Saling belajar & mengajar (mengubah opini bangsa)
Posted by juliach on October 8, 2009
Apa yang sangat khas di kalangan orang Indonesia?
- Jawab: Jenjang
Jenjang?
Yak betul sekali, jenjang sosial/ekonomi, jenjang karir, jenjang pendidikan, dan sebagainya dan sebagainya. Pokoknya semua bertingkat … semakin tinggi tingkatan kita, semakin kita diperbolehkan bertepuk dada …”Oiyaaaa …Iyoooo … ” seperti Tarzan … ataupun “Kowarrrrrrr …” seperti si Kingkong di atas puncak Empire State Building.
Oleh sebab itu, sejak bayi kita … malah sejak janin … sudah diajak memasuki lingkaran kehidupan itu … iya dong. Coba kita tengok ke belakang dikit, saat kita (kaum perempuan) atau istri kita hamil, konsultasinya aja harus sama dokter yang top … gak sembarang dokter loh yang menanganinya … Kemudian, ketika anak udah berumur 3th, buru-buru kita memasukan anak ke sekolah … playgroup lah … dengan harapan anak kita nanti lebih matang, lebih bersosialisasi, … sampai-sampai ada yg membuatku geli: supaya pinter! Halah … belajar keplok aja harus keluar duit banyak … hahahahaha … kalo ibunya berkarier, kayaknya radi-radi dimaklumi walo ngak terlalu tepat … sebab anak Indonesia sudah didik sejak dini patuh terhadap orang tua … artinya orang tua mo apa, anak harus “inggih” alias “iya” saja. Tak boleh anak protes atau ngajari orang tua, kata orang tua “Itu anak Durhaka!”. Namun jika ibu ada di rumah … koq terlihat aneh!
Dan seterusnya … hingga jenjang itu bertambah tinggi … dan tinggi sekali … sebab akan bertambah lebih baik dan jauuuuhhhh lebih baik … sedemikianlah maka kita dapat berkoar-koar memberi: aba-aba, perintah, saran … semakin tinggi kita berdiri, semakin banyak orang mendengar kita … yang membuat kita susah mendengar orang lain …
Waktu aku masih remaja dan waktu itu tinggal dengan nenek, aku sering disuruh-suruh. Aku tidak bisa berpendapat apa-apa … atau susah untuk pergi bermain atau keluyuran yang dianggap itu tidak berguna sama sekali. Tugas yang paling tidak aku sukai adalah memindahkan nasi dari rice cooker ke cething (tempat nasi). Lalu aku usul,”Bagaimana jika nasi ini diaduk aja lalu ditaruh langsung ke atas meja?” Spontan deh si Eyang itu ngamuk. Sehingga aku mengurungkan niat baikku itu dan aku langsung tuang nasi dari kuali rice cooker ke cething, baru aku aduk-aduk nasi di cething … biar kelihatan seperti biasa. Pekerjaan ini aku lakukan tiap kali sampai suatu hari Eyangku tahu cara kerjaku yang sangat effective dan effisien itu … menurutku. Meledaklah amarah Eyangku … yang membuatku sangat eksplosif juga “Ya udah eyang kerjain aja sendiri … aku mah ngak sanggup lagi …” Aku pun pergi mengambil sepeda … dan pergi jauh … jauh …
Itu pula dengan metode mencuci piring dan baju … menurutnya piring/baju supaya bersih harus menggunakan banyak sabun dan air … padahal itu tidak benar sama sekali! Menurutku, harus dgn air panas + sabun + jeruk nipis (yang waktu itu banyak di kebun) dan dibilas dalam air bersih sekali aja.
Rupa-rupanya tak seorang pun mampu mendengar pendapatku yang sangat genial itu. Karna budaya bangsa Indonesia mengatakan bahwa “anak harus patuh dan mendengar kata-kata orang tua dan sebaliknya orang tua harus membimbing dan memberi nasehat ke pada anak-anaknya” TITIK.
Lain lagi di mana aku tinggal sekarang, bahwa anak berhak berbicara dan protes … makanya “Perancis itu negara nomer I dibidang protes dan mogok kerja di dunia” hahahaha … Mungkin untuk kebanyakan orang tua di Indonesia … kehidupan di sini agak aneh … tetapi menurutku tidak. Sekarang Inès, anakku sudah agak besar … yang sejak di TK aku banyak bertanya khususnya mengenai bahasa Perancis … yang lumayan susah. Akhir-akhir ini dia rupanya mengikuti hobby ibunya, keluyuran dan foto …yang membuatku sangat kaget sekali, dia itu mempunyai sense of art … yang membuatku sering berdiskusi bersama. Pastilah aku ngak juthek lagi mikirin ide-ide yang kadang menghilang begitu saja.
Di sini kita bisa liat bahwa anak-anak pun bisa memberi masukan dan menambah inspirasi kita. Tak salah jika kitapun belajar dari anak-anak, orang-orang yang berlevel rendah. Memang sih kalo sudah di atas itu susah membongkokan badan apalagi turun tangga 1 level saja … tetapi tak ada salahnya jika kita bisa … percayalah sangat mengasyikan sekali.
Siapa mau coba?



marsudiyanto said
Tulisan yang mantap…
Saya malah nggak memperhatikan jenjang2 karena dari kecil ketemunya ya gitu itu, sehingga terasa biasa.
Kalau kita jeli memang banyak hal yang hanya ada di Indonesia, celakanya lagi bukan membanggakan tapi malah membelenggu
sunarnosahlan said
penjenjangan itu kadang perlu, tapi kadang juga membingungkan
Toto said
Memang background budaya Indonesia dan Perancis beda. Its true kalau “jenjang” seperti yang mba ungkapkan memang kurang baik. Tapi seiring perkembangan, bangsa Indonesia juga sudah semakin kritis ko mba. Meski belum seperti di Perancis tentunya…
Tidak semua “jenjang” itu jelek. Unggah-ungguh anak terhadap orang tua adalah salah satu budaya yang baik, jadi meskipun kita menempatkan orang tua diposisi apapun (teman misalnya) tapi tetap harus dimengerti kalau mereka adalah orang tua kita yang kita juga mempunyai kewajiban terhadap mereka sebagai anaknya.
Vicky Laurentina said
Dear Julia, nampaknya perlu kita ingat lagi bahwa nggak semua baju boleh dicuci pake air panas. Ada beberapa baju yang jelas-jelas ditandai di merknya supaya selalu dicuci pakai air dingin.
P.S. Selamat datang di blog lagi, J! Ta’ kira Julia udah terlena di Facebook..
Ya betul … bahan dari sutra harus dicuci dgn air dingin … baik dgn mesin (hrs diset utk mencuci seperti tangan … jadi putarannya ngak cepat)
hehehehe ….ngak koq … lagi baca buku cerita tiap hari dan motret! Malah sekarang mo bisnis lagi.
suryaden said
setuju banget, harus bisa terbuka menerima ide baru yang kadang kala kebanyakan baik dan jujur…
Aribicara said
Nah, itu dia yang memang perlu dirubah oleh kita sebagai warga Indonesia. Dan melalui Blog semcam ini juga bisa dijadikan media untuk membuat opini publik yg mengomporin pembacanya.
*salut buat Mba Juliach yg walau ga di negeri sendiri masih perhatikan Indonesia
Salam
*Dah mulai ngeblog lagi ternyata
komuter said
@aribicara, diubah bukan dirubah
.
*kayak anak kecil mengkritik oreng tuanya …….. (maaf)
Eka Situmorang-Sir said
Hi hi mbak
Akhirnya muncul kembali…
anyway.. itu soal tradisi disini, namun soal belajar saya setuju bahwa kita dpt belajar dari siapa saja termasuk anak. Tderkadang kepolosan mereka juga naluri kritisnya itu bisa membangun dan memberi inspirasi.
salam,
EKA
cutemom16 said
sis juliach..ni cutemom… punya facebook ga???? add aku yah di gemala16@gmail.com. aku cari2 tp bingung namanya apa
sewa mobil di surabaya said
ide yang baru dan memang masuk akal untuk dicoba.
kerja keras adalah energi kita said
anak TK pun mengajarkan tentang kejujuran dalam bersosialisasi… liat mereka yg tak canggung meminta maaf setelah abis nyubit temennya… heeee
indra kh said
Terkadang karena terlalu asyik memikirkan jenjang hingga tidak sadar seseorang telah membangun kesenjangan yang jauh dengan sahabat atau saudaranya. Semoga tidak banyak yang sepereti tiu.
komuter said
bottom up,
jaman dulu dan jaman sekarang berbeda, yang jadi masalah adalah, kita sebagai orang tua jaman sekarang yang berada dalam peralihan tersebut. dulu waktu masih kecil tidak boleh punya pendapat, sekarang setelah jadi orang tua, anak-anak yang berpendapat. merasa tidak adil tapi …….
muhamaze said
belajar memang begitu, tak pandang usia, tak pandang level kemana kita belajar, dan siapa yang memberi pelajaran.. kita bisa belajar dari segala tetek bengek kehidupan…
mantap boss..
geRrilyawan said
sama juga seperti sistem pendidikannya…dimana pandangan bahwa guru selalu benar masih banyak diterpakan di sekolah-sekolah. jadi nggak membuka iklim diskusi, brainstorming atau tukar pendapat…
mudah-mudahan kita semua bisa semakin dewasa…
Nika said
Saya juga trmasuk yg suka ‘ngeyel’ mb. Dan paling benci sm bapak sy yg lebih ‘ngeyel’ lg. Thank God I am married.
Chongqing Escort said
Semua hal-hal postif yang sifatnya membangun harus kita terima
Watch Rules Of Enagement said
Belajar tak kenal kata berhenti..!