Masa Kecilku di Siwalan Barat Semarang
Posted by juliach on June 10, 2008
Tahu sendiri khan, aku ini bukan tikus orang kota asli. Aku lahir di RS Panti Wilasa dan tinggal di dekat situ (aku lupa namanya) di kota Semarang, lalu pindah ke Puspowarno tepatnya di belakang Pabrik Pentil [baca: péntil bukan pentil=puting susu] seingatku TK besar dan SD kelas 1. Berhubung harus berenang terus dengan cethol/kecebong di air ireng lethek, maka aku dibawa pindah ke Siwalan Barat. Di sinilah petualanganku dimulai. Rumah kami di kelilingi sawah, tetangga depan kami, si bapak berprofesi sebagai tukang becak, sedang si ibu tukang makanan jadi. Mereka beranak bebek banyak, salah satunya seumuranku bernama Gendon.
Sewaktu tinggal di Siwalan Barat ini, ibuku sedang hamil adikku terkecil. Setelah melahirkan, ibu mengalami banyak komplikasi, keadaan adiku juga tidak bagus. Enggak tahu tuh dia sakit-sakitan melulu. Jadi kami sering dititipkan ke ortu Gendon, selama ibu di rumah sakit.
Pertama aku merasa geli tinggal di rumahnya, lantai dari tanah dan mereka tidur tanpa kasur. Kamar mandi mereka ada di luar rumah, berdinding bambu dan seng yang sudah karatan. Yakin deh banyak lubang sana-sini, kita bisa tahu siapa pengguna bilik itu. Kamar mandi tiu juga beratap langit, jika hujan tidak perlu repot membilas badan kita yang penuh busa itu. Dengan senangnya, Tuhan mengguyur kami dengan berliter-liter air.
Untuk makan pun aku terpaksa makan seperti mereka : sayur mangut, ikan asin, penyek teri (aku pikir ini remukan ikan teri), ikan lele,…
Seperti anak-anak kampung lainnya, aku pun harus mencari ikan di kali kalen sebelum makan. Bak tentara berjalan gagah menuju medan perang, kami pun bergembira berkayal akan menang mendapat hasil ikan berember-ember. Setiba di kalen besar, Gendon sebagai komandan perang bajak laut golek iwak (pencari ikan/nelayan) berteriak kegirangan melihat kerumunan emas ikan bethik (semacam ikan lele tapi kecil-kecil). Dia suruh sebagian anak membendung bagian sungai di atas, sebagian di bawah dan aku kebagian tugas beol/buang air besar. Aku bingun bin ragu-ragu sama tugas yg diberikan komandan Gendeng Gendon ini. “Goblog! Ngisinga wae kono!” (Bego! buang air besar aja sana). Aku tambah ragu, di sinikah? Di sanakah? Aku sendiri agak malu, karena semuanya cowok.
Sambil mengancam bakal memecatku sebagai anggota FPI=Front Pengolek Iwak kelompok itu, dia menarikku berdiri di sebelahnya. Dengan sigap dia melorotkan celananya yang kumel dan berlobang, dan crut….crut…crut…bener-berner dia menahi. Karena takut dipecat, akupun ikut-ikutan crut…crut…crut…
Setelah bikin beberapa crutan, aku pun ternganga melihat betapa banyaknya ikan yang mengerumuni crut-crutan itu. Dengan komando komandan Gendon,”SERBU!!!!”, maka semua anak turun ke air menyerbu menangkap ikan-ikan yang naas itu.
Sebagai priyayi, aku hanya berdiri di tepi kali melihat mereka bekerja keras. Tak aku gubris teriakan si komandan. Aku pun ikut-ikutan berkomando, “Eih! ada ikan di sini! Tuh…tuh…lari ke sana!!!”
Dari jauh, Gudhel (anak kebo) adik Gendon, terseok-seok menarik songkro (gerobak). Aku pikir nih anak ngapain. Ternyata songkro itu untuk mengangkut hasil buruan kami.
Tak aku duga sama sekali, mereka berhasil menangkap 6 ember besar ikan.
Di rumah, ibunya sudah menunggu. Dia sangat bergembira melihat hasil tangkapan kami. Dia sudah menyediakan beberapa drim untuk menyimpan hasil ikan dan besok akan dijualnya ke pasar.
Dengan lembut, dia melepaskan baju kami masing-masing dan menguyur kami dengan air bersih. Setelah mandi, kami diberi makan. Betapa lesatnya makanan itu.
Bersambung ya?



Sawali Tuhusetya said
wah, masa kecil mbak julia di siwalan barat? asyik juga bernostalgia, ya, mbak. aku sendiri akrab dengan kota semarang sekitar 5 tahunan sewaktu belajar di lembaga pendidikan. sesekali masih sering juga ke semarang karena dekat. kendal-semarang bisa ditempuh tak lebih dari 1 jam. btw, kapan ke semarang, mbak? mampir, yak?
Yen dipikir-pikir kang, sungguh berharga juga, ya. Iya, kalo ada libur panjang ke Indonesia.
lainsiji said
heh ada nangkep ikan pake ee’ (ga pake sensor)
informasi berharga
*lupakan pancing, ada yang lebih murah meriah dan lebih efektif ternyata*
Berarti Gendon itu anak pinter, padahal dia tidak naik kelas sudah 2 kali.
ragilduta said
weladalah..ngertio ngono aku dulu mancing ikan aja ya. Dulu aku suka mancing yuyu di patriot-poncol. Repot, harus bawa benang.
Ini bukan mancing ikan, ini namanya nawu ikan.
kabarihari said
“Goblog! Ngisinga wae kono!”
ini beneran mbak?
Sumpih kisah nyoto iki!
iman brotoseno said
front pengolek iwak..??
* he he
Wakakaka…………..
azaxs said
Hmm mnarik mba…
kayae FPI di dusun-ku ga sbrutal disitu deh
Mbener lho kang! Mereka itu menyerbu dan mencekek ikan-ikan itu dari belakang karena takut kepathil.
serdadu95 said
Salute Mbak.. bisa menyampekan dgn apa adanya..
Penggunaan bahasa “crut…crut…crut…-e” ki lho mbak.. ra nguwati
*jadi mikir kalo mo makan ikan produk dari siwalan barat smg*
Ini kisah nyata, jadi ya begini! Mosok, situ sorodadu koq kalah sama aku. Aku aja bisa ngetik sambil makan sarapan pagi. Ato malah sarapan pagi di WC! Wakakakaka…………
rama said
wah, masa kecil yang bahagia di pedesaan.. saya kecil2 udah stress mas .. hheeheh
Kenapa kecil-kecil sudah stress? Bukannya waktu kecil kita ngak mikir apa-apa? Bahkan bahaya pun tidak terpikirkan.
jmzach said
Wah seru juga ya. Saya jadi ingat saat jambore pramuka di Semarang dan berenang di Kaligarang dekat kawasan Tinjomoyo.Senang sekali berenang berenang disana sambil berujar “Segar-segar” dan sekonyong-konyong ada si kuning berlayar di depan mata eit langsung cepat2x ngacir hi2x.
Kaligarang khan tempat mbah Harto semedi.
agoyyoga said
Wah mbak asyik tenan
coba ada fotonya. Terus gimana kabar si Gendon sekarang?
Tahu sendiri kamera poto itu barang mewah waktu itu.
Th. 1998 aku kembali ke Semarang buat legalisir akte kelahiran, sudah tidak ada sawah di Siwalan barat. Aku memang sengaja mencari-cari orang yang aku kenang. Semuanya had gone without trace. Aku hanya bisa menemukan bekas pembantuku sewaktu aku kecil hingga umur 5th.
ubadbmarko said
Aku juga anak kampung mbak, ga kepikiran tuh bisa ngeblog,ah enjoy saja, Salam kenal.
Lumayan khan dapat bahan tulisan. Salam kenal kembali
antown said
ternyata orang2 dari kampung kayak saya tidak sedikit di ruangan ini. Halo semuanya. pancen enak dadi wong kampung, akeh sing iso diceritak-ke (emang enak jadi orang kampung, banyak yang bisa diceritakan). Tapi sayang saya tidak bisa merasakan suasana desa kayak yang mbak ceritakan. Saya hidup di kampung, di tengah-tengah derasnya industri perkotaan. Kalo mau main di sungai nggak bisa. Yang ada got besar saat banjir datang. Kalo sawah apalagi.
Ceritanya bagus mbak, sangat ditunggu lanjutannya…, kapan nih?
Sayang sekali…jadi aku masih termasuk anak yang beruntung ya?
Rita said
Ceritanya seru!…6 ember ikan? banyak banget…..
Ditunggu kelanjutanya…..
Embernya enggak besar-besar banget seh. Bayangin saja seberapa gede anak SD kelas 2.
edratna said
Hehehe…seru sekali masa kecilnya ya…saya dulu juga suka ke sungai dekat rumah, dan pulang diam-diam agar tak dimarahi ayah.
Kenapa ya, ortu dulu suka marah-marah?
toim said
cerita masa kecilnya lutu jg…
ternyata ikan suka dipancing pake ee ya? dpt-nya pasti kebanyakan iwak lele mungkin?
Memang iya, tapi ada beberapa ikan yg laen juga seh.
ndop said
biyuh-biyuh.. tak jowoan wae yo mbak. tibake mbake wong semarang. hehehe.. supaya mbaknya nggak lupa boso jowo..
peh, pengalaman ket cilike dahsyat. sampek golek iwak cethol barang. sampek ngising-ngising barang.. wakakaakkaa….
aku byen nek ngising malah ngadek mbak, karo gocelan tiang pemean (jemuran).. kayak raja sedang membawa tongkat, tapi keluar sesuatu dari belakang. kekeke…
Waktu itu aku belum bisa bahasa Jawa, aku belajar bahasa Jaw di kelas 4 SD di Solo. Pake les segala lho.
Itu cara ngising sing aneh, kok koyo Vicky wae!
suandana said
Sampai sekarang saya masih tinggal di kampung lho, Mbak… Tapi, sudah dak pernah lagi berenang di sungai depan rumah, karena sungai tempat main saya itu tercemar limbah dari PG
Sedih banget…
hamsin said
aduh ceritannya menarik slam dari http://www.hamsin.wordpress.com
Ok pasti aku kunjungi
Singal said
he3x..makanya ikannya gurih…
Wahhh……gurih sekali…memang lezzzaaaaatttt…..
achoey sang khilaf said
masa kecil yang indah
Amin
ratutebu said
lucu bgtttt.. ^ketawa guling-guling^
Ini ngetiknya sambil berlinang air mata gara-gara geli sendiri.
myandrew said
spt baca cer ber saja.hehe..masa kecil tu berharga banget ya.walau anak ku tidak tinggal di kampung spt aku dulu, tapi aku slalu biarkan dia main tanpa sandal, cari cari semut di pasir,kejar kejar kucing, naik sepeda,cuma yg ga bs mandi air hujan.hehe..polusi kota parah banget..ditunggu cerita lnjtnya..:D
Ines pernah masuk RS gara-gara minum air talang di Jakarta. Engak apa-apa, biar tahu. Habis kalo dikasih tahu ngenyel banget.
trijokobs said
kkekeke ngakak aku baca postingan ini..
ada pentil, ireng lethek, gendon, songkro
diriku juga FPI : Front Pemakan Iwak.
semarang – Boyolali.. deket. cukup Rp.1000
(nggandul truck)
hahahaha……ada teman juga….hehehehe…..aku ada cerita nggandul truk mo nyuri semen…namun itu aku sudah besar, udah kuliah…entar satu persatu aku ceritakan.
Masa Kecilku Di Siwalan Barat Semarang (Lanjutan dan akhir) « AKU said
[...] Masa Kecilku di Siwalan Barat Semarang [...]
Tigis said
Jadi inget rumah mbah jadul di baturetno deket solo. Dulu lantainya tanah, hampir semua perabotnya dari bahan sederhana spt kayu dan anyaman bambu. Tp rumahnya luas banget. Dapurnya aja entah berapa meter persegi. Kayak lapangan kecil
Kmr mandinya jg cuman dari anyaman bambu, yg pasti keliatan lobang2xnya hehe
Mardies said
Matur nuwun. Mbak Julia telah mengingatkanku pada ibuku tercinta.
Sekali lagi matur nuwun Mbak
Oi…oi…oi…sanjungannya. Terima kasih ya! Tapi ibumu lebih hebat bukan?
galihyonk said
Hm,, jadi teringat masa kecil ku di desa… heHE,,
*semarang kota Lumpia… ugh,, kangen dengan Lumpianya yg khas…
Aduh gimana neh malah ngomongi lumpia…bikin ngiler…ndlewer-ndlewer sampai ke kali…
sarahtidaksendiri said
Masa yg kayaknya g bakal terlupa ya mbak…hehe..
Mana bisa lupa?
Poppy said
ceritanya deskriptif skalee…ada onomatopoeianya sgala (crut..crut). Sayang ga ada fotonya hehehe..
salam kenal ya bu..makasi sudah berkunjung ke blog saya
Sebetulnya aku punya photo anak-anak kampung telanjang main perahu…males pasang saja…