Susah juga membaca pikiran orang 1
Posted by juliach on August 10, 2008
Baru hari ini aku bisa bernafas agak lega dikit. Belom habis keselku enggak lulus ujian SIM, berlanjut dengan acara pernikahaan anaknya Nanoe dan Dédé: David dengan Andréa, akhir pekan lalu di Paris.
Bagaimana tidak engos-ngosan, acara perkawinan itu sudah di planning 6 bulan yang lalu, tetep aja berantakan dan simpang siur. Waktu itu aku sudah telpon ke pasangan tersebut dan juga ortunya untuk menanyakan apa yang bisa aku tolong. Menurut mereka tidak ada, hanya David meminta tolong mencarikan villa di Bali untuk honey-moon. Itu saja.
Sudah dari jauh-jauh hari, aku putuskan jika keluargaku (Zo, Ines, Vicky dan aku) pergi ke Paris naik mobil via jalan toll dan waktu berangkatnya pun tidak aku tentukan tergantung dengan kesiapan kami saja. Hihihi…mana bisa siap, jika semua harus disiapkan sendiri.
Lewat jalan toll? Walaupun lebih mahal, namun lama perjalanan sangat singkat. Jarak Le Creusot-Paris sejauh 350 km bisa ditempuh selama +/- 3 jam. Di toll, kita bisa mengendarai mobil dengan kecepatan maksimum 130 km/jam. Pertimbangan lain: aku membawa anak balita yang harus diikat di mobil, jadi kalau dia mulai menangis, maka kita harus berhenti istirahat di parkiran khusus jalan toll, di situ biasanya juga ada taman bermain untuk anak-anak.
Seminggu sebelum pergi, rombongan dari Le Creusot mengajak konvoi rame-rame via jalan national, otomatis aku tolak. Aku tahu betul berapa lama waktu yang harus ditempuh jika tidak melewati jalan toll. Paling cepat 5 jam! Ini tanpa istirahat dan ini di tahun 2000. Sekarang ini di Perancis semakin hari semakin banyak saja radar pengontrol kecepatan. Dalam jarak 50 km, kita bisa bertemu 5-10 radar. Lagi pula kecepatan bervariasi antara 30 km/jam s/d 110 km/jam. Jika masuk kedalam kota, kita harus melaju dengan kecepatan 50 km/jam, 30 km jika di depan sekolah walaupun hari libur sekalipun. Lagi pula kalo kena cepret photo radar mahal sekali dendanya (tergantung kecepatannya) selain itu point di SIM kita berkurang bisa-bisa kita tak bisa nyetir lagi jika sudah tak punya point.
Hari Kamis, 31 Juli 2008, Zo mendapat SMS dari Nanoe jika kita semua harus sudah berada di hotel l jam 4 sore hari Jumat, 1 Agustus. Alangkah marahnya Zo, karena acaranya berubah lagi. Ah, cuek sajalah! Tinggal bilang kalo tidak terima SMS, kecuali jika ditelpon, tinggal kasih alasan anak tidak bisa diajak kompromi.
Hari Jumat, 1 Agustus
Akhirnya kami berhasil meninggalkan rumah jam 12 teng! Ini saja ada halangan, sesudah mengunci pintu rumah, pantat Vicky bau busuk. Oh, dia beol! Terpaksa harus menurunkan Ines dari mobil dan masuk ke appartement untuk membersihkan si Vicky.
Tidak hanya itu saja, di Chalon Sur Saône (45km dari Le Creusot), tepatnya 500 m di depan pintu toll, ada truck konvoi exceptionelle yang mogok di jalan. Otomatis jalan terblokir. Begitu mobil tidak melaju, anak-anakku mulai resek, Vicky mulai rewel.
Begitu masuk toll, aku teringat setelan jas Zo belum aku masukan ke dalam mobil. Semalam, aku agak kebingungan, jika setelan jas itu aku masukan ke koper pasti kusut. Jika aku gantung di handle pintu, pasti ditarik-tarik oleh si Vicky. Maka Zo putuskan digantung ditempat semula dan dia yang akan memasukkan ke mobil.
Selagi aku melerai Vicky dan Ines, dasar anak-anak selalu ribut terus, sehingga aku tidak mengco-pilotin Zo. Maka Zo bablas saja. 20 menit kemudian aku agak curiga karena aku tidak mengenalin jalan itu. Ternyata di persimpangan di Baune, Zo memilih jalan ke Dijon bukan ke Paris jalan A6 (Autoroute nomor 6), lalu di persimpangan di Dijon dia memilih ke Lille via jalan A19 lalu A5. Rupanya Zo juga memikirkan jas itu.
Zo mulai memanas pula, untung aku bisa tenangkan dia. Pertama, kami harus balik ke Dijon untuk ke Paris via A38 caranya ambil jalan keluar toll dan masuk toll lagi yg berlawanan arah. Kedua, kami masih punya waktu untuk beli setelan jas, jika tidak: pakai aja hem panjang dan celana blue jean.
Begitu masuk Dijon, aku melihat Mc Donald, aku sarankan Zo untuk berhenti karena penumpang kecil di belakang sudah bernyanyi ,”Maem….maem….maem….” Di Mc Donald, aku menelpon Nanoe karena kami ada sedikit masalah dan pekiraan sampai di Paris jam 5-6 sore, tergantung anaknya mo diajak kompromi. Berita dari Nanoe: mobil Roland mengepul di Auxerre dan harus menunggu jam 2 siang sampai bengkel buka. Tak lama kemudian Roland menelpon, dia juga menyarankan utk menelpon Julien supaya bisa mampir ke rumah ortu Zo untuk mengambil jas yang lain. Masalah jas terselesaikan. Horeeee!!!!!
Akhirnya kami tiba di Hotel Ibis Billancourt jam 5 sore. Perjalanan dari Dijon-Paris berjalan lancar. Setelah makan kenyang, anak-anak tertidur pulas. Roland tiba di hotel 15 menit sebelum kami tiba. Padahal dia berangkat dari rumah jam 8 pagi. Mobilnya mengepul karena temperatur mesinnya naik, maklum mercedes tua. Reparasinya hanya memakan waktu 10 menit: ganti fusi (sekring ya?).
Setelah check-in dan menaruh barang-barang di hotel, kami harus mengikuti Dédé (bermobil). Dia ingin menunjukkan di mana tempat-tempat yang harus di kunjungi esok pagi: rumah pengantin untuk mendekorasi mobil, walikota Rueil Mal Maison, Gereja dan kapal di tepi sungai Seine untuk resepsinya. Urut-urutan mobil konvoi sore itu: Dédé, Zo (dan aku tentunya), Roland dan Marie-Anaïs.
Menurutku orang-orang ini tidak logik. Tahu sendiri konvoi 4 mobil di kota besar, paling tidak pakailah bendera/tanda. Pemimpin konvoi: Dédé mengendarai mobil terlalu cepat. Seharusnya dia pelan-pelan, jika lampu kuning, sebaiknya berhenti saja, bukannya malah digas habis. Supaya, pengikutnya bisa menghafalkan jalan, harus dipilih jalan yang paling simpel dan harus menghindari puteran-puteran. Ini malah tidak, begitu banyak bunderan, perempatan jalan dan bukan jalan utama. Sebaiknya lagi harus punya foto-copy peta dan jalan yang dilewati harus distabilo. Akhirnya kami kehilangan Roland dan Marie-Anaïs di jembatan St. Cloud.
Sesampai di rumah pengantin, acaranya berubah lagi. Aku harus menjadi penterjemah Bhs. Inggris-perancis. Orang tua Andréa itu orang Amerika dan mereka tak bisa berbahasa Perancis, sedangkan keluarga David, tak ada yang berbahasa Inggris. Mungkin oleh sebab itu Zo dan aku diundang pula.
Di rumah itu, Lin : ibu Andréa, memintaku membuat pita-pita untuk menghiasi mobil dan gereja. Sedangkan yang lain duduk-duduk di teras belakang sambil minum aperitif (alkohol). Bravo!!!
Jam 8, sebelum pamit pulang, aku usul supaya setiap pemilik mobil mengambil pita-pita yang sudah aku buat untuk menghias mobil mereka esok pagi di hotel. Sayang sekali usulanku ini ditentang oleh para orang Perancis. Menurut tradisi mereka, sebelum pergi ke Walikota, kita harus berkumpul 1 jam sebelumnya di rumah pengantin untuk menghias mobil. Yah, terserah deh, pasti berantakan deh besoknya!!!
Kita kembali ke hotel tanpa di antar oleh Dédé, Zo menyuruhku bertindak sebagi GPS ah bilang aja burung merpati Pos atau anjing pelajak. Seperti biasa tanpa peta, aku hanya menyuruhnya jalan terus, belok kanan, belok kiri, pelan-pelan…….10 menit kami sudah tiba di hotel tempat kami menginap. Ketika semua orang turun dari mobil, mereka semua berteriak “Bravo Zo!!!!”, akupun protes, “Seharusnya bravo Julia, karena akulah guidenya!!!” Mereka girang sekali, jalan yang kami tempuh hanya melalui 4 belokan saja dan 1 kali menyeberang jembatan, selain itu aku memakai telpon konvernsi selama perjalanan supaya mereka bisa siap-siap belok/mencatat tenpat-tempat yg harus kita lewati.



ndop said
di paris sono, ada kenang-kenangan manten nggak mbak jul?? kayak gantungan kunci, kipas wangi, dll…
zoel chaniago said
ya iya lah sesah
hehehhehe
Manik said
Bagaimana cara membaca isi hati atau pikiran orang lain?
menurut aku seh..mendingan gak usah..
kalopun bisa dan saat itu bisa membaca pikiran semua orang yang sedang kelaparan, apa mau ditraktir semua..???
Sawali Tuhusetya said
walah, belum lulus juga, mbak ujian sim-nya? beda banget dg prosedur sim di negeri kita, mbak. ndak perlu pakai ujian. yang penting ada duwit, langsung tinggal nunggu aja. pulang dah bawa sim.
Gelandangan said
hehehe betul yang dikatakan pak sawali : sepakat pak makanya tingkat kematian dalam situasi kecelakan sangat besar orang enggak bisa bawa mobil dapet sim
laporan said
Nah lain kali konvoi sewa vor reider yang naik sepeda motor di depan untuk mencari jalan sekaligus mengatur kecepatan hiks hiks..
Blog Bisnis said
lam kenal yach
didta said
ya ya,.. emang gak mudah mengerti apa yang dipikirkan orang lain
gi3 said
wew
okta sihotang said
harus belajar dari demian atau dedy combuzier suapaya bisa baca pikiran orang mbak juliach..
ragilduta said
iya, betul tuh. mending baca komik
agoyyoga said
Apa karena orangnya mikir pake bahasa plane?
*komen gak mutu… ditendang mbak Julia*
Edi Psw said
Ooo, ternyata di Perancis juga ada hotel Ibis seperti di Surabaya ya?
syelviapoe3 said
Sepertinya…dimana-mana Acara Pernikahan itu selalu ribet, ya ? he..he.. gayaku seolah sudah pernah mengalaminya saja…
*soktahudotcom
ridu said
wah canggih banget yah ada radarnya..
Susah juga membaca pikiran orang lain 2 « AKU said
[...] Susah juga membaca pikiran orang 1 [...]
edratna said
Pengalaman kemarin saat keponakanku menikah, banyak terjadi hal-hal yang kalau dipikirkan bikin stres…akhirnya kami mengambil keputusan untuk dinikmati aja…..memang akan banyak hal diluar dugaan, walau rasanya sudah dipersiapkan se baik-baiknya.
Apalagi jika ada anak kecil-kecil, akan lebih memerlukan waktu ekstra untuk memperhatikan.
Balisugar said
Kan enak jadi penerjemah guede duitnya