar. Keburu ngebahas yang di Papua…

    Baca dong PANTAI NUDIS di http://juliach.wordpress.com/2008/02/28/pantai-nudis/ karena di sini aku membahas Potensi Pariwisata Nudis di Indonesia. Kalau di Perancis Pariwisata Nudis itu legal tapi koq harus bayar mahal itu yang aku malas masuknya. Kalo di pantai-pantai umum (laut/danau), cewek boleh topless. Biasanya di pantai di laut pada bulan juli/agustus rata-rata kita topless semua.

  38. mohammad said

    ide yang bagus. sebagai insan pariwisata, kita perlu membuat produk wisata yang inovatif, yang ramah lingkungan, yang alami, yang sustainable.

    sayangnya, pemerintah Indonesia, terutama elit politik, belum bisa memahami bagaimana pentingnya pariwisata untuk kesejahteraan bangsa.

    keep blogging.

    Mereka belum sadar, dengan pariwisata kita juga bisa membagi rejeki kita ke orang di sekitar daerah pariwisata itu, mis: makan di warung, nginap di hotel lokal, dll.

  39. depz said

    agree aja dah hhehehe
    btw nice blog nih
    seru cerita2nya :)
    numpang nge link bole kan :)

  40. larasaga said

    idenya keren en nyentrik buanget.But ai punya kecemasan, kalo wisatawan modern beda jenis kelamin ketemu di lokasi pariwisata nudis akan terjadi korslet en bahayanya kalo yang terjadi adalah kekerasan seksual, seperti yang qta tau, mainset orang kita udah sedikit nyeleneh, jangankan ngeliat orang nudis, hanya ngeliat cewek berpakaian seksi aja pikirannya udah error..apalagi ini di tengah rimba raya weleh weleh…

  41. Nika said

    Sy pernah di papua 15 thn mb. Di wamena 2thn. Dulu wkt d wamena pernah ngasih baju ama org sana yg msh pake koteka. Pas dirumah baju dipake. Begitu pulang dilepas. Mgkn risih. Sama aja dgn kt kalo tdk pake baju spt mrk. Risih.

    Sy setuju bgt ide wisata alam dan budaya mb. Prospektif bgt. Sayang kalo dikeruk terus. Skr dpt duit, besok2 kebagian bencana alamnya. Untung seupil, rugi segajah.

    Memang maksudku sama seperti njenengan, tapi sekarang kayaknya hanya mimpi saja. Karena kepentok UU APP

  42. jenny said

    ehhm krn jga sya jdi tertrk coz crita nie untuk mmbngn jga ehh tpi maf tpi klo geuide th paaan kbtlan gk ngrti nnti klo smpt dtng ke bdg yach slm knl jenny

    Wakakakakak…aku bukan generasi SMS. Sorry aku bingung bacanya.

  43. pencerah said

    Gw mau daftar pertama x. ada diskonnya kan?

    So pasti!

  44. yaw said

    hahahahahaha bisa bisa bisa

  45. mrpall said

    mulailah dari skarang belajar mencintai alam tentu positif mbak..
    :)…salam knal yah..

  46. Dr.ngehek said

    lebih seru lagi kalo jakarta dijadikan arena wisata nudis, jadi yang masuk jakarta harus tanggalkan pakaian…., kalo perlu pulau jawa sekalian… dulu di jawa kan tak kenal pakaian juga, itu artinya setelah mereka keanal pakaian sudah tercerabut dari akar budaya aslinya…jadi harus dikembalikan ke akar budayanya… gimana mbak??

  47. umar said

    ass,
    sebenarmya kalau saya fikir2 anda ini bodoh atau masuk kelompok idiot ya? sedangkan binatang sendiri saja g mau ada yang dikuliti alias telanjang, mau tahu? coba anda kuliti ayam idup-idup apa mau ayam itu? apalagi orang….
    nabi Adam AS sendiri saja waktu turun ke dunia ini saja masih berpakaian dan tidak bertelanjang, lalu mengapa ALLAH SWT tidak menurunkan dalam keadaan telanjang saja? aneh bin ajaib ide anda ini…
    ini sudah akhir zaman,… tidak lama lagi zaman dajjal termasuk sekarang, apakah anda sudah berfikir besok mati dimana, dalam keadaan apa, dan hina atau terhormatkah mati anda? kita di dunia ini hidup bukan gratis seperti seekor kambing atau monyet, kita disuruh untuk beribadah dan bukan untuk mencari kesenangan sebab buat apa senang2 di dunia ini kalau akhirnya semua harus kita tinggalkan? alangkah bodohnya kita jika kita harus meninggalkan sesuatu tanpa ada bayaran bukan atau anda mau kerja gratis tanpa dibayar sedangkan perut anda menuntut untuk makan dan anda tidak boleh minta2, gimana?

    kejayaan itu hanya terletak pada agama dan banyak orang mencari kejayaan di luar agama akhirnya hancur seperti fir’aun dan qorun, cobalah anda pelajari agama lagi baik2, sebab semua kejadian dunia ini sudah termaktub dalam Quranul Karim

    demikian, mudah2 an anda mengerti bahwa keadaan yang sudah tua ini menyebabkan kita menjadi sesat,

    wass

    Salam,
    Kalo dipikir-pikir aku ini tidak bodoh apalagi idiot. Iseng banget binatang pakai baju, emang anda akan memberi baju satu-satu ke semua binatang? Sirkus kale ya?

    Kalo kita menguliti ayam hidup-hidup berarti kita termasuk sadis nan biadab. Hati-hati, telanjang bukan berarti kita dikuliti hidup-hidup, lho! Rasa-rasanya selama aku belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar, aku tidak pernah dengar konteks tersebut.

    Aku tidak pernah percaya ada seseorang yang lahir dalam keadaan berpakaian. Selama yang pernah aku lihat, semua orang lahir telanjang.

    Mengapa kita harus memikirkan kematian sejak sekarang? Apa yang anda maksud dengan mempersiapkan kematian? Bukannya kematian datang seperti pencuri di malam hari? Apakah kesempurnaan kehidupan kita hanya diisi dengan berpakaian sempurna seperti yang disebutkan oleh Nabi anda? Apakah harus menjalankan ibadah? Apa yang anda sebut dengan ibadah?

    Apakah tidak sebaliknya kita harus menjalani hidup yang lebih baik untuk kita dan anak cucu kita. Coba bayangkan jika kita kembali ke keadaan yang alami/nature, dimana kita mengurangi limbah CO2 dan limbah-limbah chemical lainnya, maka anak cucu kita akan lebih melangsungkan kehidupannya lebih lama lagi. Melestarikan alam kita sehingga masih banyak hutan yang akan menahan erosi sehingga tanah yang kita injak masih bisa bertahan hingga anak cucu kita.

    Hutan-hutan itu juga merupakan paru-paru dunia karena menghasilkan O2 yang masih bisa kita hirup.

    Kalo kita lihat jaman dulu, manusia masih bisa hidup bahagia dari apa yang hutan bisa berikan tanpa harus menebang hutan. Jaman dulu orang tidak perlu bekerja siang malam, karena alam sudah memberikannya. Tidak seperti sekarang, orang-orang yang hidup di hutan, harus keluar dari hutan karena hutan semakin sempit dan binatang-binatang yang ada di hutan semakin sedikit, tak cukuplah untuk menghidupi keluarga. Tetapi anda tidak pernah terpikirkan, sesampai di kota mereka tidak bisa berburu lagi atau memetik buah-buahan dengan gratis.

    Aku tidak tahu mengapa anda berpikiran sangat ekstrim begini. Pola berpikir anda sangat aneh, disalah satu sisi anda bilang hidup di dunia ini tidak gratisan, berarti anda ini terlalu kapitalis dong? Apa yang anda cari jika harus bekerja terus tanpa bisa merasakan kesenangan. Hidup ini sangat indah dan harus kita syukuri. Tak ada gunanya anda beribadah melulu tanpa bisa merasakan kesenangan atau menikmati keindahan!

    Sekarang ini aku bekerja sosial dan benar-benar sosial tanpa memungut bayaran dan tanpa melihat suku bangsa mereka maupun agama mereka. Tetapi aku tidak bodoh!!!! Aku percaya Tuhan selalu ada di sisiku dan tak pernah membiarkanku hidup menderita karena aku tak pernah bisa melihat orang lain menderita. Itulah sebabnya Dia memberikan rahmat berlimpah padaku.

    Tidak perlu anda menyuruh orang lain mempelajari agama melulu! Percuma saja jika kita mempelajari agama tetapi tidak pernah diterapkan dan membuat semua orang berbahagia selama hidup di dunia ini.

    Ahhhhh …. iseng banget komentar anda ini!!!!

    • hahay, gak di FesBuk gak di MP kawanku Penyair-Mbak-Din gak di blog kamuh bu, ada saja FPI Front Pendukung Idiotisme :D
      well done, dear ;) sounds like a good dream that takes much more time fur Indonesia ;)

    • mev said

      Dear Kak julia, thanks untuk semua pelajaran bahasa perancis nya ya, sangat membantu sekali (+ jadi berkat untuk sesama), dan saya jg ikut “emosi jiwa” membaca komen bpk umar itu, spt yang dia nya ini yakin sekali bakal masuk sorga… be yourself kak, and believe that GOD knows you better than anyone else !

  48. rudiy2 said

    tuh baru ide aja udah ada yg nga setuju, nga ada ide lain yg nga menimbulkan kontroversi mbak . .
    ide kaya gitu hanya bisa terjadi di surga aja nkali ; bebas , halal , gratis , nga nimbulkan kontroversi . . pokoknya peace . . .

    Aku tak akan memikirkan masuk surga kalo aku tidak bisa hidup bahagia dan damai di dunia. Orang yang ngajakin masuk surga (jika mati nanti), tanpa ada suatu kenyataan yang jelas di dunia: membuat dunia lebih baik dan hidup tentram … berarti non sense alias omong kosong alias gombal …

    • benul. apa bedanya mengharap surga itu dengan pamrih. lagipula, konsep surga-neraka kan bagian dari konsekuensi logis menjadi manusia beradab (ceriteranyah) yang dilandasi agama (konon kabarnyah)
      yang ada, manusia-manusia ber-Baju-Agama inih malah belagu. sok tau bangeud deh :D
      who’s playing God here?

    • Ari Jaka said

      Ide pelestarian alamnya bagus tapi konsep menjalani hidup secara liar kurang bagus… Yah bedakanlah diri anda dengan binatang… Manusia sepantasnya berpakaian kalo binatang ya telanjang… Lulusan S1 tapi cara berfikir dan mengemukakan ide tak jauh dari para germo/sejenisnya wah…kasian udah mahal2 sekolah tapi sempit pikirannya…

      Saya mau tanya dampak positif jelas peningkatan kesejah teraan, akan tetapi dampak negatif yg ditimbulkan dari ide anda apa aja mungkin anda yg S1 ini lbih tau ?.. Saya lulusan smp, sma masih ikut kejar paket c…

  49. ekaria27 said

    mantep banget idenya mbak ! :)

  50. Indonesia Visit Year 2009 : AMIN ;)

  51. vito_ltrn said

    Bicara tentang papua..??? Jujur saya terharu membaca tulisan mbak, saya tinggal dipapua tepatnya jayapura. Blm lama sih, baru 10 tahun. Tapi sepuluh tahun ini saya sudah jalani semua kota kabupaten hingga pedalaman. Yah memang miris kondisi disini. Tapi coba ambil posisi sebagai penduduk pendatang yang menetap dipapua.Hidup dengan keluarga di papua. Saya pengen dengar apa kesannya…thankss Love papua,sumatra, love indonesia

  52. tatto said

    sebenaryna q g suka pola pikir u tentang orba.sbg greenbaretnya indonesia, q hanya bilang u berbuat yang baek buat irian baru komentar. bagi Q NKRI harga MATI. tak perlu lari k luar negri. Salam buat kakakQ yang desertir Netherland.

    • juliach said

      Aku tidak berbuat banyak untuk irian? Aku telah berbuat banyak untuk Indonesia … aku telah membawa masuk turis asing untuk mengambil kekayaan Indonesia hanya dengan kamera foto dan mata mereka ….

      Dan aku telah membayar mahal sekali di KBRI & Imigrasi di Indonesia supaya anak & suamiku bisa menghirup udara di Indonesia.

      Tetapi … tak hanya di Irian Jaya … masih banyak anak-anak yang menangis kelaparan … Banggakah anda sebagai green baretnya Indonesia? Ok, bagi anda NKRI itu harga mati tapi NKRI masih tega membiarkan rakyatnya mati!

      Sorry kalo aku berbicara sangat keras kepada Greenbaretnya Indonesia. Aku tak takut menghadapi anda … dan aku bukan desertiran karna aku orang sipil … bukan anggota Angkatan Bersenjata Indonesia. Aku berhak tinggal dan hidup di mana saja.

  53. nejong said

    Mbak sori mau tanya, waktu di Papua or Perancis mbak pernah nude? Kalo pernah rasanya gimana didepan lawan jenis?

  54. arsyadys ruzhter said

    wow. . .ide yg briliant,tp bsa ga ntu jd kenyataan,,”the most primitive” hehe

  55. arsyadys ruzhter said

    hebat . . . . . !!!
    The most be primitive,,

  56. Kevin said

    Macamnya akan susah karena bertentangan dengan UU antipornografi….film yang berbau komedi ja & ada adegan yang sedikit vulgar ja dah di kritik pa lagi…yang full nude….Makanya masyarakat Indonesia terlalu cepat berpikirin negatif terhadap org lain sehingga negara ini g akan pernah maju2 krn pemimpinnya juga terlalu sibuk tuk membuat album lagunya sendiri……….Makin kacau dech negara Indo ni….

  57. tambang,energi,minyak,esdm…

    [...]PARIWISATA NUDIS « AKU[...]…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers

%d bloggers like this: