AKU

  •  

    October 2008
    M T W T F S S
    « Sep   Nov »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • Blog Stats

    • 243,619 hits
  • Top Posts

  • a

  • Spam Blocked

Dear Pak Eri

Posted by juliach on October 10, 2008

Artikel ini memang aku tujukan ke Bapak Eri, dosen Tehnik Komputer, Universitas Terkemuka di Jakarta.

Di dalam hidup ini, kita pasti ingin menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Kala kita masih kecil mungkin hidup kita susah, tapi kita tidak layak menerapkan kesusahan kita dulu ke penerus kita atau anak cucu kita.

Kalau kita mempunyai pengalaman yang jelek, tak pantaslah kita menjerumuskan anak-anak/penerus kita bahkan orang lain supaya mendapat pengalaman yang sama. Jika kita mempunyai pengalaman yang baik, tak perlulah kita menutup-nutupi informasi itu supaya mereka tidak bisa mendapat kenikmatan.

Ada orang bilang dalam setiap percobaan/experimental terdapat istilah Trial and Error. Memang segala sesuatu yang kita coba itu tidak selalu berhasil. Namun tak ada salahnya sekali trial tidak pernah error apalagi percobaan itu diaplikasikan langsung ke manusia. Bukan Tikus!!!

Tahun ini aku juga menemukan dengan tidak sengaja 2 mahasiswanya yang lagi magang di Le Creusot.

Ketika aku undang makan malam di rumahku -kami mendiskusikan masalah living cost di sini. Salah seorang menanyakan apakah dengan biaya 550€ bisa cukup untuk hidup di Perancis.

550€? Itu maksudnya apa? Hanya untuk makan dan hidup? Tidak! Biaya itu sudah termasuk bayar apartement. Nah, kalau ini mah tidak. Bagaimana bisa? Sewa appartement saja sudah 330€/bulan, nah sisa 220€. Memang sewa appartement itu sudah termasuk dengan listrik dan air, tapi jika pemakaian listrik berlebih maka penyewa akan dikenakan biaya tambahan. Ini yang sedikit aku kawatirkan, karena apartement tersebut tidak memakai pemanas ruangan central, melainkan pemanas individual. Sedangkan appartement mereka itu panas sekali, mungkin mereka menyalakan pemanas ruangan itu full. Maklumlah dari Indonesia.

Aku berharap saja mereka ini tidak akan pernah sakit selama 6 bulan di Perancis. Mereka memakai asuransi dari Indonesia. Jadi jika mereka sakit, mereka harus memakai uang mereka terdahulu baru nanti diganti oleh asuransi.

Mengapa harus memberi budget yang sangat mepet sekali. Kenapa tidak buat yang lebih sedikit agak longgar supaya mereka bisa belajar dengan tenang. Bukankah orang tua mereka yang menanggung kehidupan mereka selama mereka magang di sini?

Begitu mengetahui hal ini, entah mengapa aku langsung berpikiran jika mereka kekurangan, mereka pasti akan meminta tambahan ke orang tua masing-masing. Pastilah orang tua mereka berpikiran apakah anak mereka di Perancis itu mau belajar atau bersenang-senang. Untuk menenangkan diriku dan tentu saja mereka berdua maka aku berharap saja orang tua mereka tidak demikian. Aku berharap mereka masih mempercayai anak-anak mereka. Aku berharap pula mereka tidak meminta konfirmasi ke Pak Eri.

Bukannya aku tidak mau menolong mereka. Di sini aku siap jika dimintai bantuan. Pastilah aku akan membantunya semaksimal mungkin. Asalkan tidak mengganggu keuanganku, karena aku ini tidak bekerja dan aku ini hidup sendiri tanpa suami menanggung 2 orang anak. Pastilah aku mau membantu untuk mengurus Carte de Séjour dan permohonan bantuan apartement dari CAF. Meskipun aku tidak yakin apakah mereka bisa mendapatkan bantuan, pastilah aku akan tanyakan lagi dan lagi dan lagi. Aku juga sanggup mengantar/jemput mereka jika tidak ada bus/transportasi ke suatu tempat asal tidak jauh-jauh sekali.

Mengapa anda memberikan informasi yang tidak benar? Aku rasa itu tidak perlu. Kita tidak perlu mencekik orang lain dengan cara begitu. Apakah anda tidak suka melihat orang lain tersenyum?

Jika tidak sanggup menghitung budget bagi untuk mahasiswa/dosen yang mau belajar di sini, silahkan tanya ke aku. Minimal kasihlah 950€/bulan untuk tahun ini. Syukur-syukur bisa lebih.

Ingatlah mereka ini manusia. Bukan Tikus!!! Mereka ini manusia yang wajib dihormati, yang wajib mendapat ketenangan jiwa, yang perlu kasih sayang, yang perlu tersenyum dan yang sangat memerlukan kebahagian.

Mohon maaf jika perkataanku langsung menuju sasaran, karena aku orangnya begitu dan di sini kita sudah terbiasa hidup langsung berterus terang tidak perlu sungkan-sungkan.

Sekian dulu. Semoga hal ini juga berguna bagi penyelenggara beasiswa yang lain.

33 Responses to “Dear Pak Eri”

  1. Rafki RS said

    Ikut prihatin. Semoga menjadi perhatian oleh yang bersangkutan.

    Paling tidak ini bisa dibaca oleh orang tua kedua mahasiswa yang magang itu.

  2. pranajayas said

    wajar kalo banyak para expart dan profesional pada hengkan ke luar negeri, karena di dalam negeri mereka diperlakukan seperti itu, ironis sekali memang

    Apa boleh buat

  3. ndöp™ said

    omaigaaat.. itu kalo dirupiahkan berapa ribu ya mbak?

    550€ = 550 x 14 000 = Rp. 7 700 000,-. 1 kg beras = 1,5€; 1 ayam bakar = 7,5€, 1 tiket bis utk 1 kali jalan=1€,…

  4. Anggi said

    cukup mencekik, mo pintar ko susah yah… harus berjuang lebih ternyata

    Memang harus berjuang, semuanya bisa berjalan baik jika semua informasi lengkap dan benar.

  5. Yari NK said

    Wah…. bagus tuh mbak informasinya….. Memang hidup begitu terkadang harus blak-blakan dan tanpa sungkan2. Saya juga begitu orangnya suka blak2an, karena saya menganggap kesungkanan hanya akan membawa kebingungan dan kesimpangsiuran saja. Ada waktunya kita sungkan dan ada waktunya kita harus sangat tegas……

    Aku sungkan untuk mengali liang kubur dan untuk mengubur diriku sendiri bersama orang-orang di sekitarku…

  6. novnov said

    duhhh memprihatinkan ya….

    ya…

  7. Edo Yogi said

    Materi yg disampaikan baik, tapi akan lebih baik kalau mbak yulia menyampaikan langsung dan konfirmasi setiap permasalahan langsung ke yg bersangkutan secara pribadi terlebih dulu dari pada media terbuka seperti ini. Mungkin ada hal2 yg belum jelas dari dua sisi, tidak hanya dari satu sisi saja. Sehingga tidak memicu permasalahan lain ataupun bagi pihak lain. Juga ada baiknnya permasalahan difokuskan pada pihak dan pokok utama, karena suatu institusi tentunya tidak bisa direpresentasikan seluruhnya oleh satu individu saja.

    Salam

    Ok. Maksudku bapak Eri yang kerja di univ. itu. Dia sudah pernah belajar di Perancis, 2-3 tahun yang lalu. Aku tidak bermaksud membawa institusi itu.

    Mungkin dia menghitung budget berdasarkan ketika dia dulu hidup di sini. Masalahnya sekarang -seperti juga di Indonesia- ada kenaikan harga barang-barang. Apa lagi sekarang sudah masuk musim gugur, sebentar lagi musim dingin. Pastilah pakaian mereka dari Indonesia sudah tidak cocok untuk musim ini. Mereka harus membeli baju musim dingin dan sepatu boot. Apalagi lokasi appartement mereka dan kampus (jaraknya cukup dekat, atas bawah) curam sekali dan sangat licin di musim dingin. Sepatu tanpa anti derapan/slip akan berakibat fatal. Jika tergelincir, mereka akan terjatuh ke jurang yang cukup dalam.

    Sorry aku berpikiran jelek saja. Aku lebih suka berantisipasi.

    Ok, aku sudah koreksi sedikit.

  8. Wah ada Universitas Terkemuka Indonesia (UTI) baru dengar :D
    dengar2 kalau mahasiswa di sana, siap kerja apa saja. Jadi mungkin dengan living cost sedikit, mereka bisa kreatif cari2 kerja dst. maaf kalau salah.. :D

    Ok, jika mereka sudah mendapat carte de séjour (kartu tinggal/KTP). Membuatnya lama sekali, lagi pula saat-saat ini banyak pemohonnya (awal masuk sekolah), bisa 3-6 bulan prosesnya. Berhubung mereka hanya magang 6 bulan, maka mereka tidak bisa bekerja.

    Selain itu pekerjaan-pekerjaan musiman (seperti petik anggur) sudah berlalu. Sedangkan pekerjaan yang lain -cuci piring- tidak banyak ada di kota sekecil Le Creusot ini.

  9. Johan said

    Yahh…, jadi bingung juga kalau dikasih dana yg cuma separuh untuk ukuran standard minimum. Di negeri orang lagi. Kalau di Indonesia aja, mungkin masih bisa pinjam beras sama saya kalau lagi kehabisan modal. Wekekeke…
    Mudah2an ke depannya akan ada perbaikan anggaran.

    Mereka ini bukan korban pertama. Aku memang berharap bisa stop sampai di sini dan langsung dikoreksi anggaran itu.

    Semoga lebih baik.

  10. Mhswa said

    wah, kasian jg ya, mgkn keadaan negara kt gy krg, n makanya pa dosennya ksh perkiraan dana yg g terlalu berat bg mhsswanya. Sy jg mhswa yg gy study abroad di eropa, d sn sy jg hdp belajar hemat, n karena tuh, sy jd belajar bahwa kendala yg dihadapi hrs bs kt selesaikan, mknya skrg bwt pa mengeluh, lbh baik trus belajar. Tp, salam y mbak bwt kedua mhswa tersebut.

    Mereka tidak mengeluh. Mereka enggan berbicara kalo tidak ditanya. Aku selalu tanya perlu apa?

  11. Hadoh, mungkin kalo diibaratkan 550E tadi cuma buat sekedar hidup menggelandang kali yah… astaga (mengurut2 dada)

    mudah2an mereka berdua baik2 saja

    santunan untuk gelandangan legal (punya KTP) di Perancis = 447€. Ini jika hidup sendiri. Plus bantuan perumahan + bantuan makanan (biasanya diberi tiket oleh asisten sosial untuk mengambil makanan di organisasi seminggu sekali) + bantuan pakaian + bantuan transportasi untuk mencari pekerjaan + prime/hadiah natal + kesehatan 100% + pelatihan untuk mendapatkan pekerjaan kembali + …

  12. Mas Kopdang said

    aku masih belum paham. Ini cerita tentang apa ya?
    dua mahasiswa yang ditelantarkan dosennya?
    atau diberi uang secukupnya bahakan mepet sekali oleh ortunya yang seorang dosen?

    Ini cerita 2 mahasiswa yg belajar di sini, yang dikirim oleh universitas terkenal, atas biaya dari orang tua. Biaya tersebut berdasarkan dr budget yang ditentukan oleh bapak dosennya. Bapak dosen itu tadi memberi budget sangat minim sekali, benar-benar di bawah standar hidup minim di Perancis.

    Lalu mereka minta tambahan ke ortu. Namun sayang ortu minta konfirmasi ke bapak dosen. Beliau mengkonformasikan lagi bahwa perhitungan budgetnya itu benar dan sangat cukup untuk hidup di sini (mungkin malu mengkoreksi kesalahannya).

    Jadi ortu berpikiran bahwa anak-anak mereka mau berhura-hura saja.

  13. salman said

    Pak Heri,
    Pada saat anak saya mengatakan bahwa biayanya kurang, sebagai orang tua pertama kali saya bertanya, apa benar uang itu kurang? karena pada saat bapak presentasi, dikatakan uang itu lebih dari cukup. kami yakinkan anak kami beberapa kali, apa benar kurang? dengan adanya tulisan mbak yuliach ini, saya semakin yakin bahwa biaya anak kami kurang. saya terus terang sudah mengirim tambahan untuk anak kami. Tapi saya cukup kecewa dengan paparan bapak dikampus dulu yang mengatakan cukup. Kalau ada program berikutnya, sebaiknya dibuat rincian yang wajar, biaya hidup yang standar, tidak perlu berlebihan.
    seperti yang dibilang mbak Yuliach, saya cukup khawatir kalau anak kami sempat sakit disana. Mudah-mudahan anak kami tidak sakit disana.
    Mbak Yuliach, terima kasih infonya dan mohon dilihatin anak kami mbak.

    Jangan kuatir, anak-anak tetap baik-baik saja. Aku akan bantu semaksimal mungkin untuk surat-suratnya dan utk mendapatkan bantuan perumahan (semoga saja ini terkabulkan permohonannya).

    Utk mengajukan permohonan bantuan perumahan, harus ada Carte de Séjour. Sayang sekali mereka belum memasukkan permohonan utk Carte de séjour karena mereka belum ada kontrak appartement. Mereka masih menunggu pengurusannya dari Universitas.

    Jika minggu ini mereka belum mendapatkan juga, maka aku akan mengurusnya. Supaya Carte de Séjour cepat selesai (perlu 2 – 3 bulan prosesnya).

    Bapak/Ibu cukup berdoa saja.

  14. masDan said

    Biyuh Biyuh ….

    Kuliah di Prancis ternyata Mahal ..Padahal Dulu Waktu Ada Talkshow di kampus yang diadain sama Biro Penyalur Mahasiswa, biayanya ndak sampai Segitu .. Lebih Murah Di Jerman Ternyata …

    Dulunya kapan?

    Sekolahnya sih tidak terlalu mahal dibandingkan di Indonesia. Yang mahal itu living cost/biaya hidup. Apalagi mereka baru datang, jadi perlu macam-macam untuk memulai hidup, spt: panci, gelas, piring, ember, sapu,… baju/sepatu musim dingin…yang sering luput dari perhitungan.

  15. edratna said

    Ada beberapa jenis beasiswa yang diberikan, ada beasiswa terbatas, ada yang hanya benar-benar untuk kuliah, ada juga yang hanya diberikan sebagian…..Saat anak saya ke luar negeri, semua full ditanggung orangtua. Teman anakku ada yang mendapat beasiswa, namun karena terbatas, dan sudah disadari sejak awal, maka dia harus rela menyisihkan waktunya dengan bekerja dimalam hari….kalau tak mau ya nggak usah berangkat, karena memang terbatas kemampuan dari si pemberi beasiswa.

    Juliach, apa informasi yang diperoleh dari kedua belah pihak? Jika hanya dari satu pihak, saya kawatir informasi itu tidak akurat. Jangan-jangan sejak awal mahasiswa sudah tahu, bahwa hanya segitu kemampuan universitas memberi beasiswa…..dan itu pilihan mahasiswa tadi, mau diambil apa tidak. Kondisi juga berubah , dulu katanya untuk hidup di salah satu kota di Australia, uang US Australia 1000 per bulan cukup…ternyata karena inflasi, saat anak saya kesana minimal harus US Australia 1250-1500. Dan begitu kuliah di LN, kita juga harus mandiri, tak boleh mengandalkan bantuan orang lain, juga orang Indonesia yang hidup disana.

    Mereka berangkat ke sini dengan biaya orang tua, yang anggarannya Bapak Eri (yg pernah punya pengalaman hidup di sini) yang merincikannya dgn teramat sangat ekonomik. Entahlah dia menghidung berdasarkan apa?

    Sedang untu mencari nafkah sendiri, ke 2 mahasiswa ini belum mendapat otoritas dari pemerintah perancis. Mereka masih memakai VISA dan ijin tinggalnya belum diurus. Minggu depan aku coba mengurusnya, supaya bisa mengajukan permohonan bantuan dari pemerintah perancis secepatnya. Siapa tahu terkabulkan begitu saja.

    Bapak Eri itu bekas dosenku juga. Aku tahu benar dia. Untuk kelulusanku saja, dia bisa berputar-putar sehingga aku hampir tidak bisa mengikuti sidang. Janjinya tidak bisa dipegang. Penulisan Ilmiahku ada di mejanya selama lebih dari 1 bulan tanpa pernah dibacanya. 2 hari sebelum sidang, dia baru merivisi. Aku harus menyerakan kembali, jam 7 malam padahal besok harus sidang. Semua upaya sudah ditempuh, aku sudah ada di depan kantornya jam 7 malam. Namun bapak itu tidak ada di tempat. Jam 9 baru dia datang. Dengan enaknya dia bilang, ujianku sebaiknya dilaksanakan semester depan. Wadowwwww….

    Dengan sedikit mengiba dan memaksa…aku berhasil mendapat tanda tangannya jam 12 malam untuk sidang esok paginya. Coba ibu bayangkan aku masih harus pulang dari Depok ke Pesing…jam 12 malam? dengan transport umum?

    Waktu itu aku masih memakluminya, karena dia dosen muda? Tahun berganti dengan tahun…dia tetap sama, tidak ada perubahan. Malah makin banyak korban saja. Bahkan kami bertemu di pusat kota Dijon, dia pun tak menggubris salamku.

    Syukur artikel ini dibaca oleh salah satu orang tua dari mahasiswa tersebut (komentar no.13), sehingga mereka bisa mengerti keadaan sebenarnya di sini.

  16. ario saja said

    maaf mbak ya, bukannya aku mau menyinggung mbak, tapi aku penasaran ma pernyataan ini “Asalkan tidak mengganggu keuanganku, karena aku ini tidak bekerja dan aku ini hidup sendiri tanpa suami menanggung 2 orang anak.”. Pertanyaannya, la kok mbak masih bisa eksis di prancis?? ga pulang di Indonesia aja ??

    Aku menikah dgn orang Perancis. Maka aku mendapat ijin tinggal 10th dan bisa diperbaharui. Sayang suamiku pergi tanpa jejak.

    Karena aku dulu bekarja, maka ketika aku mempunyai anak bayi, aku berhak cuti kerja utk mengurus anak hingga anakku berulang tahun ke-3. Sedangkan anak ke-2 ku masih berumur 20 bulan. Coba lihat paparanku mengenai Urssaf.

    Untuk mendapatkan bantuan, aku berhak keluar dari Perancis selama 2bln/tahun, dan aku harus sanggup menunjukkan certificate de scolarité anakku jika ada control.

    Kalau pulang ke Indonesia, siapa yang akan menanggung hidup kami bertiga? Aduh malu minta-minta orang tua. Jika aku bekerja, siapa yang akan mengurus anakku yang terkecil? Aku tak bisa menyerahkannya ke pembantu/baby sitter.

    Siapa yang membayar sekolah Ines (anak I)? Di Perancis sekolah gratis, malah dikasih uang utk masuk sekolah.
    Siapa yang membayar kursus bhs spanyol Ines? Di sini gratis, Kedubes Spanyol yang bayar.
    Siapa yang membayar kursus tari, piano, berenang Ines? Di sini aku bayar murah sekali, karena ada sponsor dari Walikota.

    Lagi pula sekolah di sini lebih manusiawi dibandingkan di Indonesia. Tetapi aku tetap cinta Indonesia, aku akan pulang jika anak-anakku sudah tidak lagi membutuhkanku.

    Akan aku jelaskan lagi di artikel berikutnya (jika aku ada waktu), karena sangat kompleks.

  17. agaknya ada persoalan serius dengan pak eri itu, ya, mbak. semoga saja persoalan ini tak berlarut-larut dan bisa terselesaikan dengan baik. bisa jadi kuncinya terletak pada aspek komunikasi sehingga setiap persoalan jadi jelas dan clear, tidak semata-mata berdasarkan dugaan dan syak wasangka. sukses selalu buat mbak julia.

    Semoga berhenti sampai di sini, dan untuk menjadi lebih baik di kemudian hari.

  18. kishandono said

    trus cara mengatasinya bagaimana? kerja part time?

    Bapak Eri harus telpon ke orang tua mereka dan dia harus mengatakan kesalahannya dalam menghitung perkiraan anggaran hidup di perancis. Sehingga orang tua mereka bisa memberi tambahan dan tak ada salah duga.

    Kerja part time? Untuk sementara belum bisa, karena belum ada Carte de Séjour (ijin tinggal tetap/KTP) yang menyatakan bisa bekerja (tertulis di Carte de Séjour itu). Kartu ini pengurusannya lama sekali.

    Jika mereka coba-coba bekerja gelap, aku rasa terlalu beresiko tinggi. Di sini sering banyak kontrol. Jika tertangkap, maka mereka akan di keluarkan dari Perancis. Susah untuk masuk kembali.

  19. sepakat biaya sekolah di Indonesia, seperti hampir sama dengan di luar negeri..mungkin dengan mensiasati bisa hidup layak, tapi tergantung kiriman sih he he..
    *

    Bisa juga, asal mereka juga banyak waktu. Masalahnya mereka magang 6 bulan saja dan mereka memakai program intensive. Jadi mereka di kamar terus.

    Bagaimana bisa aku ajak jalan-jalan cari jamur di ladang/di hutan di hari Sabtu/minggu? atau cari marron, chestnut, dll di hutan? Kan bisa untuk menghemat.

  20. antown said

    harapan saya ya semoga mereka segera mendpatkan solusi atas kondisi yang pelik ini. Saya kalo ke Amerika katanya bakal gak bisa karena alasan nama yang saya miliki (ada arabnya). Nah kalo ke Perancis? bertemu mbak juliach disana mungkin gak ya? ahaa..

    Kami sudah mendapat solusinya. Orang tua mereka sudah membaca blog ini.

    Hahahaha….sudah pesimis utk ke Amerika. Dengar-dengar begitu ya. Kalo ke Perancis masih OK tuh. Lihat saja banyak teman-teman yang namanya benar-benar pakai arab kentel. Bahkan cewek-ceweknya banyak yang pakai jilbab.

    Bisa juga bertemu dengan aku. Kalo mau datang menginap di sini silahkan. Tempatku sering jadi tempat transit.

    Masalahnya aku tidak bisa bertemu seseorang di kota lain selain hari libur sekolah.

  21. Entah kenapa, saat membaca tulisan Mbak ini, aku merasa suka sekali dengan keterusterangan Mbak serta sikap tegas yang langsung pada persoalan. Mbak sudah berbuat yang semestinya. Dan tahu betul bagaimana mendefinisikan arti dari perjuangan hidup.

    Salam salut.

    Mungkin aku sudah ketularan kebiasaan orang di Perancis. Di sini kita suka terus terang. Kami sering berdiskusi keras untuk memperjuangkan ide kita atau orang lain.

  22. laporan said

    Ya, tapi kalau eror terus ya repot hehe

    Sebelum di aplikasikan ke manusia, ya harus diuji ulang lagi, dong.

  23. Dear All,

    Kok jadi pengin ikut “urun rembug” juga, terutama masalah uang saku untuk study di LN. Saya di Adelaide, Australia, dengan beasiswa.Komponen dana untuk settlement allowance (sebesar 1 kali living cost) sangat penting sekali untuk membantu kita memulai hidup ditempat baru yang jauh dari family, yang kata Mbak Juliach untuk beli sepatu boot, panci, mantel tebal, etc.Dan seperti yang saya alami, hidup jauh dari family sangat riskan jika uang sakunya mepet atau bahkan relatif kurang…ya jika ada apa-apa mendadak (walaupun tidak berharap), selain juga secara psikologis student butuh ketenangan batin buat fokus ke study-nya, karena mereka (juga saya) ke LN kan mau belajar bukan untuk bekerja. Saya sering lihat disini student yang malamnya kerja di bar, pagi sampai siang malah tidur diperpustakaan. Menurut saya ya kerja jika holiday saja. Saya juga setuju dengan pendapat Ratna (15) bahwa harus mandiri tidak “menggantungkan”, sekalipun dengan sesama orang Indonesia (bukan berarti gak aktif berinteraksi lho).

    Aku sependapat dengan Aris. Bekerja sambilan saat hari libur/musim panas (musim panas banyak sekali pekerjaan utk student, karena banyak orang pergi liburan). Ini bagi mereka yg kuliahnya lama: 2 th-5th.

    Sedang utk mahasiswa magang yg kuliahnya intensive: tak mungkin lah mereka kerja sambilan. Lagi pula administrasinya belum lengkap. Mereka belum punya hak utk kerja.

  24. eri prasetyo said

    Bapak dan Ibu Yang terhormat,

    kelihatannya semua menjadi dramatis.
    sebelum budget yang paling minimal ditawarkan, kita sudah menanyakan dulu ke Prof. Fabrice, berapa biaya yang paling minim, beliau menjawab 500 euro. maka kita berani kasih spend sampai 650 euro. Dan itu sudah ditawarkan ke ortu mereka. Justru kita ambil minimal untuk meringankan beban ortu,sebab biaya kesana adalah biaya sendiri. Dan kita tidak memaksa meraka untuk kesana, itu kesadaran mereka sendiri untuk mangais pengalaman di prancis.
    Pengalaman saya di prancis selama 4 tahun, saya mendapatkan beasiswa 900 euro, hidup dengan satu istri dan 2 orang anak, ya aman aman saja, toh tetap bisa hidup, bisa lulus kuliah.
    demikian penjelasan saya, kalau bapak ibu menuduh saya menjerumuskan anak-anak , ya terserah. Tapi saya tidak ada niat seperti itu, justru saya ingin membantu mereka menimba ilmu dan pengalaman. Siapa sih yang bisa ikut kuliah di Vibot selama 6 bulan ?, kalau tidak ada undangan prof. Fabrice.
    Mungkin bagi bapaknya vina, saya minta maaf jika bapak marah, itu wajar wajar saja. tapi itu sudah saya jelaskan saat
    itu budget minimal.
    kepada Yulia, trima kasih atas dramatisnya, memang saya tahu anda , dulu kelihatannya anak orang kaya, kan terlihat dari pakaian yang selalu mini dan …….. gak perlu diomongkan

    salam
    Eri

    Saya pikir: menurut Fabrice 500€ itu belum termasuk appartement.

    Kasus bpk dan kasus mahasiwa di Le Creusot itu lain: bapak kuliah 4 tahun, dapat beasiswa, umur bapak lebih dari 30th.
    Bpk dapat beasiswa 900€ itu jatah utk 1 orang. Jika bawa anak istri ya ditanggung sendiri.
    Tetap saja di sini bapak masih mendapat keringanan karena bpk mendapat bantuan: perumahan: sampai dengan 250€ (utk 2 orang dalam keluarga), 300€ (3orang), 350€-400€ (4 org). Anak ke-2 lahir di Perancis = mendapat santunan balita 160€/mulan, mendapat prime melahirkan 800-900€/anak.
    Kesehatan anda sekeluarga ditanggung oleh Securité Sosial + CMU Complimentaire: jadi jika sakit tinggal pergi ke dokter/RS dan apotek tanpa membayar sepeser pun, tinggal menunjukan kartu CMU.

    Sedangkan anak-anak ini kuliah jangka pendek: 6 bulan, bisa jadi begitu Titre/carte de Séjour selesai, mereka sudah harus pulang ke Jakarta. Jadi tidak sempat mengajukan permohonan bantuan.
    Mereka mahasiswa muda -28th, jadi tidak berhak mendapat Securité Sosial+CMU Complimentaire. Untuk memproteksi kesehatan harus pakai asuransi privat, jadi jika sakit bayar sendiri baru nanti diganti.

    Lagi pula pak Eri meninggalkan Dijon th. 2006 (kalo ngak salah), pasti semuanya berubah saat ini. Sama saja, dulu th. 2005 Pesawat Jkt-Bali masih Rp. 300rb, sekarang mana boleh?

    Jadi tidak bisa disamaratakan. Harus dilihat dari kasus per kasus.

    Trima kasih sudah ingat saya kembali. Saya bukan anak orang kaya. Walaupun ortu mampu, saya sudah dipecat dari rumah mereka semenjak kuliah th. ke-2. Sejak itu saya bekerja. Terserah anda sekalian mau berpikir apa saja mengenai pekerjaan saya.

    Pakaian mini? Lah, waktu itu kan masih jadi anak muda pak, waktu itu lagi hot-hotnya cari pacar. Siapa tahu dapet! Eh ternyata ndak ada yang nyantol!Uh….sedih…. Tetap saja rok pendek itu berguna :untuk tanya-tanya jika ngak ngerti…semua cowok (waktu itu buanyak sekali) pasti bersedia menerangkan sampai sedetail mungkin, selain itu untuk menyimpan rumus-rumus saat ujian….

    Tapi jangan coba-coba memengang pantat aku, pasti bisa habis aku gebukin. Soalnya ada yg sudah nyoba. Oleh sebab itu semua cowok takut sama aku….sedih deh ngak pernah punya pacar….

    Hahahahaha….

  25. eri prasetyo said

    kenapa yulia anda membawa PI segala. Perasaan baru dengar ada mahasiswa yang begitu. Coba deh tanyaai semua mahasiswa yang saya bimbing ?, jadi ini kan ironis. Siapa sebenarnya yang sableng?
    trus kapan anda ketemu saya di dijon?, lha saya gak tahu anda prancis, kok enak sekali bicara seperti itu.
    coba konfirmasi semua orang indonesia dijon, mbak agnes, ujai, yati, jean louis atau prof. di dijon, apakah saya mempunyai sifat seprti itu. Ya ini kehidupan , kita mau membantu kemajuan orang kok malah ketiban pulung, sabar sabar……

    Rata-rata orang Indonesia itu sungkan/takut memberi kritik. Dan pasti marah jika kita ngomong blak-blakan deh.

    Waktu itu th. 2005, aku belum mengenal Ujai dkk dan belum tahu ada teman di Dijon. Aku ada di Centre Ville. Aku sudah senyum lebar, mulut sadah ditarik sampai ke kuping…eh enggak digubris…malu deh…mana di ketawain anak+pacar+banyak orang lagi…

  26. eri prasetyo said

    presentasi saya ke ortu mhs

    BASIC
    Living Cost (include apartment) Min. 550 EU/month
    Local transport 30 EU/month
    Health Insurance 70 EU/month
    Total 650 EU/month

    diatas ada kata min, berarti minimum ( acuan dari Fabrice 500 euro)

    DEPART
    Flight Ticket Jakarta –paris-jakarta 1500 EU
    Train Ticket Paris-le creusot-paris 100 EU
    Bus Charles Degaul-Gare de Lyon 20 EU
    Visa 70 EU
    Fiskal 70 EU
    Arrival & Clothing 90 EU
    Total 1850 EU

    Total Costs for 6 Months
    1. Tuition fee 2500 EU (UG)
    2. Basic for 6 Months 3900 EU
    3. Depart 1850 EU
    4. Administration 250 EU
    Total 6000 EU

    itu presentasi saya dan pak beni,
    mudah2an Bapak Salman bisa mengingat lagi

    salam

    Eri P

    Bapak Eri,
    Untuk BASIC-nya bisa diubah dikit:
    - Appartement: 330€ – 350 € /month (ini tipe studio, Ini berdasarkan harga Crous dan agen di Le Creusot)
    - Living cost 500€/month. Ini minim, bisa masuk akal, soalnya bahan makanan semakin mahal: 1 baquette roti: 1€ (utk 1 hari), beras: 1,2€-2€/kg, daging sapi: 8€/kg, ayam: 5€/kg, ikan asin: 13€/kg, buncis: 4€/kg, wortel:3€/kg, pasta gigi: 3,5€, pembalut wanita: 3,5€, susu: 0,70€/l (utk 2-3 hari), pisang: 3€/kg, jeruk: 4€/kg,…
    Ini harga-harga bisa naik: seperti waktu ada kenaikan BBM, karena ada mogok transportasi. Sehingga melon yag harga rata-rata: 3€ melonjak sampai 6€.
    Menjelang musim dingin, sebaiknya makan banyak dan seimbang supaya tidak sakit. Kalaupun kurang biasanya badan akan menuntut sendiri setiap tambahan makanan.
    - Health/Insurance: 100€/month (jika anak sakit bisa butuh biaya banyak, tergantung dengan sakitnya dan perusahaan asuransinya. Jadi ortu tetap siap siaga)

    Ini untuk amannya, ya pak. Soalnya: anak-anak ini termasuk short-stay 6 bulan, jadi bantuan-bantuan semua masih dalam proses (masih menunggu permohonan bantuan dikabulkan), masalahnya Carte/Titre de Séjournya belum jadi dan tak tahu kapan jadinya. Takutnya bantuan disetujui, anak-anak sudah pada pulang. Lah kalo kayak gini urusannya bagaimana?

    Pemakaian health/insurance: anak-anak harus diwanti-wanti, jika uang ini tak terpakai pada bulan bersangkutan, bisa dikomulasikan dengan bulan berikutnya. Ini jaga-jaga jika terjadi sesuatu.
    Mereka tdk mendapat CMU, jika sakit harus bayar sendiri dulu baru asuransi ganti.
    Hanya sebagai informasi saja:
    - dokter umum : 22€ datang ke kabinnya, jika dokter yg datang ke rumah : 30€
    - dolipran (paracetamol) : 1,74€
    - Hélicidine (obat batuk) : 5€ (biasanya 3 botol, resep yg dokter tulis)
    - kinétreraphy (jika terkilir): 45€/séance
    - Dr. mata: 45€ (inipun harus benar-benar sakit)
    - RS: tidak tahu krn utk saya gratis

    Semoga bisa dimengerti oleh semua pihak.

    Terima kasih.

  27. eri prasetyo said

    ya tidak , fabrice berkata hal tersebut dua kali, saat dia ke jakarta dan saya email sebelum mereka berdua berangkat.
    saya tanyakan lagi, gimana dengan 650 euro mereka hidup di le creusot, dia menjawab, dengan uang segitu mudah hidup di le creusot.

    trus tadi saya konfirmasi ke Wisnu, dia menjawab hapy2 saja.
    dan saya anjurkan ke mereka jika menurut dia kurang ya kontak saja urusan dengan ortu. Dan kalau sewa appt yang sekarang mahal bisa juga pindah ke chambre dengan KM sharing.

    Pak Eri bisa lihat patokan hidup di Perancis via http://www.caf.fr, berapa RMI dapat duit dan APL. dan juga RMI dapat Secu+CMU+tiket alimentaire ke Secour Catholic/Populaire seminggu sekali.

    Tahu ngak RMI? RMI= Revenu Minimal d’Insertion, diberikan bagi mereka yang berumur lebih dari 25th atau sudah berkeluarga/punya anak tapi tidak mempunyai pendapatan sama sekali.

    Wisnu mah diam-diam saja, orang diajak jalan-jalan ke Autun (transport gratis) dia enggak antusias. Dia pun sering mo ketinggalan kereta, kereta sudah tiba dia masih jalan pelan-pelan. Sampai aku berteriak-teriak “ALLEZ-ALLEZ … CEPAT-CEPAT!!!!

    Dia bilang happy-happy, mungkini dia sungkan dengan bapak atau takut ngak lulus jika banyak melawannya.

    Orang Indonesia belum bisa berdebat secara keras. Mereka harus belajar berdiskusi dan berdebat seperti orang Perancis.

    Omong-omong, mereka berdua itu tidak bisa ngomong keras atau kupingku saja yang sudah budek. Terpaksa aku sekarng harus membaca mulut mereka saat berbicara dengan mereka.

    Mungkin akunya saja yang kelainan, bicaranya terlalu keras ya?

    Utk Chambre, sudah penuh. Harus dibooking jauh-jauh hari. Di Le Creusot tidak seperti di Dijon. Apartemen Mahasiswa yg paling dekat itu tempat mereka tinggal yaitu di atas bukit, sedang Univ. di bawah +/- 30 meter. Cepat sekali jika terjun payung.
    Sedang chambre jaraknya 2km dr Univ. Di sini tak ada banyak bis (30 menit sekali, tak ada bis jam 12-1.30 siang dan sesudah jam 7 malam) seperti di Dijon setiap 10-15 menit. Jalannya naik turun pula, sangat susah jika ada salju/es beku.

    Mari kita jangan membicarakan soal minim, tapi sewajarnya. Saya heran juga koq Fabrice bisa bilang begitu sedangkan beasiswa master Vibot itu 950€/bulan bersih (termasuk appartement, semua: admin/biaya sekolah/transport/bank/asuransi/dll sudah diurus dan mereka masih mendapat bantuan utk perumahan).

    Sudahlah, ndak usah kesel: direvisi saja bugdetnya. Biar mereka bisa belajar lebih tenang. Biar mereka cepet lulus tahun depan.

  28. eri prasetyo said

    apanya yang di revisi, kalau ada urgent ya mereka bisa kontak ortu masing2, sesuai penjelasan diawal.

    Mungkin sekarang ini ortu mereka sudah paham adanya kondisi yang demikian. Mereka tidak perlu minta konfirmasi budget lagi ke bapak.

    Namun saya juga menekankan untuk pengiriman mahasiswa dgn biaya universitas/pribadi selanjutnya, sebaiknya budget bapak itu harus di-revisi.

    Supaya lebih yakin dalam pembuatan budget, bapak seyogyanya mencari informasi dari beberapa sumber yang bisa dipercaya (mis: utk negara Peracis: Tresor Public, CAF, Securité Social, L’Ambassade de France, Universitas), membuat angket dari beberapa mahasiswa yang pernah melakukan study di negara yang dituju (minim 100 orang) dan angket dari masyarakat yang hidup di negara tersebut. Juga membandingkan dengan beberapa instansi yang pernah/sedang memberikan beasiswa.

    Maaf kritik saya selalu langsung ke tujuan. Saya akui bahwa saya selalu berbicara blak-blakan. Itu lebih baik daripada tersamar dan lawan pihak harus meraba-raba apa maksud saya sebenarnya.

    Saya tidak bermaksud menggurui Guru besar saya.

  29. eri prasetyo said

    justru fabrice memberikan gambaran hidup seperti itu karena mereka biaya sendiri; berbeda dengan bourse dari uni eropa.

    kenapa takut dengan saya, tidak ada hubungan, saya ini hanya melantarkan peluang untuk bisa belajar di prancis. Dan besok ibunya Wisnu mau ketemu saya dan berterima kasih karena Wisnu bisa merasakan pendidikan di Prancis dan bisa mulai belajar hidup mandiri, dalam kondisi yang serba terbatas.

    kenapa anda selalu berfikir negatif selalu. Orang yang selalu berfikir negatif jalan hidupnya juga akan selalu negatif

    Ini bukan urusan saya, jika ibu Wisnu akan bertemu bapak utk berterima kasih. Kondisi terbatas ok, tetapi tidak sangat minim sekali. Dia masih beruntung, karena masih ada beberapa orang yang baik sekali. Mereka masih mau membimbing, mengajari, memberi bantuan, mensupport (secara moral, materi dan informasi) dll

    Saya sendiri di Le Creusot banyak mengenal beberapa orang dari Universitas + IUT, Walikota, Securité Sosial, CAF, Asosiasi kemanusiaan, Crous, Deputé, dll.

    Coba saja bisa anda bayangkan jika kedua anak itu mendarat di suatu tempat yang 100% masih baru.

    Saya memikirkan sesuatu negatif bukan berarti saya berpikiran negatif. Tapi saya berantisipasi supaya kita menuju ke jalur positif sehingga tidak masuk ke negatif.
    Saya merasa betul saya tidak pernah berpikiran negatif. Saya merupakan salah satu orang dari group yang perpikirian positif. Saya orang keras (berlogika positif). Saya memiliki filosofi : Si je veux, je peux (Jika saya mau, saya bisa).

    Th. 2004 saya kembali ke Perancis bersama anak saya dan 2 koper tanpa uang dan suami (lari dengan cewek bali). Sesampai di CDG, saya menemukan uang 200€ di WC, saya bisa kembali ke Le Creusot.

    Saya berhasil mendapat perumahan bla…bla…bla…saya berhasil bekerja kembali dengan modal dengkul +mulut+bantuan dari teman-teman org Perancis…saya berhasil menjadi perantara Eksport/Import, salah satu klien saya: Mr. Bourgoin, pemilik Troc de L’Ile Dijon untuk mengisi mebel Troc di seluruh Eropa.
    Namun pekerjaan saya harus saya hentikan karena anak saya perlu perhatian.

    Awalnya berat, tapi hal ini tidak membuat aku surut dan putus asa. Malah aku ada waktu banyak untuk belajar kembali bahasa perancis dengan baik dan benar. Aku berhasil mendapatkan SIM dengan biaya sendiri.

    Aku malah berteima kasih ke Bapakku karena telah memecat aku dari rumahnya. Karena aku bisa mandiri sepenuhnya sejak umur 21th.

    Hal ini sangat berat sekali. Jika bukan orang keras sepala seperti saya, sesableng saya, gila seperti saya; mereka pasti sudah gila muda.

    Aku tidak mau hal yg terjadi pada diriku terjadi pula pada orang lain. Apalagi orang tersebut ada support kuat di belakang mereka (moral dan material). Dari informasi yang salah, mereka harus sengsara (sengsara di sini tidak harus berbentuk fisik namun physy/batin/pikiran).

    Kenapa kita tidak mulai menciptakan masyarakat Indonesia yang cerdas dan sehat (jiwa dan jasmani). Tidak usah muluk-muluk seluruh Indonesia, tapi kepada diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita dulu.

  30. eri prasetyo said

    ibu pahlawan kesiangan,

    kasih budget 950 euro atau 1500 euro, bagi saya gampang saat itu, toh mereka yang membiayai ORTU masing2. Dan kalau mau lihat webnya EDUfrance di jakarta. Revisi yang baru untuk kuliah di prancis itu 900 euro jika di paris, diluar paris 700 euro. jadi saya buat 650, itu sudah mendekati standar edufrance. Karena sebelumnya ditulis disitu sekitar 600 euro cukup.
    tetapi kita ini ingat kemampuan ortu tidak sama. Justru diambil yang minim dengan maksud supaya ortu tidak berat. Jika ada urgent baru kontak ke ORTU.

    perlu diketahui, fabrice itu menawarkan untuk 4 mahasiswa, mayoritas dari 12 mahaiswa yang terpilih itu berminat berangkat ke prancis. tetapi sesuatu hal, kebanykan alasan biaya, maka hanya 2 orang yang bersedia berangkat karena dukungan ORTU.

    Saya menghargai saran anda, tetapi etika anda itu yang tidak seperti manusia lumrah, apalagi manusia indonesia yang cerdas dan sehat jasmani dan rohani.

    selama 4 tahun di dijon, saya belum pernah mendengar baik orang prancis maupun indonesia berbicara maaf mendekati binatang liar.

    Kenapa enggak bikin dari dulu-dulu sebelum ada korban berjatuhan? Lalu siapa yang kesiangan?

    Tu es vraiment grave. Tu racontes n’a porte quoi. Tu es la créature de la misère. Essayes de lire ça : http://www.lindependant.com/articles/2008/10/17/20081017-AFP-France-Journee-de-la-misere-Hirsch-lance-des-experimentations-pour-les-jeunes.php5

    Je suis un animal sauvage qui lutte contre la misère.

    Maintenant on a compris que tu veux sauver tes fesses.

  31. eri prasetyo said

    yo wis sing waras ngalah

  32. amutiara said

    Tenang bu Yuliach……
    Mereka itu tanggung jawab Prof. Fabrice….
    Mereka datang diundang oleh beliau namun dengan biaya sendiri dikoordinir oleh Program Sarmag Universitas Gunadarma.
    (mau saya sih mereka dapat beasiswa dari pemerintah RI, namun realisasinya belum jelas, maklum terlalu banyak birokrasi)

    Tolong beritahu kedua mhs tersebut…jika terjadi sesuatu silahkan informasikan Prof. Fabrice atau ke saya.

    Masa iya sih kita ngorbanin bangsa sendiri??? Kayak ndak deh.
    Just info…saya sedang mengusahakan mereka untuk mendapatkan beasiswa dari Pemerintah……mudah-2an bisa goal.

    Terima kasih atas info dari Ibu Yiliach. Jika Ibu yuliach ada pertanyaan silahkan e-mail saya.

    salam
    Prof. Achmad Benny Mutiara
    Program SARMAG Universitas Gunadarma

  33. Universitas hanya menghasilkan buruh bukan enterpreuneur… kenapa harus kekeh masuk kuliah, padahal udah banyak korbannya…

    Malahan perusahaan multinasional di Indonesia kebanyakan di didirikan oleh orang2x yang gagal sekolah baik itu SD, SMP, dll…..

    kegagalan di sekolah itu tidak membuatnya patah arang seprti ibu ini dan mereka mengasah keahlian dll hingga mereka bisa seperti itu…

    Bagaimana seh kalau opini masyarakat kita begitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.