Mataku adalah screenning kutu rambut yang jitu
Posted by juliach on May 17, 2008
Judulnya mantap tapi termasuk ngilani (menjijikan), ya? Silah baca sambil garuk-garuk kepala! Yang mo garuk-garuk celana juga boleh koq, tidak dilarang, mumpung gratis! Yang merasa tidak kuat nahan geli yang menjijikan ini, silahkan keluar dan tak perlu baca!
SELAMAT MEMBACA!
Setiap hari Sabtu guru Ines selalu membagikan hasil test setiap minggunya untuk ditandatangani. Karena Ines termasuk anak yang slebor dan tidak perhatian sama hal-hal ini, terpaksa setiap hari Sabtu aku harus menjemputnya. Begitu dia keluar dari gerbang sekolah, aku pasti tanya tentang kertas-kertas test itu. Jika dia lupa, langsung aja aku suruh kembali ke kelas untuk mengambilnya.
Hari ini waktu aku menjemputnya, aku lihat ada hal-hal yang aneh sewaktu anak-anak sekolah itu keluar. Tak lama kemudian Ines keluar juga bersama temannya. Tanpa aku tanya, Ines membungkukan badannya untuk mengmbil kertas itu dari tasnya. Tiba-tiba aku lihat ada hal yang aneh pula. Aku mendekatinya. Aku sendiri tak tahu mengapa aku begitu, ya. Entah mengapa, mataku tertuju ke sesuatu di antara rambut anakku itu. Sesuatu itu bergerak-gerak, kepalaku langsung mendekatinya sambil mata ini melotot hingga hampir copot saja. Oh…la…la… ternyata itu kutu!
Aku yakin itu kutu. Pasti itu kutu rambut. Aku tak pernah lupa dengan bentuknya. Aku tarik rambut Ines dan kutu itu langsung aku tangkap dengan ujung jari telunjuk dan ujung ibu jariku. Aku jimpit aja. Dan memang betul-betul itu kutu rambut. Aku pites aja, sambil aku berteriak,”J’ai trouvé un poux!” (Aku menemukan kutu). Kebetulan di belakangku itu Direktur Sekolah, dan aku tunjukkan kepadanya. Biar besok Senin dia langsung bikin selebaran lagi.
Aku mulai mengerutu karena aku sudah bilang berkali-kali ke Ines kalo setiap mo berangkat ke sekolah rambut harus disisir rapi, disemprot hairsprei anti-kutu dan diikat. Namun Ines sering mengabaikan hal ini.
Tunggu aku garuk-garuk kepala dulu karena geli cerita soal ini.
Begitu sampai di rumah, aku suruh Zo kasih makan Vicky dan setelah itu menaruhnya di tempat tidurnya supaya tidur. Sedangkan aku langsung memegang kepala Ines. Aku treat itu kepala pakai PediTox yang aku sengaja pesan dari Suni banyak-banyak sewaktu pulang ke Indonesia. Di sini ada lotion pembasmi kutu, tapi harganya mahal sekali. Jika epidemi ini berlangsung lama, karena masalah ping-pong dari teman-temannya, maka dalam sebulan aku bisa menghabiskan 100 €.
Mulai dari tengkuk aku ambil rambutnya sebaris lalu aku beri lotion kulit kepalanya dan rambutnya, aku sisir dengan sisir bergigi kasar, aku sisir lagi dengan sisir bergigi halus sekali (sisir khusus untuk mencari kutu harganya 15€ padahal di Indonesia kali hanya Rp. 10 ribu aja ya). Kemudian aku ambil lagi sebaris lagi, dengan jarak 1/2 cm antara baris pertama dan begitu selanjutnya hingga habis seluruh rambut dikepalanya.
Sambil aku sisir, aku cari juga kutu dan telurnya. Jelas saja aku enggak ngitung berapa yang aku dapat. Yang jelas lebih dari 40 biji dan ketika aku gites (pencet dengan kedua kuku ibu jari) semuanya terdengar suara tik. Berarti itu telur hidup. Selain telur, aku juga mendapatkan 16 ekor kutu dewasa dan 11 baby kutu yang lagi mengadakan konferensi.
Itupun mencarinya sambil mengomel,”Ines jangan bergerak mulu!”; “Ines mengadap ke sini!”; “Ines nunduk dong!”; “Gara-gara kamu, aku ngak jadi shopping!”; “Kalo gini terus mata mami bisa buta!”; “Nih mami dapat 3 kutu sekaligus, mereka lagi diskusi!”; “Kalo mami disuruh ngeker-ngeker diamond oke-oke aja, tapi kalo kutu mami malas!”…
Dua tahun yang lalu, kalo ngak salah bulan April 2006, aku mendapat selebaran dari sekolah Ines bahwa kutu-kutu rambut menampakkan diri di sekolah, oleh karena itu para orang tua diwajibkan memeriksa kepala anaknya masing-masing. Maka akupun memeriksa kepala anakku. Oh ternyata aku menemukan kutu rambut 2 biji! Gede-gede lagi! Tunggu aku garuk-garuk kepala dulu terbayang kutunya yang aku dapat.
Langsung aku beri obat anti kutu yang memang sengaja aku beli, karena setiap kali ada pengumuman seperti itu. Rambut Ines yang panjang aku ikat dan aku suruhnya sekolah. Ngak ada pilihan lagi.
Sorenya, kami harus ke rumah Roland & Chantal : ada Jerome dan pacarnya yang baru kembali dari Bangkok. Karena kami sudah lama tidak ketemu maka kami ke sana juga. Pada kesempatan itu, aku lihat anak-anak mereka, Lola dan Marie-Sarah pada garuk-garuk kepala, maka aku bilang ke Chantal untuk memeriksa kepala mereka. Aku bilang saja kalau Ines punya kutu. Sayang berita ini hanya ditanggapi oleh Chantal, ngak mungkin. Setelah semua orang mendesaknya, maka dia mulai memanggil anak-anaknya untuk diperiksa. Namun panggilan itu diabaikan saja. Anehnya si Ibu tenang-tenang saja. Aku hanya mengangkat pundak, dalam hati kalo mereka itu anakku pasti aku tarik aja rambutnya.
Selanjutnya kepala anakku aku kontrol tiap hari. Sayang selang seminggu kemudian ada lagi kutu yang mendarat di kepalanya. Aku tidak mengerti mengapa, padahal kepala dan rambut (Ini bukan kepala anaku saja, kepalaku dan milik Zo juga diobatin walaupun aku tidak menemukan kutu di kepala Zo, ataupun Zo juga tidak menemukan kutu dikepalaku) sudah diobati dan sudah bersih; seprei/sarung bantal sudah langsung dicucu, begitu juga pakaian; tempat tidur aku semprot dengan baygon dan aku setrika pula. Pasti kutu-kutunya sudah modar semua. Rambut juga sudah aku ikat, bahkan akhirnya aku potong pedek sekali. Tapi mengapa masih ada di kepala anakku?
Selidik punya selidik ternyata, setiap kali Lola dan Marie-Sarah ke rumahku (mereka sering dititipkan ke aku karena kedua orang tuanya sibukbekerja sampai malam), mereka itu garuk-garuk kepala terus. Akhirnya aku bernaikan diri untuk memeriksanya. Lola setuju dipegang kepalanya, tapi Marie-Sarah selalu menolak. Ternyata aku menemukan banyak telur kutu di kepalanya dan juga kutu itu sendiri. Langsung saja aku shampoin dengan shampoo anti-kutu dan aku suruh supaya bilang ke ibunya untuk mengobati dan membersihkan secara menyeluruh.
Mungkin permintaanku itu tidak disampaikan atau mungkin disampaikan tapi orang tuanya tidak punya waktu, karena setiap kali datang pada garuk-garuk kepala. Akhirnya aku bosan karena menguras kantongku. Aku lalu telpon ke kakakku di Indonesia untuk mengirim Peditox. Kakak iparku tanya apa aku punya anjing yang lagi kutuan. Aku jawab, anjing kecilnya itu Ines sendiri. Lalu aku ceritakan perihal Lola dan Marie-Sarah yang selalu garuk-garuk dengan kedua tangannya. Kakakku menyahutinya, tinggal kedua kakinya juga naik untuk ikutan mengaruk-ngaruk seperti kirik (anak anjing) ato monyet aja.
Aku juga cerita ke mami, tante pokoknya semua orang Indonesia. Mereka yang di Indonesia pada heran, kok di Perancis, negara yang maju masih ada kutu. Mamiku berkomentar kalo aku tidak pernah terkena kutu rambut sewaktu kecil, kok sekarang jadi tukang hunting kutu.
Peditox pesananku itu akhirnya jalan-jalan berkelana keliling Jakarta dan Eropa sebelum akhirnya hilang sama sekali. Lha wong sudah aku suruh dipaket saja pakai pos yang harganya Rp. 1,3 jt/10 kgnya ato Rp 300 rb/kg aja pada enggak mau karena sayang-sayang duitnya, lalu dititip-titipkan ke sana ke mari jadi deh hilang.
Akhirnya temanku Suni yang berhasil membawa Peditox dari Indonesia. Aku sangat berterima kasih banget padanya. Sekarang aku mo pesen lagi. Nanti Juga pesen sama TuanSufi kalo dia balik ke Indonesia.
Sebagai info, pembasmian kutu rambut di tahun 2006 itu berhasil setelah bekerja mati-matian selama 3 bulan dan mengabiskan lebih dari 300€: lotion pembasmi kutu = 10€, shampoo untuk membantu melepas telur dari rambut = 10€, hairspray untuk dipakai setiap hari sebelum sekolah gunanya untuk pencegahan (walau tetep aja terkena lagi) = 10€.
Sekian dulu. Permisi mo garuk-garuk kepala karena sudah geli. Padahal tadi kepalaku juga sudah ditreatment ama Peditox. Pukul rata!!!!



Balisugar said
Waktu aku kecil banyak kutu dah yah peditox emang manjur banget, tapi barangkali ada merk lain pengganti ? Kalau susah cari peditox ?
Memang iya, tapi muahal sekali.
antown said
masak sih di perancis gak ada peditox? atau yang semacamnya? kalo harus diimpor kan susah bgt. Ternyata peditox ampuh juga yak? gimana misalnya yang punya kutu ternyata rambutnya dirasta (gimbal)? apa gak terpaksa harus digundul tuh? hehehe
PediTox ngak ada, ada sih semacamnya : Parapoux, Hexgor, Duo-LP blablabladll. Tapi harganya mak mahal banget. Minim: 10€ = Rp. 140.000,-/botol kecil, ada yang sampai 19€/botol. Kalo utk ngobati anak sendiri, ngak apa-apa. Ini ada titipan anak orang lain yg ortunya super sibuk sekali & engak sempat ngontrol kepala anaknya. Kalo enggak aku obatin nular lagi. Makanya di atas aku sebutkan sudah habis lebih dari 300€ utk membasmi kutu.
Makanya aku minta import dari indonesia, soalnya harganya cuma Rp.5.000/botol. Kalo pesan 10 kg, ongkos kirim Rp 1,3 jt, dapet +/- 100botols (10 botol tidak lebih dari 1kg).
Santri Gundhul said
Halah..halah…
Cerito tentang kutu kok yah bisa puuuuaaanjang banget yah ibu ini, emang gak MASAK apa bu..??.
Bu Yuli, mo nanya itu kutunya BULE juga gak yah…? So klu BULE pastinya GUUUEEEDHE banget yah..??.
Waaah..muantaf untuk OBAT DIABETES tuh…KLETHUS…KLETHUS..koyok nglethus cabe rawit gitju…heks..heks…
Kirain yg namanya TUMO ( kutu rambut ) adanya di Indonesia doang…
Ngeloyor…sambil ikutan garuk-garuk ndhas Gundhul…bukan karena TUMO bu, tapi KADASEN…
Ya tidak jadi masak, tinggal telpon calon ibu mertua untuk bikin makan. Kalo dia tidak mo, aku tak mo juga jadi mantunya!!! Wakakakakak…..
Calon mantu kurang ajar!Karena aku baru tahu (dgn mata sendiri) kutu rambut itu di Perancis, maka aku tak bisa bandingkan kutu indonesia dan kutu bule.
Menurutku itu kutu gede banget dah! Sambil garuk-garuk juga kayak kirik.
regsa said
waah.. lagi musim kutu kepala tho..
jadi inget dulu tetanggaku punya kera kecil yang punya kera kecil yang pandai mencari kutu..hihi
mungkin kera kecil ini bisa untuk menyisiati harga pembasmi kutu yang mahal .
Aku juga punya kera kecil pemilik kutu kecil yaitu Ines.
regsa said
bingung baca komenku sendiri..maksudnya tetangga punya kera kecil yang pandai cari kutu..
*mangap*
Tolong kasih pinjam kirim pakai DHL!
ndop said
WAOW.. mana mana kutunya? saya mau bternak. maklum di endonesa sudah langka. eh, ngemeng-ngemeng, ngga juga deng, soalnya ttanggaku ada yg kena juga baru baru ini.. harga serit (sisir kutu) ga sampe spuluhrebu mbak,paling banter 4rebu.
Entar aku kirim 1 tabung untuk dikembang biarkan dan kau kirim balik 1 container 40′ utk disebarluaskan di Eropa. Kau kirim juga Peditox + serit juga langsung minim 10 container 40′. Kita bisa dagang yok!
Sawali Tuhusetya said
jadi inget zaman tahun ‘70-an ketika saya duduk di bangku sd, mbak. wew… rata2 temen sekolahku, terutama perempuan, banyak yang kutuan. rambut warna merah karena sering terpanggang terik matahari. tumbuhnya pun jarang2 karena kurang gizi. kutunya yang lumayan banyak bisa dilihat dengan mudah. pemandangan semacam itu sdh menjadi hal yang biasa pada zaman dulu. kan belum ada obat atau samphoo!
Jamannya ibuku sudah ada PediTox. Waktu itu mungkin lumrah aja, ya? Maklum ekonomi masih susah.
atakeo said
Kutu rambut kepala manusia ada yang bilang hama penyakit. Harus basmi. Ada yang menggunakan sebagai obat untuk penyakit kuning. Saya tahu belakangan setelah melanglang pulau Jawa. Kutu menjadi saran sayang. Saya ingat om saya di desa kami Keo, dia sangat menyayangi anak-anak puteri saudarinya. Dia suka memegang kepala mereka dan menelisik kutunya.
Tetapi ada perang akibat kutu. Lihat di desa ada ibu-ibu saling mencari kutu temannya. Ini adalah sarana pertemuan dan menebar gosip. Gosip gosip miring yang disebar luaskan bisa menularkan perang mulut dan perang sungguhan.
Tetapi hush jangan omong tentang kutu busuk. Kutu kutu juga. Hama semuanya.
Memang bener gara-gara binatang yang sangat kecil ini suami-istripun bisa berantem keras: suami mo anaknya digunduli saja, tapi istri yang super sibuknya bersikukuh membiarkan rambut panjang anaknya, dll.
diorockout said
keramas ta..
*kabur*
Kutu rambut suka juga di rambut yang bersih. Dikeramaspun tidak hilang. Satu-satunya jalan harus pakai Lotion/shampoo anti/pembunuh kutu.
Aryo Bandoro said
Terima kasih, mbak orang baik, jadi numpang photoq lagi ya mbak, biar ikutan beken
Silahkan saja, mumpung gratis
lovesomatic said
Rajin Pangkal Pandai. Hemat Pangkal Kaya. Bersih Pangkal Sehat. Hee…
Anakku sudah shampooan 2 ato 3X seminggu. Tapi tetap aja ketularan.
telmark said
hehehe… dah lama kaga denger soal kutu rambut. btw, ceritanya menarik bgt. great.
Seumur hidup aku baru lihat itu kutu tahun 2006 lalu.
HEBOH : Kepalanya Jadi Kerajaan Kutu « AKU said
[...] Mataku adalah screenning kutu rambut yang jitu [...]
Rayyan Sugangga said
Ada kutu sekaligus telur kutunya, bisa nemu hewan sekecil itu di rambut, hebat. Duh jadi ikutan garuk-garuk kepala nih.
Harus makin sering keramas nih
Lama-lama bisa juga mengenalinya. Mo berapa kali kramas dalam sehari? Wakakakaka………
kabarihari said
hihihi..padahal di Indonesia saja sudah jarang sekali ketemu orang yang kutuan..
Yeah itu kalo di kalangan anda saja. Coba anda pilih salah beberapa pengamen cilik/anak yg minta-minta di pinggir jalan. Aku garansi pasti mereka berkutu. Sayang mereka tidak bersekolah di tempat anak anda belajar. Sudah pernah aku katakan kalo anak-anak gelandangan wajib masuk sekolah, jadi mereka bersekolah di sekolah terdekat tempat orang tuanya mencari makan.
Ini ada pengalaman nyata, adikku suka memotong/membersihkan rambut anak-anak gelandang yang tinggal di dekat rumah kami sewaktu kami tinggal di kompleks BNI Pesing, Jakbar. Waktu itu aku sering bilang,”Tom, kau iseng banget sih! Ngilani banget!”, yang disahuti dengan tenang,”Kasihan anak-anak ini, gimana aku bisa ngajar mereka membaca dengan tenang, kalo tangannya garuk-garuk kepala terus. Pan konsentrasinya ada di kutu!”
Beberapa minggu kemudian, mami dan Yu Nem pun ikut-ikutan membersihkan kutu dari rambut, dan membantunya mencuci baju mereka seminggu sekali. Tentu saja pekerjaan ini di luar sepengetahuan bapak. Karena dia tidak setuju sekali dan alergi
(Mungkin alergi ini dibuat-buat saja)Ketika aku bercerita hal ini, mereka bilang kalo aku kuwalat.
antown said
akhirnya habis berapa botol mbak? bukankah hanya dengan dua-tiga kali keramas peditox cukup ampuh?
Sari said
Ibu, Bapak, Om & Tante semua….aku juga kutuan nih…tapi kata mama cari peditox kok susah banget…ada yang tau gak dimana bisa beli peditox. Aku udah coba cari dibeberapa toko obat dan apotik di Jakarta Barat tapi tidak berhasil katanya barang lagi kosong. Mungkin banyak yang pada kutuan kalee….
Di rumahku ada 10 botol peditok dikirim dari Indonesia. Setiap ada orang pulkam pasti aku dioleh-olehi. Mereka (kakakku, teman, mama,…) belinya di toko obat/apotik/warung obat di pasar.
Masak seh ngak ada se Jakarta Barat? Jangan cari di Mall Ciputra! Carinya di Pasar Grogol … yang mana masih ada masyarakat kelas bawah! Kalo ngak cari di pasar grosir obat jalan Pemuda.
Bawa ke UK kira-kira 10 botol … in case of anaknya atau kita kena kutu lagi …
Salma said
Aku juga kutuan nih….
Gimana ya cara ngilanginnya…??
Putri Sarinande said
ajiiip, prancis gituuu KUTU
*sekitar, 18tahun silam keknyah*
dulu, kerna keseringan main di kampung nenek, panas-panasan dan lain sebagainya dan tidak terurus, gue pernah merasakan ganasnya kutu dan dahsyadnyah peditox
ayi said
saya sudah cari cari peditok ga ada sama sekali katanya udah ga ada
ada yang bilang ditarik semua, mungkin ada gantinya yang baru tapi sampai sekarang masih ga ada bagaimana nih jadinya nasib yang kena kutu tolong dong kasih solusi yang terbaik.