AKU

  •  

    October 2009
    M T W T F S S
    « Aug   Mar »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Blog Stats

    • 243,619 hits
  • Top Posts

  • a

  • Spam Blocked

Archive for October, 2009

Baca komik koq dilarang? (Mengubah pola pikir kita)

Posted by juliach on October 23, 2009

Setelah sekian bulan bergumul dengan Facebook hingga blogku tersingkirkan, aku merasa geli dan merasa aneh. Aneh bukan main … entalah apakah kalian yang di Indonesia sudah berubah banyak … ataukah akunya yang berubah banyak …

Yang aku banyak lihat di situ : mendapatkan gelar “Master” itu menjadi standar yang baru untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Makanya, rata-rata orang tua mendorong-dorong anak-anak mereka untuk belajar-belajar dan belajar terus lebih giat lagi. Sayang sekali, mereka lupa siapa dirinya, anak-anaknya, bagaimana dirinya dan anak-anak mereka pula.

Jika aku melihat diriku sendiri, aku sudah malas belajar dengan duduk manis di kampus. Padahal aku ini termasuk orang yang jauh dari standar debil … tetapi aku sekarang lagi belajar kehidupan sehari-hari. Aku belajar membaca cerita berbahasa Perancis dengan intonasi yang benar seperti guru TK ataupun pembaca buku bacaan anak-anak di Perpustakaan Daerah di kotaku Le Creusot … mumpung mempunyai anak balita … Kapan lagi sih aku bisa mendengar dan membaca seperti mereka?

Aku belajar photography … yang sensenya lain dari orang-orang Indonesia kebanyakan … jadi sekarang aku sering mengunjungi museum/istana/gedung tua untuk belajar motret seperti gaya-gaya orang Eropa (=tidak ada orang yang mejeng). Aku lebih rajin mencoba beberapa foto art nude/telanjang , yang ternyata susahnya setengah mati. Objek foto telanjang dari semua bentuk orang dewasa … aku harus main cahaya, ekspresi, … belum lagi judulnya. Pekerjaan yang tidak gampang!

Aku juga belajar bergaul seperti orang-orang Eropa. Supaya tidak berkesan, kalo ketemu saat butuh saja.

Yang paling penting, aku belajar memasak. Ini kebutuhan utama: mengenai hidup dan mati. Aku pun belajar bergaya hidup seperti orang Eropa, mis: mencari bahan makanan yang hidup secara liar. Ini sangat mengasyikan, kami keluar berjalan-jalan bersama beberapa orang ke hutan atau ladang untuk memetik bahan makanan itu. Ya sedikit olah raga, sosialisasi, dan kita makan gratis. Bahan makanan gratis itu: seperti salade, buah-buahan (cherry, arbai, murbai), biji-bijian, jamur. Hati-hati yang aku sebut terakhir itu: memang harus belajar benar-benar, sebab ada jamur yang bisa dimakan, ada pula yang beracun dan ada pula yang mematikan. Yang ini perlu buku panduan atau pergi bersama orang yang mengetahui secara pasti. Atau hasil yg sudah kita petik, kita bawa ke apotik utk ditanyakan.

Untuk kembali ke kampus seperti yang diinginkan oleh kedua ortuku itu jauuuuhhhh sekali dengan kenyataan hidupku sekarang ini. Di samping banyak sekali pekerjaan-pekerjaan sepele menurut kalian, seperti menunggu Inès melakukan aktifitasnya setiap hari Rabu, seperti: piano, berenang … terlebih lagi photography … belum lagi jika dia libur sekolah: kami bertiga termasuk Vicky: memasak, bersih-bersih rumah, jalan … ataupun berkebun bersama. Ini semua, bagi kalian yang hidup di Jakarta, pekerjaan ini sudah dilimpahkan semuanya kepada asisten. Tentu saja tidak semua orang, tapi hampir semuanya.

Minggu lalu, setelah mengikuti club berenangnya, Inès menghampiriku dengan terjun masih dengan gaya “bebek buruk” nya menghampiriku … lalu memelukku, sambil menciumiku … Aku kaget sekali … hingga hampir tenggelam bersama di kolam renang yg dalamnya 2,5m. Setelah aku ajak ke pinggir, Inès pun masih menciumiku dengan tertawa gembira dan katanya bahwa aku ini termasuk ibu yang strick dan menjengkelkan, tetapi aku punya alasan yang kuat. Dia sangat gembira, sekarang ini dia sudah bisa berenang 25m + terjun ke air … Apakah liburan panjang tahun depan kami bisa menyelam bersama dan memotret, lanjutnya. Ok … tak menjadi masalah sayangku … tinggal kita hidup berhemat lagi. Sekarang ini finansial harus di setting ulang. Otak dan kemampuannya sudah ok_lah ya.

Sudah beberapa hari ini, Vicky memintaku mengambar “un rat” alias “tikus werok” yang berlari sangat cepat, … yang bercerita, … yang bikin ribut, … Nah tuh! Maka pekerjaanku sekarang ini mengambar “Tikus Werok” terus … berharap aja dia bosan … ternyata tidak … jika dia keceduk meja, dulu-dulu bisa langsung diam jika aku kasih minum “Coca…” sekarang tidak. Dia baru bisa diam cepppp … jika aku tawarkan utk mengambar “Tikus Werok keceduk meja” … hahahaha … imaginasiku sekarang sudah seperti anak balita saja.

Aku pikir jika hal-hal ini aku serahkan kepada asisten, apakah banyak asisten yang super kreatif? So pasti ada, tetapi tarifnya super mahal sekali. Aku pun harus bekerja keras untuk bisa menghidupi diriku dan membayar asisten itu … tentu saja asisten itu gajinya +/- 1 200€ brut/bulan dengan jam kerja 35jam/minggu … overtime ya harus ++. Tidak hanya itu saja … yang jelas aku kehilangan kesempatan emas utk mengetahui perkembangan anakku secara detail.

Yang membikin aku sangat geli sekali, ketika dia memintaku mengambar tikus werok. Ya … sudah aku tawarkan gambar bebek aja … kelinci saja …. atau apa saja yang lucu-lucu … tetapi Vicky malah berteriak dan ngambek … maunya tikus werok. Gara-gara itu, aku harus mencari-cari idea utk mengambar tikus yang lucu. Terkadang aku mengajak Si Vicky ke Perpustakaan … utk baca-baca … dan mengambar mencontek dari buku bacaan yang ada. Masih pula membeli buku-buku bacaan anak … dari yang harganya murah di NOZ (tapi barang itu sebenarnya mahal, karna sudah kadaluarsa …. hahahaha … buku ada yg kadaluarsa ya …), buku-buku bekas di pasar loak (karna buku-buku ini sudah tidak terbit lagi, atau barang koleksi seperti komik Tintin, Asteric, …) hingga yang harganya lumayan mahal buatku: buku keluaran baru … yang aku sendiri tertarik membelinya. Super lucu sih! Jadi harga 6€ untuk buku yang super kecil … hingga 30€ utk buku berukuran 25cmx25cm 20 halaman maksi …

Sejak kelas CP (=kleas 1 SD) Inès sudah diwajibkan membaca minim 1 komik dan 1 roman setiap tahunnya. Sebagai bukti bahwa dia telah membaca kedua buku itu, maka dia harus membuat ekspo dengan mengambar, theatre ataupun rangkuman. Aku sempat kaget waktu itu … hampir tidak setuju … tapi dia menerangkan bahwa ini wajib dibaca 2 halaman/hari … kalo bisa 2x sehari … kalo bisa ditirukan percakapannya … hahahaha … lucu juga caranya mengajar di sini ya? Semua ini mengubahku dan ternyata belajar dengan sesuatu yang menarik … lebih gampang diserap dan diterapkan.

Lain lagi dengan sepupuku di Indonesia, dia masih kelas 2 SMP. Sewaktu kecil, aku tahu anak ini termasuk gendut, super aktif dan super nakal. Nilainya di sekolah hanya pas-pasan untuk naik kelas, itu pun sudah dibantu dengan les tambahan. Sering kali kedua orang tuanya tobat setelah tak berkuasa/tak punya ide lagi untuk marah-marah, tapi tetep juga marah-marah setiap hari. Sekarang ini dia sudah agak kaleman … tapi hobinya yang masih bikin semua orang pusing kepala: membaca komik.

Suatu saat dia berteriak di statusnya di Fb: “Tolong kasih tahu kalo ada komik onlen!” … terbelalaklah aku saat membaca komentar-komentar yang ada … ada yang nyindir:”Apa dengan membaca komik terus, dia bisa berhasil jadi orang?”… ada yang minta untuk berhenti membaca komik … ada yang mengingatkan harus belajar … dan sedabreg lagi deh yang bikin aku tertawa ngakak.

Aku pikir betapa cupetnya pemikiran orang-orang ini. Apakah dengan mendapatkan raport bernilai baik rata-rata 7, seorang anak bisa sukses menjalankan kehidupannya kelak? Apakah dengan nilai raport yang hanya rata-rata 5, seorang anak akan mendapatkan kehidupan yang pas-pasan saja?

Di sini aku harus membuka mata hati dan mata pikiran kita semua: bahwa dalam kehidupan sehari-hari tidak semua orang yang mendapat nilai rata-rata 10 selalu sukses dan kaya raya. Tidak juga anak yang tadinya tidak bisa berhitung, bakal menjadi orang yang miskin.

Aku mempunyai teman (dari saudara bekas istrinya bekas suamiku). Namanya Jerome Bruandet. Dia tidak pernah mempunyai ijasah SMA, berhitung aja: 9X5 harus memakai kalkulator, tetapi dia tidak pernah hidup di kolong jembatan. Orangnnya sangat sederhana sekali, cool habis. Jika ke Indonesia, banyak orang yang mengkatagorikan turis kere. Tetapi kita semua salah terka. Dia itu pengarang/pembuat/konseptor buku cerita anak-anak dari 1th (6bulan) hingga 5th. Bukunya lucu-lucu, jangankan anak-anakku, aku pun suka membacanya dan bermain dengan buku-bukunya itu. Setiap kali ke Indonesia dia selalu menginap di hotel kecil dan tipik masyarkat Indonesia, kalo bisa menginap di rumah penduduk. Dari situ dia bisa kontak langsung dengan masyarakat kita. Ini menambah wawasannya utk mengarang cerita. Sekarang ini dia mempunyai pabrik percetakan di Thailand dan Cina. So dia sangat menikmati perjalanannya dengan duduk di klas bisnis jika di udara dan klas apa saja jika di darat. Bersamanya, kami sering balapan becak di Solo pada jam 4am, yang mana kami yang mancal becak, dan sopir becaknya yang numpang sambil berteriak-teriak.

Prestasinya yang lain: dia mendapat penghargaan I dalam festival international buku anak di Milano (kalo ngak salah tahun 1999), begitu juga di Franfurt … dia pernah mendapatkan kontrak utk membuat maket peugeot sport. Bukunya tersebar di penjuru dunia bahkan di Arab … sayang untuk Indonesia dia menghindar karna banyak pembajak.

Kembali membahas komik, tak ada salahnya anak-anak itu membaca komik. Sebaiknya kita temani dalam membaca komik. Jika bisa, setelah mengerjakan PR, dia berhak membaca beberapa halaman komik. Percakapan dalam komik bisa juga kita peragakan. Aku pikir ini sangat menarik sekali. Setelah membaca berulang kali sebuah komik, kita bisa membuat ringkasan dengan beberapa baris rangkaian kata-kata atau pula dengan melukis. Kita bisa juga membuat komik kita sendiri di buku tulis/gambar atau membuat film sederhana dgn menggerakan gambar komik itu.

Tentu saja semuanya yang di atas harus didampingi oleh orang tua. Hal ini anak-anak akan sangat senang sekali. Kita juga tidak perlu kawatir dengan masa depan anak-anak kita, karna banyak pekerjaan di masa depan yang sudah menunggu, seperti: penulis/pengarang/pelukis/konseptor buku, animator film kartun, …

Sudahkah kita semua meluangkan waktu untuk membaca komik/buku cerita bersama anak-anak kita?

Posted in Uncategorized | 50 Comments »

I’m an alonesome “Call Girl”

Posted by juliach on October 21, 2009

Hati-hati bila berhadapan denganku … karna aku tidak suka sama orang-orang penjilat pantat … pantat bos, president … apalagi pantatnya Tuhan … Dengan orang-orang semacam ini aku biasanya bicara blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Aku tahu ini tidak diplomatik sekali. Apa boleh buat daripada aku muntah di mukanya … hahahaha … ini lebih parah!

Ada teman lama yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak bertemu. Dia terheran-heran ketika mengetahui bahwa aku mempunyai 2 orang anak yang sangat lucu dan imut-imut. Kenapa? Apa aku ini sangat jelek/buruknya sehingga ngak ada laki yang tergila-gila dgnku? Bukan begitu, tapi aku ini sangat eksplosif … boum … kayak bom aja deh.

Ah … dia tidak tahu kalo aku ini cantik dan seksi sekali. Dia tidak tahu jika aku ini pecinta yang sangat besar … hatiku sangat besar … segini … segini … segini … Aku rasa dia tak mau mendekapku karna dia ini takut jika tidak berseragam seperti yang lainnya. Dia takut diolok-olok oleh teman-temannya. Dia takut … dia takut … dia takut …

Ada teman … aku pikir banyak teman yang mengatakan kalo aku ini orang gila.

Aku tak menyangkal itu … memang aku ini orang gila. Orang waras kalo menggantikanku menjalani liku-liku kehidupanku sudah tidak lagi menjadi gila … tapi mati bunuh diri. Lebih baik disebut “orang gila” ya? Gila! Gila! Memang gila aku masih bisa berdiri dengan kakiku sendiri…Aku tahu tak ada orang yang rela meminjamkan kakiknya supaya aku dapat berdiri lagi …

Orang tidak memandangku karna aku tidak beride, berpakain, … berperilaku sama seperti yang lainnya. Mereka hanya mampu mengenali seseorang hanya dari pakaiannya saja …

Tetapi aku mampu mencintai semua orang bukan anjing yang hanya bisa menggonggong dan menggigit. Aku mampu memberikan hatiku Aku akan melakukan apa saja untuk orang-orang yang aku cintai … aku akan melakukan apa saja terhadap sesamaku manusia … bagi para kunyuk, babi, anjing … tolong jangan dekat-dekat aku! Aku tahu mereka akan berakhir di tungku api.

Mungkinkah aku bodoh? Haruskah aku belajar berhitung lagi? Apakah 1+1=2?

Tidak … tidak … aku sangat bahagia jika aku dapat membahagiakan seseorang … selayaknya seorang call girl yang sangat bahagia setelah menservis kliennya … tapi aku bukan pelacur karna aku tidak menerima sepeser pun. Bodohkah aku?

If you need me, just call on me and I’ll be there! If you arrive in Le Creusot, you just call on me and I’ll be in TGV station to pick you up. If you need a place to sleep, just call on me … I’ll arrange for you… I’ll make the best for you … I’ll make you smilling … I’ll make you happy …

Sayang beberapa hari satu-persatu orang pergi meninggalkanku … tak seorang pun berani memperjuangkanku … so I had to take a walk alone … and alone again … Oh … I’m a poor call girl … ups cow girl …

Malgré tous ça (karna itu semua)… I was very happy that I could stop in KFC Dijon to take a big box for my little lovers … I let them all the day in Le Creusot…

Posted in Uncategorized | 12 Comments »

Saling belajar & mengajar (mengubah opini bangsa)

Posted by juliach on October 8, 2009

Apa yang sangat khas di kalangan orang Indonesia?

- Jawab: Jenjang

Jenjang?

Yak betul sekali, jenjang sosial/ekonomi, jenjang karir, jenjang pendidikan, dan sebagainya dan sebagainya. Pokoknya semua bertingkat … semakin tinggi tingkatan kita, semakin kita diperbolehkan bertepuk dada …”Oiyaaaa …Iyoooo … ” seperti Tarzan … ataupun “Kowarrrrrrr …” seperti si Kingkong di atas puncak Empire State Building.

Oleh sebab itu, sejak bayi kita … malah sejak janin … sudah diajak memasuki lingkaran kehidupan itu … iya dong. Coba kita tengok ke belakang dikit, saat kita (kaum perempuan) atau istri kita hamil, konsultasinya aja harus sama dokter yang top … gak sembarang dokter loh yang menanganinya … Kemudian, ketika anak udah berumur 3th, buru-buru kita memasukan anak ke sekolah … playgroup lah … dengan harapan anak kita nanti lebih matang, lebih bersosialisasi, … sampai-sampai ada yg membuatku geli: supaya pinter! Halah … belajar keplok aja harus keluar duit banyak … hahahahaha … kalo ibunya berkarier, kayaknya radi-radi dimaklumi walo ngak terlalu tepat … sebab anak Indonesia sudah didik sejak dini patuh terhadap orang tua … artinya orang tua mo apa, anak harus “inggih” alias “iya” saja. Tak boleh anak protes atau ngajari orang tua, kata orang tua “Itu anak Durhaka!”. Namun jika ibu ada di rumah … koq terlihat aneh!

Dan seterusnya … hingga jenjang itu bertambah tinggi … dan tinggi sekali … sebab akan bertambah lebih baik dan jauuuuhhhh lebih baik … sedemikianlah maka kita dapat berkoar-koar memberi: aba-aba, perintah, saran … semakin tinggi kita berdiri, semakin banyak orang mendengar kita … yang membuat kita susah mendengar orang lain …

Waktu aku masih remaja dan waktu itu tinggal dengan nenek, aku sering disuruh-suruh. Aku tidak bisa berpendapat apa-apa … atau susah untuk pergi bermain atau keluyuran yang dianggap itu tidak berguna sama sekali. Tugas yang paling tidak aku sukai adalah memindahkan nasi dari rice cooker ke cething (tempat nasi). Lalu aku usul,”Bagaimana jika nasi ini diaduk aja lalu ditaruh langsung ke atas meja?” Spontan deh si Eyang itu ngamuk. Sehingga aku mengurungkan niat baikku itu dan aku langsung tuang nasi dari kuali rice cooker ke cething, baru aku aduk-aduk nasi di cething … biar kelihatan seperti biasa. Pekerjaan ini aku lakukan tiap kali sampai suatu hari Eyangku tahu cara kerjaku yang sangat effective dan effisien itu … menurutku. Meledaklah amarah Eyangku … yang membuatku sangat eksplosif juga “Ya udah eyang kerjain aja sendiri … aku mah ngak sanggup lagi …” Aku pun pergi mengambil sepeda … dan pergi jauh … jauh …

Itu pula dengan metode mencuci piring dan baju … menurutnya piring/baju supaya bersih harus menggunakan banyak sabun dan air … padahal itu tidak benar sama sekali! Menurutku, harus dgn air panas + sabun + jeruk nipis (yang waktu itu banyak di kebun) dan dibilas dalam air bersih sekali aja.

Rupa-rupanya tak seorang pun mampu mendengar pendapatku yang sangat genial itu. Karna budaya bangsa Indonesia mengatakan bahwa “anak harus patuh dan mendengar kata-kata orang tua dan sebaliknya orang tua harus membimbing dan memberi nasehat ke pada anak-anaknya” TITIK.

Lain lagi di mana aku tinggal sekarang, bahwa anak berhak berbicara dan protes … makanya “Perancis itu negara nomer I dibidang protes dan mogok kerja di dunia” hahahaha … Mungkin untuk kebanyakan orang tua di Indonesia … kehidupan di sini agak aneh … tetapi menurutku tidak. Sekarang Inès, anakku sudah agak besar … yang sejak di TK aku banyak bertanya khususnya mengenai bahasa Perancis … yang lumayan susah. Akhir-akhir ini dia rupanya mengikuti hobby ibunya, keluyuran dan foto …yang membuatku sangat kaget sekali, dia itu mempunyai sense of art … yang membuatku sering berdiskusi bersama. Pastilah aku ngak juthek lagi mikirin ide-ide yang kadang menghilang begitu saja.

Di sini kita bisa liat bahwa anak-anak pun bisa memberi masukan dan menambah inspirasi kita. Tak salah jika kitapun belajar dari anak-anak, orang-orang yang berlevel rendah. Memang sih kalo sudah di atas itu susah membongkokan badan apalagi turun tangga 1 level saja … tetapi tak ada salahnya jika kita bisa … percayalah sangat mengasyikan sekali.

Siapa mau coba?

Posted in belajar, budaya, Catatan harian, Demokrasi, manusiawi | 18 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.