AKU

Siswi hamil harus tetap bersekolah

Posted by juliach on November 26, 2008

Terus terang saja aku sangat kesel ketika baca artikel Pak Sawali. Bukan Pak Sawali penyebabnya, tetapi pihak sekolah yang sangat berpikiran dangkal : mengeluarkan siswi hamil dari sekolahnya. Selain pihak sekolah, kejengkelanku bertambah lagi oleh para pemberi komentar.

Aku rasa hanya maksimal 10% dari komentator yang memberi respon: membiarkan anak itu tetap bersekolah. Yang lainnya masih kagak setuju. Alasan mereka tidak setuju macam-macam:, banyak juga dari yang setuju dengan pemecatan siswi tersebut dengan alasan untuk membuat jera siswi lainnya, hukuman yang harus ditegakkan, alasan agama, alasan sosial, bahwa hal ini merupakan penyakit yang menular, bla…bla…bla… dan lainnya yang menurutku tidak masuk akal sehat.

Penyakit yang menular? Oh…la…la….sampai sebegitunya pemikiran mereka? Itu orang yang memberi komentar sudah berpikir masak-masak atau asal jeplak atau tidak tahu sama sekali (karena pendidikannya rendah)? Aku maklum saja jika pendidikannya setingkat SD. Namun aku sangat ngelus dada kalau ada orang berdiploma S1 masih memiliki ide yang miring itu.

Dari sini aku bisa menarik kesimpulan bahwa dalam kehidupan di Indonesia itu tidak adanya cinta, kasih sayang, pengertian, komunikasi, tidak ada maaf sedikitpun.

Jika ada kejadian buruk, maka kita adu cepat saling tunjuk: itu kesalahan orang tua, itu kesalahan sekolah, itu kesalahan anak itu sendiri, itu salah pergaulan, itu kesalahan guru agama, itu kesalahan kakaknya, itu kesalahan setan … Pokoknya di antara kita tidak ada yang mau ngaku salah. He….he….he….lebih gampang menyalahkan yang lain dulu khan.

Ada suatu keluarga yang berada di tingkat sosial yang tinggi, sangat membatasi ruang gerak anak-anaknya, selalu memberi wejangan bahkan larangan: jangan bergaul dengan ini-itu, sangat taat beragama, menyekolahkan anaknya di sekolah elit yang super ketat, masih saja kebobolan! Kalau sudah begitu lantas Si bapak murka: mungkin hanya jeplak saja mulutnya…sampai ada yang ngebuki si anak malang itu bahkan mengusirnya dari rumah, si Ibu ada yang ikut-ikutan marah…ada juga yang hanya menangis saja, para teman/tetangga/relasi yang aku rasa tidak ada sangkut pautnya ikut-ikutan mencibirkan bibirkannya yang sudah kelewat tebal itu sebagai mana mereka itu berpakaian malaikat tanpa dosa dan paling menjengkelkan ikut-ikutan menunjuk kesalahan, kepala sekolah yang takut kehilangan fans-nya tahun depan dengan gampangnya mengambil keputusan pemecatan segera.

Tak banyak dari kita (mungkin tak ada sama sekali) yang dengan tenang bertanya: apa salahku, apa salah kita dan apa maumu, nak? sambil memeluk anak malang itu, mengusapnya dan menciumnya dengan penuh kasih sayang, tak jadi apa/masih banyak solusinya tapi kita harus menanggung konsekwuensinya, harus bertanggung jawab.

Rasa-rasanya mereka itu tidak pernah memasuki masa remaja yang mempunyai gejolak hati dan seksuel pada saat tubuhnya mengalami perubahan dari anak-anak menjadi manusia dewasa. Saat yang rentan, saat yang mudah jatuh cinta, cinta yang buta, saat yang tuli, saat pemberontakan yang kita lakukan itu benar adanya, saat mencari perhatian yang berlebihan, saat patah hati, saat terpuruk,… Ataukah sudah lupa rasanya bagaimana?

Aku sangat bersyukur sekali ketika aku bisa melewati masa-masa yang sangat sulit itu dengan sukses. Walaupun saat itu aku sempat terkena depresi, mana ortu ada di seberang pulau Jawa lagi. Akupun takut membicarakan masalahku ke nenekku dan orang-orang di sekitarku. Yang aku bisa lakukan hanya menceritakan keadaanku kepada orang yang tak aku kenal. Aku pun sering dimarahi Eyang gara-gara melarikan diri hanya untuk melihat wayang kulit di kampung tetangga. Habisnya gimana pengen nonton kok dilarang, wayang kulitnya sendiri kenapa ngeber malam-malam pula. Setelah aku dewasa baru aku sadar bahwa itu merupakan kesalahan besar yang telah aku lakukan, orang tuaku sendiri: mengapa mereka tidak ada di sisiku ketika aku membutuhkannya, walau hanya sekedar pelukan saja, juga kesalahan orang-orang di sekitarku saat itu.

Sayang, banyak pula anak-anak remaja yang tidak seberuntung aku. Tak sedikit dari mereka yang hamil ketika remaja, kawin muda, berhenti dari sekolah begitu saja, masuk ke hal-hal yang lebih buruk lagi sampai dengan kematian.

Untuk siswi yang hamil, mengapa kok dikeluarkan dari sekolah. Kok tega-teganya kepala sekolah menghukumnya begitu? Apa proses hamilnya itu di sekolah? Tidak bukan. Jadi menurutku anak ini tidak melanggar peraturan sekolah! Jika anak ini masih masuk dalam katagori wajib belajar, maka dia tidak bisa dikeluarkan dari sekolah apapun yang terjadi! Jika sudah di luar wajib sekolah, ini adalah keputusan anak itu, apakah dia masih mau melanjutkan sekolahnya. Jika si anak masih mau melanjutkan sekolahnya, mangapa harus dikeluarkan? Lagi pula orang tua itu membayar sekolah, lain lagi kalau sekolahnya gratis 100%.

Duh, serem banget! Di negara Indonesia yang judulnya negara demokrasi dan mempunyai UU wajib belajar, masih banyak orang yang berpikiran seperti itu.

Supaya siswi lain jera? Aku kira itu bukan alasan yang tepat. Melihat ada mahasiswi lain yang hamil, tetapi harus masuk kuliah saja, aku sudah berpikir: sayang sekali dia sudah terikat. Dia tidak bisa ke sana-ke mari seperti kita yang masih sendiri. Apa lagi sesudah melahirkan, dia harus mampu membagi waktu untuk dirinya sendiri, anaknya dan suaminya (kalau ada). Jadi siswi yang hamil itu sudah berat tanggungannya apalagi harus masuk sekolah. Itulah konsekwuensinya (kata “hukuman” aku rasa tidak tepat. Maka di sini yang harus diterapkan adalah “TANGGUNG JAWAB” terhadap masa depan dirinya sendiri dan anak yang dikandungnya. Apapun yang terjadi siswi yang hamil itu harus sanggup menyelesaikan studinya dan sukses di masa depannya nanti.

Mengapa kita tidak mau mencoba sedikit saja, membayangkan, menerapkan diri kita ke posisi siswi yang hamil itu. Berpikirlah sedikit saja, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?

Sebagai gambaran, di bawah Ini ada beberapa kasus:

Kasus I:

Salah seorang keluarga jauh, sebut saja Eyang Dhe Klaten yang mempunyai seorang anak putri. Suatu saat beliau mengetahui jika putrinya hamil. Setelah ditanya-tanya, tetap saja si putri ini tidak mau mengakui siapa yang telah menghamilinya. Seperti tradisi waktu itu, dia dipecat dari sekolah. Mereka menerima sangsi itu begitu saja. Setelah melahirkan bayinya, bayi itu langsung diadopsi oleh kakak perempuannya yang tinggal dan bekerja di Jakarta. Rupanya ini hanya untuk menutupi aïb.

Masalah tidak berhenti begitu saja. Setahun kemudian dia diharuskan kembali ke sekolah. Tapi bagaimana dia akan belajar dengan baik jika pikirannya melayang-layang ke buah hatinya nun jauh di sana. Secara sembunyi-sembunyi dia menemui kembali sang kekasih dan membuahkan bibit baru lagi.

Kali ini membuat kedua orang tuanya dan kakaknya marah besar. Kali ini tidak ada ampun lagi, mereka menyuruhnya menikah segera. Apa yang terjadi? Ditemuinya sang putri terjelujur kaku tak bernyawa.

Lalu aku tidak tahu jalan ceritanya lagi. Habis bagaimana lagi setiap pembicaraan orang tua, kami dilarang menguping. Apakah sudah lega, dengan kematian itu masalah terselesaikan? Apakah sudah tidak ada aïb lagi? Apakah hanya menjadi penyesalan?

Aku rasa hanya penyesalan saja, bagaimanapun besarnya kesalahan anak kita.

Kasus II:

Tanteku W ketahuan hamil th. 1984. Kali ini aku ingat betul. Waktu itu dia di Fak. KG UGM tahun ke-2. Memang waktu itu merupakan aïb yang sangat besar, sehingga hal ini disembunyikan dariku. Aku dititipkan ke Pak Dhe di Jogja. Aku sendiri bingung, mengapa harus begini? Lalu aku melarikan diri dan pulang ke rumah Eyang di Solo. Ho…ho…ho…di sana semua orang lagi ngemut granat, tinggal menunggu meledaknya saja. Tak ada yang menyapaku, akupun selalu dibentak-bentak ketika tanya ini-itu. Aku juga disalahkan kenapa tidak mau berlibur di Jogja.

Ternyata Tanteku W yang sangat cantik itu mau menikah! Aku masih belum mengerti: biasanya jika ada persiapan semua orang repot tapi gembira. Kali ini tidak. Aku pun dilarang mengikuti acara pernikahannya. Nah…aku tidak terima perlakuan keluargaku (bukan ortu, karena ortu di Sulawesi), aku pun berteriak-teriak, aku marah sekali, aku maki-maki semua orang yang ada di situ, aku pun menangis keras-keras…

Karena aku bertingkah, maka untuk menenangkanku aku pun diajak ke acara pernikahan di sebuah kapel St. De Brito Jogja. Tak ada pesta, tak ada senyum gembira. Selesai acara itu semua orang menangis. Giliranku harus mengucapkan salam, tak sengaja aku melihat ke perutnya yang agak membuncit keluar dari kebaya. “Selamat ya, Tante atas pernikahannya dan sekaligus kehamilannya. Oh, Tanteku tersayang semoga selalu berbahagia. Jangan menangis!” itu kata-kataku yang bisa meluncur dari mulutku dan aku peluknya erat. Dia balik memeluk erat dan menangis sekuatnya. “Duh, salah lagi deh aku”, pikirku. “Tante jangan menangis dong! Tante harus gembira. Ini anugerah Tuhan!” kataku lagi yang membuat semua mata melotot.

Bref, sejak itu rumah menjadi sepi. tante W kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah dan pulang ke rumah di akhir pekan. Semuanya terasa hambar. Para tetangga sering bertanya-tanya kepadaku, yang hanya aku jawab itu bukan urusanku dan juga urusanmu. Salah seorang temanku yang kakaknya teman tanteku juga mengejekku.

Tante W lalu mengambil cuti 1 semester untuk melahirkan dan menyusui bayinya. Aku sering dimintai tolong untuk menjemur pakaian bayi, mengendong bayinya jika ditinggal ke toilet, masih banyak lagi deh. Oh…la…la…betapa repotnya memiliki bayi ya? Mana lagi bayinya itu sering menangis terus.

Semester berikutnya, dia kembali ke kampus dan bayinya ditinggal di rumah ibunya. Otomatis akulah yang menjadi babysitter sepulang sekolah, menggantikan tugas Eyang Dhe sebagai pengasuhnya di pagi hari. Awal-awalnya aku mengerutu, lama-lama aku kasihan juga ke anak itu sebut saja “Mono”. Akhirnya aku terbiasa momong Si Mono sambil bikin PR dan belajar. Tadinya aku malu membawa anak itu ke gereja, karena aku mendengar suara sumbing,”Kasihan banget, masih kecil sudah punya momongan”. Kupingku sering terbakar panas. Setelah aku melihat Si Mono aku jadi luluh. Suatu saat di bis menuju ke Jogja, aku malah mengaku bahwa dia anakku. Seperti biasa aku mendengar kata “kasihan” yang aku jawab: tak apa, malah kebeneran nanti aku berumur 40 tahun kita bisa jalan-jalan bareng.

Tante T kakak Tante W selalu ngedumel terus tak habis-habisnya. Apalagi bulan baru tiba, saat terima gajian, dia langsung ke toko untuk membeli kebutuhan bulanan, termasuk kebutuhan Si Mono. Sebagai tukang angkat barang dan tumbal omel-omelan, aku tahu betul kebutuhan Si Mono itu sangat aduhai mahalnya. Aku rasakan pula jatah makanku berkurang, yang tadinya ada daging/telur/ikan setiap 2 hari sekali menjadi seminggu sekali. Padahal uang kiriman ortu tetap, malah bertambah. Ternyata suami tante W yang statusnya masih mahasiswa UGM dan belum bekerja itu dipecat dari rumah ortunya dengan pesangon Rp. 75 000,-

Tante W akhirnya lulus juga setelah terancam DO. Eyangku selalu mendorongnya supaya lulus apapun yang terjadi dan apapun beban yang harus dipikulnya. Berat sekali lho!

Eyangku selalu mewanti-wanti aku supaya tidak menirunya. Bukan hanya Eyang, semua orang di keluarga besarku bilang begitu. So, pasti aku tidak ikut-ikutan karena aku sudah mendapat getahnya. Isinya repot dan sakit hati saja.

Tapi larangan Eyang dan ortu supaya tidak keluyuran aku langgar. Aku punya alasan yang rasional: bukan karena keluyuran aku bisa hamil. Aku malah mempunyai teman cowok yang sedabreg. Aku sering pergi-pergi bersama teman-teman cowokku: naik gunung, ke laut, berkunjung ke sana ke sini,…tak ada satu cowok pun yang nyantol. Aku juga tak pernah menjalin hubungan yang serius, karena aku berpikir mumpung aku masih sendiri maka aku harus menikmati kebebasanku. Jika nanti aku mempunyai anak, pasti kakiku akan tercencang tidak bisa melangkah ataupun hatiku yang tercencang seperti saat ini yang aku rasakan.

Kasus III:

Pada tahun yg sama, teman sekelasku juga hamil. Aku tak tahu pasti dia dipecat, atau mengundurkan diri.

Th. 1996, ketika aku bertugas di Solo, aku tak sengaja aku bertemu kembali dengannya. Cerita punya cerita setelah keluar dari sekolah, dia lalu menikah dan tidak pernah kembali ke sekolah lagi. Alasannya repot dengan rumah tangganya.

Setelah bertemu dengannya, di dalam taksi aku bertanya sendiri: tidak bersekolah lagi dan tidak pernah belajar bekerja? Bagaimana ya jika ada halangan dengan suaminya? Bayanganku sudah yang enggak-enggak saja dan aku ngeri sendiri.

Kasus IV:

Seorang ibu menemukan anak gadisnya berumur 13th sedang hamil 7 bulan. Tak ada pilihan lain selain harus melahirkan bayinya. Institusi sekolah sangat memberikan perhatian dan mengharuskannya tetap meneruskan sekolahnya karena dia masih di bawah umur dan kena wajib sekolah. Dia hanya mendapat cuti seminggu untuk melahirkan. Selanjutnya dia harus kembali ke sekolah, sedangkan anaknya dititipkan. Setiap hari dia makan siang bersama anaknya di rumah pengasuhnya, lalu siang harinya bersekolah lagi. Setiap sore dia harus mengurus anaknya, membuat makanan, memberi makan ke anaknya, bermain, mencuci, menyeterika dan menidurkan anaknya. Barulah malam hari dia bisa belajar.

Anak itu menyesal sekali apa yang telah terjadi padanya dan menambah beban lagi ke Ibunya. Sang ibu pun tadinya jengkel dan ingin menyuruh anaknya pergi keluar dari rumah, manun itu bukan keputusan yang bijaksana.

Ibu itu lalu memutuskan untuk mendampingi anaknya, karena dia merasa buah hatinya dalam keadaan yang sulit dan membutuhkan kasih sayang. Dia juga tidak mau mengantikan fungsi sebagai ibu anak itu. Dia mengharuskan anaknya bertanggung jawab atas kesalahan yang dia lakukan.

Sekarang gadis itu berumur 16th, dia mengambil sekolah ketrampilan setara SMA. Dia berharap jika lulus nanti bisa membuka salon kecantikan secepatnya.

Anda bisa melihatnya sendiri di tayangan ini, section “Maman Ado/Mama di usia remaja”. Sayang pakai bahasa Perancis.

—-

Sekian dulu. Maaf jika ada yang tersinggung gara-gara opiniku.

37 Responses to “Siswi hamil harus tetap bersekolah”

  1. Nika said

    Tulisan yg bgs bu. Ada benarnya jg kalo siswi hamil hrs tetap sekolah spy teman2nya tau beratnya hamil dan ngurus anak. Sy pernah bc ada sekolahan intrnasional d jkt apa ya yg muridnya diajarkan untuk mengurus bayi dgn menggunakan boneka. Diberi jadwal yg ketat dan hrs ditaati. Jd sejak dini anak2 hrs tau bhwa tdk mudah mengurus anak. Dgn demikian diharapkan bs brhati2 dlm prgaulan.

    Ada kerabat dan teman sy yg jg ngalami hal spt itu bu. Ada yg lakinya kabur tdk mau tgg jwb. Ada yg lakinya menyangkal dan keluarganya tdk mau terima. Oh sungguh malang jd pihak perempuan dlm kasus ini. Sy jd brtekad kalo punya anak laki tdk akan sy biarkan jd pengecut. Dan anak perempuan pun harus kuat.

  2. ndop said

    buuuk, saya save saja ya… saya baca di kos-kosan… yang jelas ini tulisan yang sangat menginspirasi…

    kapan2 mbalik ke sini deh, baca lagi…

    *soalnya panjanaaang bangeeet!!! sementara saya dikejar billing warnet, wekekeke…*

  3. ndop said

    waaaah.. akhirnya aku baca semuanya mbaaak, ndak peduli billing warnet mengejarku… hehehehe…

    isya nih, jarang banget orang2 Indonesia yang punya rasa ikutan berempati seperti yang dialami korban… jadinya ya sak penake udele dewe mbaak..

    memang mungkin sebagian orang di Indonesia perlu waktu untuk belajar untuk “TIDAK BERFIKIRAN PRIMITIF” seperti kasus di pemecatan atas…

  4. edratna said

    Saya sepakat dengan komentar Nika…jika siswi hamil dibiarkan sekolah, akan merasakan bagaimana beratnya hamil, mengidam, dan masih harus belajar…juga rasa malu.
    Yang paling berat menurutku adalah ngidam dan harus sekolah, diantara cibiran teman….

    Teman yg lain akan belajar, untuk berpikir tak mudah hamil saat masih sekolah.

  5. thevemo said

    jangan hamil diluar nikah…

    seharusnya, setiap siswa kan mempunyai hak yang sama..tanpa membedakan dia hamil atau tidak. Kalo gini terus, nanti ada aturan orang miskin di larang bersekolah, anak yang bodoh di larang belajar

  6. tiap wrga negara mmpunyai hak untk beljar, siapapun dia.. HAmil dluar nkah bukan keinginan kan? Dan hmil ktika masih skolah apa salah? Saya rasa tidak.. hnya saja ssuatu yg tdak biasa sllu mmnculkan aroma negatif dan prspsi yg tdak baik. Bkan mnymngati tpi jstru mnjtuhkan atw mmjokkan…

    UUD sjauh ini sya lihat tdak smua berjlan sbgmna mestinya.. pa bnar UUD = Ujung2nya Duit? Hmm…

  7. badoer said

    wah mbak di solo yah :D Sebenarnya siswi hamil sekolah juga ndak apa-apa, temen saya yang waktu itu hamil pas udah smk tetap meluluskan sekolahnya meski dalam kondosi perut buncit. Sebenarnya yang jadi masalah adalah bagaimana mendidik anak untuk menjauhi pergaulan seks bebas apalagi masih sekolah. itu yang harusnya ditanamkan oleh guru mendidik siswa2nya……… Jangan malah guru yang mencabuli muridnya :D

  8. Jay said

    Bah, sekolah itu hak setiap warga negara. Yg melarang seseorang utk mendapatkan pendidikan bisa di Pidana. Apapun alasannya..

    Jika seorang siswi dilarang sekolah dg alasan karena hamil ; saya sangat tidak setuju. Itu tdk adil. Bagaimana nati jika anak2 yg lahir dari ibu seorang pelacur.. Apakah mereka jga tdk boleh sekolah. ITU TIDAK ADIL.

    Adalah betul, perbuatan siswi itu salah dan melanggar norma agama. Tapi hak dia utk mendapatkan pendidikan tdk boleh dihalangi.

  9. wah,, kok ga dikasih link artikel yang dimaksud. kan pengen liat juga.
    masih boleh sekolah ataupun tidak, itu tergantung kebijaksaan sekolah. bagaimanapun, masyarakat indonesia masih menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan benar2 menghindari apa yang di sebut keTABUan. karena (setau saya) syarat untuk menjadi siswa SMA adalah belum menikah, tentu saja hamil menjadi hal yang tabu. dan sekolah tentu saja tidak mau mengambil resiko untuk mencemarkan nama baik mereka untuk hal-hal tabu seperti itu.
    tapi, jika mau dilihat sisi positifnya, saya lebih setuju kalau siswa yang hamil tidak diperbolehkan sekolah (entah itu hanya untuk sementara saja atau tidak.
    yang pertama tentu saja untuk memberikan contoh kepada yang lain. dengan membiarkan diri sendiri hamil, itu bagi saya menunjukkan ketidakseriusan dalam mengenyam pendidikan (dalam hal ini tentu saja karena kita tau bahwa hamil itu dilarang) sementara saya liat masih banyak kok yang mampu menahan diri untuk tidak hamil sebelum pendidikan mereka selesai. bahkan untuk mahasiswi (yang bebas mau hamil atau tidak), masih banyak yang bisa menahan diri.itulah yang menyebabkan saya setuju dengan pendapat badoer bahwa yang paling penting adalah menghindari hal-hal seperti itu.

    perbuatan siswi itu salah dan melanggar norma agama. Tapi hak dia utk mendapatkan pendidikan tdk boleh dihalangi.

    siapa bilang dengan memberhentikan dia sekolah itu menghalangi hak dia untuk mendapatkan pendidikan? toh pada akhirnya dengan kondisi mereka, mereka juga tidak bisa mengenyam pendidikan dengan serius. dan menurut saya dia masih bisa mengenyam pendidikan lagi setelah itu, jika memang dia tega menginggalkan anaknya setelah lahir nanti.
    wah, kok jadi banyak gini komenku.maaf…..

    Itu Pak Guru Sawalinya sudah nongol. Tak perlu di-link gampang kok carinya.

  10. Seperti halnya wacana yang berkembang di tulisan pak Sawali, pada dasarnya aku tidak setuju kalau siswi seperti itu dikeluarkan. Okelah ada sangsi. Entah apa bentuknya. Diskors untuk tidak ikut sementara waktu atau bagaimana. Tapi kalau sampai dikeluarkan, weh, dia masih berhak punya masa depan dalam hal pendidikan.

    Sepertinya kehidupan ini bukannya berjalan ke dalam malah makin mundur ke belakang saja…

    Sangsi “diskors”? Ngapain anak itu di rumah?
    Justru harus memanggil ortu dan anak itu utk menandatangani kontrak tetap bersekolah! Jika anak itu coba-coba membolos, maka salah satu ortunya harus duduk di kelas nungguin anak itu biar tidak cabut!!!!!

    Khan anak-anak kayak itu lagi caper!

  11. Zulmasri said

    saya setuju dg beberapa pendapat di atas. siswi yg hamil di luar nikah untuk sementara dirumahkan. secara mental ini akan membantu sang anak dari cibiran sinis dan olok-olok warga sekolah.

    tapi biasanya siswi yg hamil malah keluar sendiri, tak dikeluarkan alias de-o

    Maksudku di sini: kita harus mengubah persepsi masyarakat.
    Kehamilan di luar nikah itu merupakan peringatan dari Tuhan dan juga anugerah Tuhan, yang mana Tuhan memberi jalan lain.
    Mis: Bapak sibuk kerja, ibu sibuk ngrumpi di arisan/club ibu2, anak ceweknya juga ikut berhura-hura tanpa kontrol. Maka Tuhan memberi kerjaan tambahan “hamil”, dengan ini semua orang harus ngerem aktivitasnya sehari-hari dan berinterospeksi. Anak itu yang tadinya berhura-hura tak mungkinkan dengan perut gendut loncat-loncat di diskotik?

    Biasanya dengan kehamilan, wanita akan bertambah dewasa (ini kalau lingkungan mendukung).

    Sebagai guru/kep-sek harus bisa juga meredam olok-olok, “tak perlu mengolok-olok teman lihat saja diri kita sendiri. Tempatkan juga dirimu dalam keadaan siswi hamil itu!”

  12. Supri X said

    Siswi hamil di luar nikah?
    Kita kembalikan kepada siswi sendiri, masih melanjutkan apa tidak sekolahnya, jika masih mau melanjutkan ya diberi kesempatan. Tapi biasanya siswi sendiri yang keluar dari sekolah dengan alasan malu dengan cibiran teman-teman, bahkan guru ikut mencibirnya.

    Tak kalah penting lagi hamilnya itu sama sesama siswa atau dengan yang lain, kalau sesama siswa, siswa yang menghamili itu harus diberi sanksi dong, setuju?

    Justru itu tugas kita (sekolah/ortu/masyarakat) untuk membujuk anak itu supaya tetap bersekolah.

    Banyak juga siswi hamil itu tidak mengaku jika tidak ketahuwan brondang-brondong sama cowok special.

  13. semoga dunia pendidikan kita semakin dewasa nyenyikapi masalah yang ada. bukanya mereka harus di jauhi tapi mereka harus diberikan pengharapan untuk tetap terus mengeyam pendidikan

    Aku berharap juga.

  14. duh, jadi telat komen saya, mbak julia, hehehe …. ternyata ada diskusi yang menarik juga nih. awal munculnya tulisan itu juga berasal dari kerisauan saya terhadap siswi yang hamil, mbak. di sekolah tempat saya mengajar, dulu pernah ada kejadian siswi hamil, padahal ujian hanya tinggal seminggu. namun, karena sdh ada aturan waktu awal masuk ndak boleh hamil, maka siswi yang bersangkutan keluar dg sendirinya. nah, akhirnya pada rapat tahun ini dalam pembahasan tata tertib, saya minta supaya ada kajian ulang, jangan sampai karena peristiwa semacam itu lantas menghalangi hak anak utk menikmati pendidikannya. duh, tapi, mbak, segala macam argumenku ndak mempan. dalam forum rapat itu, saya kalah telak, karena 99% setuju agar tata tertib itu tetep diperlakukan. tapi saya tetep berharap, suatu ketika makin banyak sekolah yang mulai bersikap responsif terhadapa masalah ini. pola2 pendidikan yang cenderung indoktrinatif selama ini yang agakya telah membuat anak2 justru makin terangsang utk menabrak hal2 yang serba dilarang. jadi, semua faktor mesti durai dan dianalisis agar ndak demikian gampang memvonis anak2 yang sedang tertimpa musibah sebagai pendosa. orang tua, sekolah, dan masyarakat perlu bersinergi agar anak2 ndak rentan terhadap persoalan2 seksual semacam itu. maaf, mbak, kok jadi ngelantur komen saya, hiks.

    Lah Pak tinggal seminggu lagi ujian kok ya sekolah tidak memperjuangkan sedikit. Walaupun siswin itu sudah mengundurkan diri, mbok ya pihak sekolah melakukan pendekatan supaya anak itu kembali ke sekolah untuk ujian saja. Eh…selesai!

    Aku juga berharap: kita lebih manusiawi sedikit. Percuma saklek-saklek jika kelak hidupnya malah amburadul.

  15. wedus said

    SETUJU KLO DIKELUARKAN DARI SEKOLAH !!!

    DUH BEJAT YA BEJAT AJA.

    Terima kasih komentarnya

  16. nugroho said

    Memang mengurus bayi itu susah banget… apalagi baca artikel ini puanjang banget soale hehe… :D sory gak nyambung :lol:

    Makanya jangan bikin bayi dulu!

  17. Timun said

    Hari ini, kawan sekantor diberhentikan dengan tidak hormat, yang satu hamil diluar nikah dan satunya karena menghamili yang bukan istrinya.

    Seperti para bos itu lebih bermoral saja!

    Ini tidak adil. Si ibu itu khan tidak melakukan kesalahan profesional.

    Sebetulnya masih ada solusi dengan berunding.
    – Si ibu mengakui anak yang dikandungnya itu anaknya sendiri, jadi dialah yang bertanggung jawab atas si anak itu
    – si pria itu mengakui anak yg akan dilahirkan dan memberi partisipasi tiap bulannya, tanpa harus mengawini ibu itu.
    – Atau cara yang mudah dan sering dimaklumi oleh orang Muslim: Poligami!

  18. chiw said

    Aku punya alasan yang rasional: bukan karena keluyuran aku bisa hamil. Aku malah mempunyai teman cowok yang sedabreg. Aku sering pergi-pergi bersama teman-teman cowokku: naik gunung, ke laut, berkunjung ke sana ke sini,…tak ada satu cowok pun yang nyantol. Aku juga tak pernah menjalin hubungan yang serius, karena aku berpikir mumpung aku masih sendiri maka aku harus menikmati kebebasanku. Jika nanti aku mempunyai anak, pasti kakiku akan tercencang tidak bisa melangkah ataupun hatiku yang tercencang seperti saat ini yang aku rasakan.

    i love this! i love this!

    *ngerasa dapet temen*

    Masalahnya aku mau pacaran dulu. Pacaran itu khan sudah mengikat. Coba kalau mau pergi ke sana- ke mari pasti harus minta ijin. Belom nanti si doi cemburu. Belom lagi kalau sudah dilamar, calon mertua ikut campur. Pusing dah.

    Jadi buat apa sekolah lama-lama kalau kita ngak bisa ngrasain hasilnya.

  19. Nah ini, seburuk-buruknya anak itu sebenarnya khan yang salah ortu or sekolahan alias pendidik. Karena mereka tidak mau tercoreng padahal sudah makanya mereka cuci tangan…. inget anak itu “tabularasa” alias pencontoh yang baik, mereka ortu or pendidik tidak memberikan penjelasan yang cukup mengenai prilaku mereka, mereka menyangka ujian Ebtanas or ujian kenaikan tingkat itu hal yang sangat penting padahal ujian sebenarnya itu dateng setiap saat.

    Kalau mereka tidak dapat memberi dasar yang cukup maka hancurlaah semuanya, cukup sebatang korek untuk menghanguskan bangunan tapi membuat bangunan itu harus bertahun-tahun hingga kokoh, catik, menawan….

    Cari deh sekolah-sekolah prodigy, yang membentuk anak menjadi “wounder kid” alias belum dewasa tapi udah mengetahui banyak hal dan bisa menghadapi berbagai situasi lingkungan. Lihat aja di wikipedia dengan searchnya “childprodigy”…
    atau http://prodigyschool.wordpress.com/

    sayang kahn anak kita dibentuk jadi buruh, sekolah rata2x 12 tahun dan hanya menghasilkan buruh or pengangguran…. bukan jadi enterpreneur…

    Banyak juga yang benci dengan sekolah tapi mereka masih saja mensekolahkan anaknya di tempat or cara yang sama…. artinya mereka tidak bisa berbuat apa2x… makanya sekolah kita membentuk seorang penghapal bukan pemikir…

    Satu hal lagi yaitu gunakan namanya TAARUF bukan pacaran, pacaran khan banyak g bagusnya sampai ke bablasan, cari deeeh artikel or apapun tentang TAARUF….

    thanx

    http://fusion-kandagalante.blogspot.com

    Thank’s komentarnya

  20. Abdee said

    Teman Sekolah saya dulu persis kaya muridnya pak Sawali. Kurang sebulan kira2 sblum ujian, dia hamil. Padahal dia adalah Rangking 1 di Sekolah. Beruntung pihak sekolah ndak mempermasalahkan kehamilannya.

    But, saya tetap setuju. Sekolah adalah hak semua anak bangsa. Sehingga kalo seorang siswi hamil, saya lebih setuju untuk memberi dia kesempatan cuti hamil (misal setahun). Dan kembali bersekolah pada tahun berikutnya. (Kalau dia masih berniat sekolah).

    Ingat, dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa !

    Semoga saja banyak yang menyusul menjadi lebih arif dan bijaksana.

  21. ike said

    Hm,,artikelnya bagus dech
    Temenku juga ada yang hamil di luar nikah..smp kelas 3,,ujian kurang 2 bulan
    Trus dy keluar sekolah atau mungkin juga dikeluarin,,kurang tau juga sich..coz beda kelas tapi dy itu temen sd ku sama kelas 1 smp
    karena g’ sekelas jadi jarang ketemu
    denger2 yang ngehamilin itu pak lik nya
    Nikahnya g’ di rayain…temen2 g’ ada yang di undang..malu kali yaa…
    Usia 14/15 dach punya anak?? ich nyeremin banget
    bahkan sekarang aku hampir 19 az belum siap sama sekali…
    cos aku tau banget sulitnya ngurus bayi soalnya 1,5 taun kemaren aku dapet adik baru
    ikut bantuin ngurusin..repot banget :(
    Kadang aku kesel karena perhatian buat aku jadi kurang dan waktuku juga tersita buat ngurus adek..
    Tapi sekarang udah agak besar dan bisa di ajak bercanda.. bisa buat ngelepasin stresss :D
    Apalagi kata dosenku melahirkan itu sakit banget :)
    takuuut…pokoknya untuk sekarang belum siap dan pokoknya jangan kejadian sekarang coz masih pengen kuliah n cari pengalaman kerja
    ooo…iya lagi ujian nie do’ain dapet nilai bagus yaa :)

    Sudah terjawab sendiri khan masalahnya.

    Untuk masalah melahirkan: jika melahirkanya secara alamiah, memang sakit sekali. Sekarang sudah banyak tehnologi modern dengan anestesi peridural, jadi tidak terasa sakit sama sekali.

  22. Ah finally! judul tulisan ini sama persis seperti luapan marahku saat dulu mendengar berita-berita serupa. sekolah seharusnya lebih berpikir lebih dalam lagi, dan lain-lain yang sudah anda jelaskan.

    dulu pernah kedengar ada satu kasus lagi, sekolah mengeluarkan siswinya yang hamil karena diperkosa. salah apa gadis itu hingga harus dikeluarkan? gadis itu justru korban dan dia sudah melakukan langkah yang tepat untuk tidak melakukan aborsi. Suatu tindakan yang salah telah diambil pihak sekolah.

    mungkin anda pernah menonton JUNO? film remaja yang cukup bagus untuk ditonton. Ada hubungannya dengan tulisan ini.

    Di sini aku sekarang hanya nonton Film Cartoon di bioskop, karena anak-anakku basih kecil-kecil. Selebihnya enggak ada waktu lagi dan ngak punya cukup uang utk panggil baby-sitter utk menjaga anak ketika aku pergi malam.

  23. och4mil4n said

    Mbaaaaaaaaaak love u so much… halah

    Kenapa aku baru kesini sekarang yah :cry:

    Emang susah mbak, kalau saat SMP/SMA kemudian kebablasan hamil. Lebih repot dibanding ketika kuliah baru hamil. Meskipun pandangan orang sekitar sama aja sih.
    Aku cuma berharap. Besok2 gak ada lagi siswi2 hamil yang harus keluar dari sekolah. Atau kalau perlu ada sekolah khusus untuk perempuan2 yang mengalami hal itu. Kalau gak sekolah yah ada home-schooling aja buat mereka. Kasian kalau haknya mendapatkan pendidikan tidak didapatkan. Sementara pasangan lelakinya malah gak perlu sampai segitunya (kalau kasusnya sama2 anak SMA).

    *save as artikel ini*

  24. Boleh di cek kembali di P. Sawali, saya pasti masuk yang 10% komentator yang ndak setuju siswa dikeluarkan dari sekolah, karena fenomena beberapa tahun terakhir ini siswa saya yg hamil hampir tiap taun terjadi.

    Terima kasih komentarnya.

  25. Mrs. Intan said

    Waduh,…
    Sebagai guru dan manusia berjenis kelamin perempuan, saya sangat tidak setuju bila ada siswi hamil di luar nikah truz dikeluarkan dari sekolah. Alangkah baiknya bila ada kebijakan yang ber-out put “simbiosis mutualisme”
    Sex Education memang sangat diperlukan dalam dunia pendidikan. Sudah banyak sekolah yang memasukkan Sex Education dalam kurikulum belajar. Sebab fenomena yang terjadi masa remaja bukan hanya hamil di luar nikah. Sepanjang taun 2008 ini, saya menemukan beberapa gejala dan pernah memergoki siswa saya yang duduk di bangku kelas 2 SMP, sedang melakukan oral dengan teman sesama jenis, di toilet sekolah!

    Aduh pusing deh! Jadi bikin takut aja nih!

  26. che gunkxi said

    Di tempatku juga pernah ada kasus kayak gini.. Aneh!!
    Orang mau belajar koq dijegal! karena hamil katanya! ANEH!!

    Memang semuanya harus berubah.

  27. kalau aku sih setuju siswi hamil harus dikeluarkan tapi jangan hanya siswi hamil tapi juga yang menghamilinnya. Biar orang tua pada jera dan merhatiin anaknya lebih seksama.

    Lagipula kalau mau belajar gak harus di sekolahkan tapi bisa dr internet, tv, radio, perpustakaan…
    Gak usah bingung laaah….

    Lagipula sekolah yang ada tidak mampu membuat anak itu tambah maju siiih, lihat aja moralnya dan juga iptek nya yg hanya dijadiin untuk buruh2x…
    cara berfikir mereka tidak efektif dan efisien…
    jadi tar lulus, selamat datang pengganguran…

  28. cocorbebek said

    CAPE JUGA SIH BACA ARTIKEL MBAK, TP SELESAI JUGA. KALO GUE SIH SETUJU WANITA HAMIL DIKELUARIN DARI SEKOLAH, BIAR KAPOK ! EMANG DI INDONESIA DITERAPKAN WAJIB BELAJAR, KITA JUGA HARUS MENTAATI PERATURAN-PERATURAN SEKOLAH JUGA. KALO SATU SEKOLAH WANITANYA HAMIL SEMUA GIMANA ? TRUS MELAHIRKAN, BEDA TANGGAL DOANG GIMANA? HARUSKAH WANITANYA CUTI SEMUA ? ATAU SEKOLAHNYA DITUTUP SEMENTARA?

  29. habsy said

    Y ampun Deh . . :-l
    aq STuju ama MBAK .
    Knapa musty kluar or DIKELUARIN??
    Kaya yang ngluarin org yg paling SUCI sajjah .
    brdasarkn pmikiran yg jernih .
    itu g 100% ksalahan MEREKA .
    Mereka hanya sedikid terjerumus sbagaimana dikatakn setan yg tiada henti^ nya menggoda manusia .

    perlu di ingat bhwa mreka sumber daya manusia yg patut dilestarikan dan budidayakn .
    pantes indonesia tdk maju .
    org masalah kaya gni aja nyelesein nya smrawut .

  30. mia said

    Makasi lo mba artikel nya .. ..
    Jujur saja saya lagi search matter untuk debat saya tentang perihal ini
    Dan artikel mba ini bner” mmberi saya banyak inspirasi
    Tapi ada beberapa hal juga mba :
    1. Sekolah kan juga mempunyai peraturan masing” , sya kira seharus nya skolah juga tidak main mnjatuhkan hukuman bgitu saja , harus dilihat dr potensi anak itu sndiri apakah mmpunyai potensi untuk menjadi sukses ato tidak
    Tapi memang smua warga indonesia mempunyai hak untuk sekolah , saya sndiri sbg murid sma heran ( atau blm merasa suka mncari perhatian dsb ) sya heran sndiri , jika mreka punya waktu luang untuk berpacaran yg justru kurang penting
    Knpa mreka tdk menghabiskan waktu mreka utk blajar hal” lain spt bermain musik , mlukis , blajar bahasa asing , keterampilan yg bisa digunakan sbg option kedua jika mreka tidak bs mneruskan skolah

    Spt itulah tanggapan saya mba ..
    Hehe maaf jika bahasa nya sdikit acak”an dan susah dimengerti

  31. […] Siswi hamil harus tetap bersekolah […]

  32. kit kecemasan iklan duit cepat mudah…

    […]Siswi hamil harus tetap bersekolah « AKU[…]…

  33. dina rahayu said

    tulisannya bner” bagus..
    bener” menginspirasi..
    sya stuju kalau siswi hamil tetap diperbolehkan sekolah, karena setiap orng berhak mendapatkan pendidikan..

  34. Jadi dirimu sendiri agar ketika seseorang mencintai kamu tak perlu takut jika dia akan temukan dirimu bukan orang yang ingin dia cintai.

  35. Jika bertanya jangan mendiktekan jawabannya agar informasi baru bisa bertamu.

  36. Sabina said

    semoga ini menjadi masukkan dan introspeksi kita semua

  37. Bejo said

    Harusnya ada sekolah khusus ibu ibu, eh siswi-siwi hamil, soalnya kan aneh juga kalo dikelas ada siswi hamil ikut sekolah, mau olah raga, ngidam, mabok mabok di kelas, kan gak lucu. Sebenarnya sekolah juga bingung alias dilematis, mau dikeluarin kasihan, kalo tetap sekolah dalam keadaan hamil, apa kata dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers

%d bloggers like this: